MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Diam-Diam Pergi Dari Rumah


__ADS_3

"Kenapa wajahmu seperti orang sekarat sayang?"


Adiva mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi normal lalu menjawab,


"Nggak apa-apa mas aku cuman lelah aja. Oh iya, aku bosen mas kalau dirumah terus? Keluar yuk sayang? Kita happy-happy di cafe, belanja baju baru di mall. Udah lama kamu gak manjain aku dengan menemani aku shopping mas?"


Alzam menggebrak meja kecil di samping ranjang, Alzam kesal karena Adiva terus saja merengek mengajaknya pergi keluar.


"Sejak kapan kamu suka shopping sayang? Udah dibilang diluar itu bahaya, masih saja ngeyel. Kamu mau apa, mau belanja? Mau makan? Beli online saja. Eh tapi, kalau beli online bisa-bisa makanan pesanan kita ada racunnya, jangan beli online, sebaiknya masak dirumah saja."


Adiva semakin pusing melihat kekhawatiran suaminya yang sangat berlebihan itu. Sampai segitunya khawatir mama Linda akan menghabisi Adiva.


"Mas, udah mas jangan ngomong apa-apa, aku capek melihat sikap khawatir kamu yang udah overdosis itu. Aku kebelet pup, tolong jagain bayi kita yak" titah Adiva dengan wajah malas kemudian berjalan cepat masuk kedalam kamar mandi yang ada didalam kamar mereka.


Alzam menengok kearah bayi imutnya yang sedang sibuk bermain dengan mainan kecilnya. Alzam tersenyum untuk baby W kemudian mengecup gemas wajah baby W selama beberapa kali. Suatu saat nanti bayi ini akan menjadi penerusnya kelak.


Satu jam kemudian, Adiva berjalan mengendap-endap di ruangan panjang atau bisa disebut koridor dalam rumah mereka. Adiva celingukan ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, takut langkahnya dipergoki oleh sang suami.


Hingga akhirnya Adiva berhasil melangkah sampai di pintu depan. Adiva mengeluarkan sebuah kunci yang tadi dia ambil dari dalam lemari. Kunci itu akan ia gunakan buat membuka pintu depan. Namun aksi Adiva keburu ketahuan oleh bi Sri.


"Nyonya?" kejut bi Sri dari belakang Adiva.


Adiva terkejut lalu memalingkan wajahnya kepada bi Sri yang sedang bengong menatapnya.


"Bibi?"


"Eh mau kemana?" tanya bi Sri berbisik.

__ADS_1


Adiva menyuruh bi Sri buat bungkam.


"Ssssst, aku mau pergi sebentar bi keluar. Jenuh aku didalam rumah mulu, aku cuma mau keliling bentar kok naik taksi. Kalau pakai mobil di garasi nanti mas Alzam denger terus curiga deh. Tolong jangan beritahu mas Alzam ya bi?"


"Tapi gimana kalau nanti tuan Alzam marah? Bibi nggak mau lihat nyonya dimarahin sama tuan. Bibi mohon, tetap dirumah aja ya nyonya? Diluar kan nyonya Linda lagi jadi buronan, dia berkeliaran dimana-mana nyonya, bibi takut!" tukas bi Sri terus berusaha mencegah Adiva pergi.


Tapi bukan Adiva kalau kemauannya tidak terwujud, Adiva tetap saja nekat mau pergi.


"Pokoknya bibi nggak akan bisa cegah aku pergi. Cuma satu jam doang kok bi, nanti kalau mas Alzam nyariin bilang aja aku lagi healing ke dunia lain."


"Hah, ke dunia lain?"


"Yaudah, Assalamu'alaikum bi, miss you." ucap Adiva dengan nada ceria kemudian bergegas membuka pintu depan menggunakan kunci itu.


Bi Sri tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah, kemudian, bi Sri menutup kembali pintu depan rumah yang barusan dibuka oleh perempuan pemberani itu. Bi Sri berjalan ke ruangan lain dengan perasaan yang sangat cemas. Bi Sri takut Alzam marah besar jika tahu Adiva nekat pergi dari rumah.


Sebenarnya, Adiva juga ingin mencari mama Linda sih. Tapi dia entah ada dimana. Adiva berharap semoga matanya bisa menangkap sosok mama Linda dari banyaknya orang-orang yang ia lihat ada dijalanan ini.


Ketika taksi ini melintas didekat sebuah warung makan, Adiva menyuruh sopir taksi untuk berhenti sejenak, Adiva rindu makan mie ayam di kaki lima. Apalagi Adiva melihat warung mie ayam yang dulu adalah langganannya sewaktu masih kuliah.


"Bang Rizky?" sapa Adiva lalu menepuk bahu penjual mie ayam yang sedang sibuk mengulek sambel.


"Eh, ini siapa? Kayak kenal. Ini neng Diva ya? Yang dulu suka makan gratis tapi cuci piring disini, hahaha."


"Ih mang jangan ungkit aib aku dong, malu sama pembeli abang yang lain. Iih bang Rizky makin kiyut aja deh, dede bergetar melihatnya ih."


Bang Rizky mengajak Adiva buat duduk dulu sebelum makan mie ayam. Bang Rizky terharu karena Adiva masih ingat sama dia. Sudah satu tahun lebih tidak bertemu.

__ADS_1


"Sekarang neng Diva sudah berubah banget ya? Sekarang makin cantik, bajunya bagus, makin wangi, haruum! Uhuy."


"Bang Rizky bisa aja. Oh iya, dede pesan dua porsi ya?"


"Dede? Biasanya maunya dipanggil lu gua?"


"Biar makin kiyut abang, ih!"


"Yang satu lagi buat siapa neng? Kan neng cuma datang sendiri kesini? Oh apa neng mau makan dua porsi sekaligus? Hehehe,"


"Nggak lah bang, yang satu porsi buat si sopir taksi itu. Mas sopir, come here!" teriak Adiva memanggil sopir yang sedang menunggu bosan didalam taksi.


Mendengar gadis itu meneriakinya, sopir taksi itu bergegas membuka pintu taksi lalu melangkahkan kaki menuju bangku tempat dimana Adiva dan si penjual mie ayam sedang duduk.


"Ada apa mbak?" tanya sopir taksi itu penasaran.


"Mau makan mie ayam? Aku traktir deh."


Ditraktir, tentu saja sopir taksi tersebut tidak mungkin menolaknya. Apalagi, perutnya memang sedang keroncongan banget. Sopir taksi itu mengambil tempat duduknya sendiri kemudian bang Rizky mulai menyiapkan mie ayam untuk mereka berdua.


Adiva merasa bahagia dengan semua ini, melepas rindu sewaktu dulu masih jadi orang sederhana yang sering makan di tempat emperan seperti ini. Saat mie ayam itu sudah siap disajikan, Adiva mulai memakannya. Rasanya tidak banyak berubah bahkan jauh lebih enak.


Mie ayam ini adalah salah satu surga dunianya. Salah satu mie ayam terenak yang pernah ia makan didalam hidupnya.


"Delicious! Makanan murah yang harganya bersahabat dengan dompet-dompet mahasiswi. Hehehe, bang Rizky, pertahankan terus ya kualitas rasanya?"


Bang Rizky tersenyum sembari mengacungkan jempol.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2