
"Ada apa sih, bibi! Saya gagal mulu nih mau cek kolong tempat tidur saya!" kesal mama Linda seraya berjalan menghampiri bi Turi.
"Lagian nyonya Linda sama non Amel ngapain mau cek kolong kamar? Nyari tikus?" tanya bi Sri gugup, sepertinya ada suatu masalah yang sedang terjadi dan diketahui oleh bi Turi.
"Ada apa sih bi?" tanya Amel bingung.
"Itu didepan rumah, ada orang-orang seram, kekar dan brewokan. Dia menghajar satpam penjaga sampai babak belur nyonya! Saya tidak tahu siapa mereka jumlahnya lima orang, tapi yang saya dengar, katanya dia cari tuan muda Daffa nyonya."
"Mencari anak kedua saya? Amel, ayo kita cek kedepan rumah!" ajak mama Linda sembari menarik pelan tangan Amel.
Wajah Amel tampak pelik dan mereka berdua pun pergi kedepan rumah dan saat mereka melintasi ruang tamu, mereka melihat ada bi Sri dan bi Inem yang sedang mengintip takut keluar rumah, dari balik kaca.
"Ada apa para pembantuku?" nyalang mama Linda juga panik.
"Itu nyonya, ada yang sedang mencari tuan muda Daffa didepan rumah. Semua pot kembang kesayangan nyonya sudah dihancurkan oleh mereka." jawab bi Inem sembari menangis.
"Astaga, dasar orang-orang bejat! Biar saya dan Amel yang akan menghadapi mereka! Anak saya masih kuliah, belum pulang juga sampai sekarang ini udah malam." kata mama Linda.
Namun Amel menarik tangan mama mertuanya sejenak, Amel takut kalau harus disuruh untuk ikut menghadapi mereka. Apalagi mereka berdua kan wanita, dan didalam kamar mama Linda, Adiva sedang merangkak keluar dari kolong tempat tidur.
"Aduh, aku harus buru-buru keluar dari sini! Kesempatan emas." gumam Adiva lalu berlari.
Mama Linda bisa mengerti ketakutan yang sedang dialami oleh Amel, apalagi tidak ada laki-laki lain lagi di dalam rumah ini selain satpam penjaga yang sudah babak belur tepar.
"Aduh gimana ini, yaudah mama telpon Alzam dan Daffa dulu. Sementara kita kunci pintu depan dulu ya." ucap mama Linda lalu membuka layar ponselnya.
Mama Linda menelpon Alzam dengan nada bicara yang sangat panik.
__ADS_1
"Ha halo nak? Halo Alzam? Kamu segera pulang ya, buruan! Ada orang-orang seram, barbar dan jahat didepan rumah kita nak."
"Apa? Mama yang tenang ya, kalian semua pasti akan baik-baik aja. Memangnya apa yang terjadi ma? Kenapa mereka bar bar didepan rumah kita? Saya akan segera mengirim sepuluh bodyguard untuk mengatasi mereka dan menjaga rumah kita."
"Buruan nak! Mama takut kalau mereka juga akan menyakiti mama, menyakiti Amel, satpam kita juga sekarang kasihan babak belur nggak berdaya nak, mama kasihan dan sedih banget lihatnya. Mereka itu, mencari Daffa nak. Mama nggak tahu Daffa ngapain sehingga mereka pada datang kesini!"
"Oh jadi mereka pada mencari Daffa ya? Awas saja nanti, akan saya tanyain anak ingusan itu berbuat apa, sehingga mengundang orang-orang seperti mereka datang ke rumah kita dan mengganggu kenyamanan. Mama tenang aja, tunggu, tidak lama lagi bodyguard kiriman Alzam akan segera datang."
"Iya nak, buruaaaan!"
Mama Linda mematikan sambungan teleponnya dengan AlzamĀ dan kemudian saling merangkul badan dengan Amel. Mereka takut saat mendengar suara pot-pot bunga kesayangan yang sedang dihancurkan oleh orang-orang misterius itu.
"Aduh, tidaak, bunga-bunga malang kesayangan mama..." isak pilu mama Linda dari balik pintu.
Bi Sri, bi Turi, dan bi Inem juga ikut melihat dengan wajah yang sangat ketakutan. Adiva juga didalam kamarnya sayup-sayup mendengar suara keributan yang sedang terjadi didepan rumah, Adiva penasaran akan apa yang sedang terjadi. Dirinya sedang duduk santai diatas kasur. Adiva lalu bangkit dan berjalan menuju kedepan rumah untuk melihat ada apa sih?
"Ada apa sih? Kok kalian semua kaya sedang panik gitu?" tanya Adiva penasaran.
Belum sempat bi Sri akan menjawab namun Adiva langsung dibuat terkejut dengan suara pecahan pot yang sangat keras dan bising. Halaman depan rumah sangat berantakan tak terkira.
"Hah? Apaan itu? Siapa yang lagi ngamuk didepan rumah kita?" tanya Adiva.
Adiva ingin membuka pintu depan yang dikunci dan mengecek orang-orang itu namun mama Linda buru-buru mencegah niat Adiva.
"Heh menantu jorok! Kamu mau cari mati ya? Jangan buka pintu!" cegah mama Linda.
"Emangnya mama masih peduli ya sama nyawa aku?"
__ADS_1
Mama Linda tampak ingin menarik kata-katanya.
"Ya... Hm... Kalau pintu dibuka nanti mereka bisa masuk dan kita semua para wanita akan celaka oleh mereka! Mama nggak mau ya gara-gara sok beraninya kamu jadi kita semua yang kena imbasnya!"
"Aduh, ngapain takut sih! Lagian mereka kan masih bisa mendobrak pintunya! Tenang aja kan ada aku, juara 1 lomba karate sekecamatan!" lantang Adiva dengan pede-nya, tangannya terasa sudah gatal karena sudah lama gak mukulin orang.
Adiva tetap nekat membuka pintu dan dibelakangnya mama Linda sedang berteriak "Jangaaan!"
Amel bertambah cemas, tampak semakin takut dan buru-buru berlari masuk kedalam kamarnya lalu mengunci pintu kamarnya dengan cepat, gugup nan cemas.
"Dasar ipar gila! Berani sekali dia menantang lima laki-laki kekar. Semoga saja dia mati babak belur deh." harap Amel penuh dengan aura jahat.
Adiva menantang dengan berani semua laki-laki sangar yang sedang membuat kekacauan didepan rumah.
"Heh! Dasar orang-orang gila, mengacau didepan rumah kita! Mau apa kalian! Lu lu lu lu lu pada kalau ada masalah sama orang, tapi kenapa bunga yang jadi sasarannya!" pekik Adiva sembari menunjuk satu persatu preman-preman itu.
Mama Linda dan tiga pembantu lain sedang mengintip aksi berani Adiva dari balik pintu depan rumah, bahkan mama Linda kemudian tega menutup dan menguncinya kembali.
"Loh kok malah dikunciin nyonya? Kasihan nyonya Adiva nanti kalau dia kenapa-kenapa, dia tidak bisa masuk kedalam nyonya." protes bi Sri.
"Udah deh pembantu sialan, kamu gausah banyak protes! Tunggu aja waktunya kamu celaka nanti!" ancam mama Linda sembari menunjuk nyalang wajah bi Sri disampingnya.
"Ya Allah, apa maksud nyonya Linda? Ya Allah, lindungilah nyonya Adiva." cemas bi Sri berharap didalam hatinya.
"Dasar anak ingusan ga nyadar lu ya! Lu cewek udah kurus, songong lagi! Berani lu nantangin kita-kita! Bisa apa lu hah!" bentak sang ketua preman.
"Ya berani lah! Lu pikir gue ga bisa ngelawan kalian hah! Kalian udah siap babak belur kah?" sahut Adiva sembari berkacak pinggang.
__ADS_1
"Idih, songong juga ni bocah. Hajar dia!" titah si ketua preman tanpa adanya rasa belas kasih kepada seorang wanita.