MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Peristiwa Tragis Kematian Amel


__ADS_3

Amel berusaha meraih gunting itu dengan jarinya. Amel sampai berjuang ngesot-ngesot hingga akhirnya, ia berhasil meraih gunting itu. Dan tali yang mengikat tangannya pun terlepas. Amel tersenyum senang melihat ini semua, kemudian Amel melepas ikatan tali yang mengikat kuat di kakinya. Sekarang, Amel sudah berhasil melepas semua ikatan yang sedari lama mengikat badannya.


Bekas ikatan ini membuat bekas luka di kulit Amel. Sekarang giliran balas dendam kepada mama mertua jahatnya. Amel langsung menendang wajah mama Linda menggunakan kakinya sampai mama Linda terguling dari atas kasur lantai.


"Aaa!" pekik mama Linda terkejut.


Kemudian mama Linda bangkit sembari memegangi wajahnya yang terasa sakit akibat terkena tendangan kaki Amel. Mama Linda menatap Amel yang sekarang sudah berhasil melepas ikatannya. Mama Linda sangat terkejut melihat itu. Gimana caranya Amel bisa lepas? Perasaan ikatannya sudah sangat kencang.


"Sialan kamu, berhasil lepas! Saya akan menangkap kamu lagi dan mengikatmu kembali!"


"Gausah ngarep kamu mertua gila! Kali ini saya ga akan biarin kamu lakuin itu! Justru saya yang akan mengikatmu disini sampai kamu mati membusuk disini!" balas Amel menantang seraya menunjuk marah.


Mendengar ucapan menantang itu tentu saja mama Linda marah dan tidak terima dengan perkataan menantu yang sekarang sangat ia benci!


"Keterlaluan kata-kata kamu itu! Kamu itu adalah wanita yang sangat busuk! Saya sangat menyesal sudah jadikan kamu mantu! Kamu sama busuknya dengan Adiva! Tapi kali ini, saya benar-benar akan membunuh kamu duluan!" balas mama Linda emosi.


Kemudian mama Linda berlari kedepan sembari melempar balok kayu kearah Amel. Balok kayu itu tepat mengenai wajah Amel hingga hidung Amel terluka mengeluarkan darah segar dari dalam hidungnya. Darah itu terus mengucur tanpa henti. Sepertinya bagian hidung Amel terluka cukup parah. Bahkan rasanya Amel agak sulit buat bernafas.


Amel sangat shock melihat darah yang keluar dari dalam hidungnya, kemudian, mama Linda mendorong Amel ke tembok.


Namun Amel lekas melawan mama Linda dengan menyikut perut mama Linda menggunakan dengkulnya. Mama Linda kedorong ke belakang, perutnya terasa eneg. Namun mama Linda terus memperjuangkan kemenangannya dalam usaha menghabisi Amel.


Mama Linda mencakar wajah Amel lalu memukul perut Amel berkali-kali. Habis itu jambakan kasarpun ia lakukan di rambut indah Amel. Kepala Amel dijedotin ke tembok hingga Amel terjatuh tak berdaya. Amel sekarat diatas lantai. Tak dinyana malam ini, dia merasakan rasa sakit yang seperti ini. Melawan mama Linda ternyata sangat sulit.


Mama Linda melihat kondisi menantunya yang sudah sangat ripuh dan cukup mengerikan akibat siksaannya. Apakah Amel sudah mati? Ternyata Amel masih bisa bergerak yang menandakan kalau Amel itu masih hidup.


Mama Linda melihat sekeliling, kiranya ada sesuatu yang bisa ia gunakan buat mengakhiri kehidupan dari menantu yang ia benci ini. Gunting yang tadi Amel gunakan buat membuka ikatan talinya, mama Linda ambil, kemudian mama Linda menatap Amel sejenak sebelum melakukan perbuatan keji itu. Setelah siap, mama Linda menghabisi menantunya.

__ADS_1


Kepuasan mama Linda rasakan, kemenangan ia teguk dengan kuat. Meski usianya tak muda lagi, tapi dirinyalah sang pemenang dalam pertikaian tragis malam ini.


"Hahaha! Akulah sang pemenangnya. Darah yang membanjiri tubuhku. Aku begitu menyukai darah ini. Darah kekalahan dari orang yang paling aku benci!"


Mama Linda mengamati sekeliling bingung mau membuang jasad Amel dimana.


"Tapi aku harus segera kabur dari sini. Atau menyingkirkan jasad menantu sialan ini?"


Tiba-tiba kembali terdengar suara sirine mobil polisi. Mama Linda bingung harus berbuat apa, karena polisi-polisi itu datang lagi kesini.


"Sialan, mereka datang lagi! Aku harus segera kabur lagi lewat pintu belakang nih!" tukas mama Linda kembali gelagapan.


Saat Daffa dan beberapa polisi itu mendobrak pintu depan rumah bang Jaja, mereka langsung dibuat kaget dengan adanya jasad Amel yang penuh dengan darah segar. Lantai itu penuh dengan genangan darah. Lutut Daffa serasa lemas lalu ia jatuh bersimpuh melihat istrinya yang sudah tewas dengan mengenaskan.


"Amel?" panggil Daffa pilu kepada istrinya yang tampak sudah tak bernyawa.


Lalu dua polisi mengevakuasi jasad Amel, sedangkan dua polisi yang lain pergi memburu mama Linda. Mereka semua yakin mama Linda lah pelaku pembunuhan Amel. Daffa berjalan lemas tanpa ekspresi kearah mobil polisi. Daffa merasa sudah tidak sudi, sudah tidak ada rasa hormat lagi kepada ibunya. Karena ibunya sudah membunuh orang yang dia cinta. Bahkan sekarang, rasanya Daffa ingin menembakkan peluru kepada ibunya sampai mati.


Alzam terbangun dari tidurnya, ia seperti habis mengalami mimpi buruk. Adiva jadi ikut terbangun karena mendengar teriakan Alzam. Adiva langsung mengambilkan Alzam minum lalu menyuruh Alzam untuk meludah tiga kali kearah kiri.


"Mimpi apa mas?"


Alzam minum dulu baru menjawab pertanyaan.


"Barusan saya mimpi buruk!"


"Mimpi apa emang? Mimpi itu gak ada artinya kok. Kalau mimpi buruk itu datangnya dari setan. Mimpi baik datangnya dari Allah."

__ADS_1


"Saya mimpi kamu dibawa pergi laki-laki lain sayang!"


Adiva memutar bola mata malas mendengar mimpi apa yang barusan dialami oleh Alzam.


"Yaudah gausah dibahas, tidur lagi yuk yuk," ajak Adiva disaat Alzam yang masih tersengal-sengal saat bernafas. Segitu takutnya Alzam kehilangan dirinya, pikir Adiva.


Keesokan harinya saat Alzam dan Adiva sedang memandikan baby Wildan berdua, Tiba-tiba seorang pembantu datang mengabarkan kepada mereka, pembantu itu berlari cepat kedalam kamar baby Wildan mengabarkan bahwa Amel saudara ipar mereka sudah meninggal.


Mendengar kabar duka itu tentu saja membuat Alzam dan Adiva menjadi terkejut. Mereka saling bertatapan, tidak percaya satu sama lain.


"Masa sih bi? Siapa yang kasih tahu kamu?"


"Itu ada tuan Daffa didepan, dia sedang menunggu kalian. Tampaknya dia sangat terpukul sekali tuan, nyonya."


Alzam bergegas mengerikan tangannya menggunakan handuk kecil kemudian lekas melangkah menuju depan. Sedangkan Adiva akan memandikan baby Wildan sampai selesai dibantu oleh pembantu itu. Nanti baru menyusul Alzam menemui Daffa.


Alzam menghampiri Daffa yang sedang duduk bersedih diatas sofa. Alzam langsung memeluk Daffa dan menenangkannya.


"Apa benar yang kamu bilang dek, istri kamu udah nggak ada? Kenapa bisa?"


Daffa menatap wajah kakaknya sembari menangis pilu.


"Buat apa aku berbohong kak, istri aku benar-benar sudah nggak ada," jawab Daffa terisak sedih.


Alzam juga ikut menunduk sedih kemudian menepuk pundak Daffa, memberinya semangat sebagai seorang kakak yang menyayangi adiknya. Pagi ini seperti seorang yang terdampar sendirian di tengah pulau, begitu gelap dan menyedihkan bagi Daffa.


"Mama yang membunuh Amel kak, sampai sekarang, polisi belum juga kasih kabar kalau mereka udah berhasil menangkap mama apa belum!"

__ADS_1


"Mama?! Mama yang membunuh Amel?" tanya Alzam seolah tidak percaya.


Bersambung...


__ADS_2