MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Perjuangan Tersembunyi


__ADS_3

"Padahal aku bela-belain kesini nyamperin kamu, tujuannya buat membantu meringankan beban yang ada dalam pikiran kamu Amel. Tapi kamu malah membalas aku dengan kesombongan seperti ini? Yaudah lah, mendingan aku pergi aja ke kampus. Daripada nggak dihargai seperti ini. Dan selanjutnya,aku nggak bakalan sok baik lagi sama kamu." ucap Adiva sedih lalu pergi meninggalkan Amel.


"Lagian nggak usah sok akrab kamu sama aku! Sampai kapanpun, aku nggak akan sudi akrab sama orang yang kaya kamu! Cuih! Dasar ipar yang jorok, kere dan menjijikkan! Sok mau jilatin aku lagi mentang-mentang aku anak orang kaya! Nggak tahu malu!" maki Amel dari depan kursi putih di taman.


"Idih! Kepedean! Siapa juga yang mau jilatin orang kaya kamu! Mendingan jilatin es krim aja, rasanya manis nggak pahit! Kalau jilatin kamu mah pahit!" balas Adiva sembari berjalan dibawah pepohonan taman.


Adiva hanya menghela nafasnya sembari berjalan. Meski jengkel tapi dia tidak ingin membuat keributan kala pagi begini. Apalagi ribut dengan iparnya yang sedang bersedih, mendingan belajar aja sendiri buat menepis rasa emosi itu, kala rasa emosi itu sedang datang, akibat ulah dari orang lain, yang membuatnya emosi, Adiva akan belajar gimana cara mengatur rasa emosi itu supaya hilang. Daripada baku hantam atau membuat keributan. Itu tidak baik.


"Sabar Adiva! Kamu jangan gampang terpancing emosi!" kata Adiva dalam hatinya, menenangkan dirinya sendiri.


Waktu terus berlalu, tiga bulan telah berlalu, perut Amel perlahan membuncit karena janin yang ada dalam kandungannya terus membesar sesuai hukum kehamilan.


Mama Linda begitu senang saat melihat menantu kesayangannya hamil begitu cepat. Ia menganggap Daffa sangat tokcer hingga Amel bisa hamil secepat ini. Mama Linda juga menganggap Amel begitu tokcer dan mama Linda merasa sangat bahagia, tidak sabar menantikan cucu pertamanya akan terlahir ke dunia yang indah ini. Apalagi calon cucunya itu adalah keturunan dari kedua orang tua yang sama-sama berdarah biru.


Meski Amel sangat menderita dengan kehamilan ini tapi ia merasa sangat puas walau tiap hari ia harus memakai korslet, membuat ukuran perutnya terlihat lebih kecil. Karena sebenarnya usia kandungan Amel sudah lima bulan, tapi Amel membuatnya terlihat seolah baru seperti tiga bulan usia kehamilannya. Hal itu ia lakukan agar tidak ada yang curiga kalau sebenarnya ia hamil diluar nikah dengan Alex dan anak itu bukan anak Daffa.

__ADS_1


Amel berjalan menuruni anak tangga dengan cukup percaya diri. Anting bulat emas ia kenakan. Rambutnya sudah berubah warna lagi menjadi hitam kebiruan. Setidaknya, kehamilan ini tidak membuatnya terlalu menderita, justru malah membuatnya semakin disayang sama mama Linda. Semoga saja dia tidak tahu kalau cucunya nanti, sebenarnya bukan darah daging dari anaknya, yaitu Daffa.


Amel turun dari kamarnya, menyapa mama Linda yang sedang ngeteh cantik di ruangan santai. Amel menyapa mama Linda dengan begitu manjanya. Amel langsung minta, permintaan yang sangat ia suka kepada mamanya, yaitu shopping. Amel merasa ini adalah keinginan dari janin yang ada didalam kandungannya, kalau bayinya ngidam ingin neneknya mentraktir Amel shopping sepuasnya.


"Ma, belanja lagi yuk? Ini dede bayi minta mamanya dibeliin baju-baju baru lagi sama neneknya. Aku mau daster yang lagi hits itu loh, daster sultan itu ma? Ada di mall dekat sini tuh." rengek Amel minta dibelikan pakaian mahal yang ingin ia miliki.


"Ya ampun, dede bayinya nakal nih minta dibelanjain mulu mamanya, hahaha, yaudah, ayo sayang? Tapi sebelumnya kita pergi ke bank dulu buat ambil uang yang banyak sekali. Karena biasanya, kita kan habisin uang sampai puluhan juta buat beli baju-baju baru. Mama lagi pengen pakai uang kes."


"Apa nggak ribet ma? Tinggal pakai kartu kredit aja ih ngapain pakai ribet segala?"


"Hmm yaudah sayang tapi nanti kita perlu isi saldonya dulu ATM mama, karena saldo ATM mama yang seratus juta diisi minggu lalu aja udah mau habis. Nanti kita bisa ambil uangnya di mesin ATM dalam mall."


Diam-diam Adiva sedang memperhatikan wacana shopping mereka berdua dari tengah tangga. Adiva tidak sadar, karena sambil melamun juga, dirinya juga ingin diajak shopping bareng sama mama Linda. Tapi mama Linda selalu saja tidak sudi mengganggap keberadaannya. Tak terasa air mata mengalir di wajahnya yang sangar dan berani.


Adiva disadarkan oleh air mata itu, seolah memanggilnya untuk segera tersadar dari lamunannya. Tanpa ia sadari kalau dua wanita jahat itu sekarang sedang berdiri ketus didepannya langsung.

__ADS_1


"Hah? Sejak kapan kalian berdua berdiri didepan aku?" tanya Adiva kaget, baru tersadar akibat lamunan sedihnya tadi.


"Eeh, ada yang habis nangis nih? Kepengin ya mama ajak kamu shopping? Beli baju dan sepatu baru? Barang-barang branded. Nggak sudi lah ya, sayang, mendingan kamu dirumah aja. Bantuin tuh para babu buat masak, ngepel, nyuci, hahahaha, kamu cocoknya ada diposisi itu, tahu! Kuman! Hahaha." ledek Amel kejam sekali perkataannya.


"Nggak sudi lah ya, mama habiskan bahkan satu rupiah pun buat menantu kere ini! Mendingan mama habiskan harta mama buat kesenangan kita berdua aja. Hahahaha, sana ngepel!" pekik mama Linda seraya melotot lalu menarik Adiva kedepan. Hampir saja Adiva akan terjatuh dari tangga.


Lalu kedua wanita jahat itu kembali kedalam kamar mereka masing-masing. Mereka akan bersiap-siap pergi ke mall tanpa mempedulikan betapa nyeseknya hati si menantu lain yang baik hati itu, Adiva. Lagi-lagi Adiva tidak mau melawan karena ga mau ada keributan. Apalagi Amel sedang hamil.


Adiva teringat kalau siang ini dia harus mendatangi cafenya. Adiva udah janjian, ada seorang pengusaha muda yang mau mengajak bekerjasama dalam bisnis cafe yang diurus oleh Adiva. Selama beberapa bulan terakhir, Adiva mengurus cafe pemberian dari ayah Lisa itu, malah cafe yang sekarang diberi nama Adiva Caf itu semakin maju dan sering pengunjung yang datang, namun persediaan makanan dan minuman yang dijual sudah habis ludes.


Kata mereka, kali ini cafe itu melakukan perombakan dari segi menu makanan dan minuman yang memuaskan hasilnya. Dan itu semua adalah ide dari owner cafe itu sendiri, yaitu Adiva yang tak pernah mengenal lelah dalam belajar berwirausaha.


Namun Adiva masih merahasiakan soal bisnis-bisnis yang ia kelola kepada suami dan keluarganya. Bahkan, salon kecantikan milik Aina, yang sudah resmi menjadi milik Adiva bertambah maju. Tetapi Adiva selalu mengingatkan kepada para pegawai salonnya bahwa mereka harus menyembunyikan soal identitasnya sebagai pemilik baru dari salon kecantikan yang mewah ini.


"Selamat datang ownerkuu." sapa para waitres/waiterss di cafe Adiva dengan kompak menyambutnya kala sang owner sudah datang melangkah masuk kedalam cafe.

__ADS_1


"Hai, kalian yang semangat ya kerjanya. Bulan depan, saat gajian ada bonus loh yang menanti kalian." tutur Adiva menambah semangat kerja mereka saja.


Bersambung...


__ADS_2