MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Hukuman Mati Untuk Mama Linda


__ADS_3

Mama Linda sedang duduk dengan wajah kejam di dalam selnya. Mama Linda ditempatkan di sel isolasi setelah barusan dirinya habis berkelahi dengan tahanan lain. Seorang sipir datang mengabarkan kepada mama Linda bahwa anaknya mengajaknya bertemu.


Mama Linda merasa senang karena anaknya masih mau menemui dirinya. Mama Linda dibawa ke ruangan tempat jenguk tahanan. Mama Linda sangat terharu melihat kedatangan Alzam. Namun ia lihat, Alzam datang tidak membawa apa-apa. Biasanya datang bawa makanan enak.


Kemudian, mama Linda duduk di kursi depan Alzam. Mama Linda meraih kedua tangan Alzam diatas meja.


"Nak, makasih karena kamu masih mau jengukin mama kamu?"


"Mungkin ini pertemuan terakhir kita mam sebelum mama dipenjara seumur hidup, habis ini aku tidak akan pernah sudi buat datang kesini lagi."


Mama Linda melongo terpukul mendengar Alzam bicara seperti itu.


"Habis ini kamu sama sekali tidak mau menengok mama kamu disini?"


Air mata keluar dari dalam kedua bola mata Alzam. Sebenarnya Alzam juga tidak tega karena biar gimanapun mama Linda adalah ibu kandungnya, tapi kebrutalan mama Linda benar-benar membuatnya benci dan kecewa.


"Bahkan Daffa sekalipun nak?"


Alzam mengangguk kemudian Alzam berdiri. Hari ini ibarat hari perpisahan Alzam dengan ibunya setelah Alzam memutuskan silaturahmi selamanya dengan sang ibu. Bukan karena Alzam anak yang durhaka, tapi karena ibunya begitu jahat kepada orang lain.


"Selamat tinggal mama," ucap Alzam lalu memeluk hangat mama Linda untuk yang terakhir kalinya.


Air mata mama Linda mengalir sampai bagian punggung Alzam. Sekarang mama Linda baru merasakan penyesalan yang teramat luar biasa ketika anaknya tidak sudi lagi berjumpa dengan dirinya.


Setelah itu, Alzam melepas pelukannya dengan mama Linda. Alzam melangkah pergi dari ruangan itu sedangkan mama Linda ingin berusaha mengejarnya namun keburu dicegah oleh polisi-polisi lain.


"Alzam!" teriak mama Linda putus asa.


***


Singkat waktu hari pernikahan Bandi dan Lisa tiba. Lisa tampil cantik bak putri kerajaan dengan balutan gaun pengantin yang menjuntai panjang dan mewah. Adiva tengah mengamati momen sakral hari ini dari atas kursi undangan. Alzam belum bisa datang karena bentrok dengan jadwal meeting penting.


Usai ijab kabul berlangsung, Adiva langsung berjalan berbaris memberikan ucapan selamat untuk pasangan pengantin itu.


"Selamat ya Lisa, selamat ya Bandi, semoga anak kalian twins," harap Adiva yang langsung disambut gelak tawa oleh Bandi dan Lisa.


Ketika Adiva sedang menikmati jamuan di meja para tamu, Lisa datang menghampiri Adiva.


"Beri tahu aku apa kelebihan dan kekurangan Bandi?"

__ADS_1


"Kekurangan Bandi adalah dia itu suka ngupil sembarangan. Dia itu kalau udah bucin pasti bakal bikin kamu ngelus dada. Pokoknya banyak sih tapi bukankah dengan kekurangan itu adalah suatu bumbu lezat yang bikin rumah tangga kalian akan semakin harmonis nanti?"


"Itu betul beb. Pokoknya do'ain aja yang terbaik buat pernikahan kami. Karena kita pasangan baru tentu aja kita akan meminta banyak wejangan dari kalian. Btw makasih ya soal jabatan besar yang diberikan oleh suamimu untuk suamiku?"


"Iya sama-sama beb. Yaudah, malam ini akan menjadi salah satu malam terindah dalam hidupmu, bukan begitu?"


Lisa tersipu malu, Lisa tahu apa yang Adiva maksud. Sedangkan Bandi tengah senyum-senyum ceria mendengar obrolan mereka berdua.


Adiva pulang ke rumah. Katanya malam ini mas Alzam mau mengajak Adiva datang lagi ke rumah mama. Rumah yang dulu menjadi saksi bisu penderitaan Adiva dan kematian kakaknya.


Malam ini, cuacanya cerah, rumah ini tampak masih sama saja. Tapi Alzam bilang bahwa dia ingin menjual rumah ini. Rumah yang penuh dengan berbagai macam kenangan ini.


"Kenapa kamu ingin menjual rumah ini mas, apa mama tidak akan marah?"


"Bukankah mama kita sudah mati?"


Jawaban Alzam membuat Adiva bingung, padahal mama Linda masih hidup di dalam tahanan. Tapi bagi Alzam, ibunya sudah lama mati.


"Terserah kamu mas,"


Dua minggu berlalu, diam-diam Adiva pergi ke suatu tempat. Suatu tempat yang dinamakan rutan. Adiva keluar dari dalam mobilnya dengan memakai kacamata hitam.


"Siapa ya?" tanya mama Linda bingung.


"Temui saja ayo," ajak sang sipir.


Betapa terkejutnya mama Linda ketika wanita muda yang ingin bertemu dengannya itu adalah Adiva.


"Adiva, kamu?"


Adiva mengangguk senang. Adiva lalu memeluk mama Linda.


"Apa ini sebuah mimpi?" tanya mama Linda terperangah.


Kemudian Adiva melepas pelukannya dengan mama mertua jahatnya itu. Mereka sama-sama duduk diatas kursi.


"Kamu masih sudi menemui mama mertua kamu yang penuh dosa ini?" isak mama Linda terharu.


Adiva mengangguk kemudian Adiva memberikan banyak makanan enak yang sudah disiapkan oleh Adiva untuknya.

__ADS_1


"Makasih sayang, mama kira kamu sudah nggak sudi lagi menengok mama? Maafkan saya? Sekarang saya benar-benar menyesal. Saya baru sadar betapa gilanya saya selama ini. Seandainya waktu masih bisa diulang, saya ingin memperbaiki semuanya!"


Adiva menangkap gestur yang tulus dari perkataan mama Linda barusan. Adiva yakin mama Linda telah benar-benar berubah.


"Aku yakin mama benar-benar telah berubah, kali ini aku yakin mam."


"Tapi mama sudah tidak peduli orang lain mau percaya atau tidak. Hanya Allah yang bisa menilainya dengan betul. Dia Maha tahu segalanya."


"Semangat ya mam. Mama selamat menikmati makanan ini, jangan lupa bagi-bagiin sama yang lain. Karena aku beli banyak buat mama."


Mama Linda mengangguk kemudian kembali memeluk Adiva. Mama Linda menangis pilu dalam dekapan Adiva. Seorang pendosa yang sangat menyesali perbuatannya dan sedang belajar bertaubat.


Dan Adiva ingin belajar gimana caranya supaya dirinya bisa lebih bisa memaafkan orang yang sudah bertindak terlalu jahat kepada dirinya.


Setelah selesai menjenguk mama Linda di rutan, Adiva sama sekali tidak menceritakan hal itu kepada Alzam. Adiva melangkah di depan rumah Alzam dengan gaya berjalan yang anggun.


"Habis darimana kamu sayang?" tanya Alzam didepan rumah.


"Gak darimana-mana mas. Kamu udah dua bulan loh ga jengukin mama dipenjara."


Alzam menghela nafasnya lalu memegang erat kedua bahu Adiva.


"Mama udah mati sayang, sudah jangan bahas dia lagi." jawab Alzam dan Adiva hanya mengangguk saja. Tapi Adiva bertekad kuat gimana caranya supaya Alzam mau ketemu sama ibu kandungnya lagi. Adiva sudah tahu kalau mama Linda akan dihukum mati bulan depan.


Kemudian mereka melangkah masuk kedalam rumah. Waktu terus berlalu, tidak terasa bulan sudah berganti lagi. Adiva sedang momong Wildan di taman rumah. Disamping itu Adiva juga memikirkan soal proses hukuman mati mama Linda yang akan berlangsung bulan ini.


Adiva mendengar ada suara mobil yang melaju lalu berhenti di depan gerbang. Sepasang kekasih masuk ke area taman rumah Alzam dan Adiva dengan penuh kegembiraan.


Mereka adalah Bandi dan Lisa.


"Hai beb!" sapa Adiva dengan nada tinggi sembari mengangkat salah satu tangannya.


Lisa yang sudah sangat kangen langsung memeluk Adiva. Selepas itu Lisa mengemban Wildan karena sekarang saking gemasnya Wildan sudah berubah menjadi tambah besar dan gemoy.


"Semoga kalau aku hamil, bayi aku nanti segemoy anak kamu ya beb,"


"Anak aku emang gemoy beb, aamiin." sahut Adiva mengaminkan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2