MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Hari Kebahagiaan Adiva


__ADS_3

"Tapi kan kamu pemilik dari kampus ini ayah! Masa menyelamatkan aku yang sebagai anak kamu aja nggak bisa? Justru apa kata keluarga kita kalau aku dikeluarkan dari kampus?"


"Itu sudah resiko yang kamu terima Lisa kalau kamu kalah dalam perlombaan melawan Adiva. Lagian kamu jadi anak sombong banget, kamu sampai kalah dari dia karena sifat meremehkan yang kamu buat itu, kamu jadi menganggap enteng Adiva hingga akhirnya kamu dikalahin sama dia kan! Papa kecewa sama kamu dan papa, akan memindahkan kamu kuliah ke Canada saja."


"Apa! Papa nggak bisa gitu dong. Semua teman-teman aku berada disini dan aku nggak mau beradaptasi lagi di lingkungan yang baru pa! Aku takut dibully lagi kaya pas waktu aku masih SMA dulu."


Lisa mengenang masa pahit selama SMA. Dulu waktu SMA, Lisa adalah anak yang cupu. Dia selalu jadi bahan bullyan teman-teman sekelasnya karena sikap intovert dan kecupuannya itu. Lisa ditindak layaknya seorang budak oleh geng-geng penguasa di sekolah.


Hingga pada akhirnya, Lisa mulai berubah dan tampil glow up saat awal masa kuliah dan berubah juga sifatnya menjadi orang yang suka membully karena rasa dendam itu, pelampiasannya adalah kepada anak-anak yang lemah dan tidak berduit di kampus ayahnya.


"Papa nggak bisa gini dong! Papa harus melakukan sesuatu, tolong bantu aku pa?"


"Jalan satu-satunya ada ditangan Adiva, kalau dia setuju kamu masih bisa kuliah disini maka kamu akan tetap kuliah disini. Kalau tidak, maka kamu akan pindah ke Canada. Ingat Lisa, orang itu yang dipegang adalah omongannya dan kamu harus membuktikan itu!"


Lisa menunduk dengan wajah lesu dan juga menyesal karena sudah meremehkan Adiva tadi saat pertandingan merias.


Disela jam istirahat kuliah, Lisa mendatangi kumpulan geng Adiva yang sedang ngobrol sambil minum-minum cantik merayakan kemenangan ditaman kampus. Hari ini, spesial untuk Adiva adalah Shireen dan Kayla mentraktir apa aja makanan atau minuman yang Adiva mau. Itu sebagai bentuk apresiasi atas usaha Adiva hingga memenangkan pertandingan.


Kayla tampak tidak senang melihat Lisa datangi mereka.


"Woy, mau apa lo nyamperin kita? Masih punya muka ya setelah dikalahin sama orang yang selalu lo bully selama ini? Adiva, buruan injak leher dia!" kata Kayla penuh emosi.

__ADS_1


"Ssssst Kayla! Kita nggak boleh gitu sama orang lain. Kita sebaiknya bersikap baik meskipun kepada orang yang udah sering berbuat jahat sama kita! Lisa, ngapain lo kesini? Mau gangguin kita? Atau mau protes soal kemenangan yang gue dapatkan?"


Lisa tampak sedih kemudian mulai menitikkan air mata. Lisa menangis sembari memeluk erat Adiva.


"Hiks.... Sungguh Adiva, aku nggak mau pindah kuliah ke luar negeri. Aku tetap ingin kuliah disini, di kampus ayah aku. Aku mohon, kamu maafin aku ya? Bikin aku buat tetap kuliah disini, please?"


"Iya aku udah maafin, tapi kamu harus tetap pegang omongan kamu. Kamu harus pindah kuliah ke tempat lain karena itu kan perjanjian yang udah kita buat."


Lisa mendorong Adiva kesal karena Adiva sendiri juga ingin Lisa tetap dipindahkan kuliah.


"Iih kamu ini! Percuma aku ngeluarin air mata dan memohon-mohon sama kamu! Awas aja ya, aku akan balas perbuatan kalian yang lebih menyakitkan dari apa yang aku alami sekarang! Aku benci kalian!" maki Lisa lalu pergi dengan kesal dari kampus.


"Huh emang dasar sih dia itu kan cewek buaya! Untung kamu gak kemakan sama drama dia Adiva," kata Shireen merasa sebal.


Siang menuju sore, cuaca masih cukup terik. Orang-orang masih bekerja dan beraktifitas demi mencari sesuap nasi. Usai jam kuliah mereka selesai, Adiva dan gengnya diajak oleh Aina pergi ke salon kecantikan yang akan menjadi milik Adiva. Mereka pergi bersama menaiki mobil milik Aina.


"Aduh, udah nggak sabar lihat salon yang jadi hadiah untuk Adiva. Pasti keren banget deh tempatnya." ujar Shireen.


"Lihat saja nanti ya, bentar lagi kita sampai kok." ucap Aina lembut sembari fokus menyetir mobil.


"Kak Aina makasih ya, jujur aku nggak nyangka loh bisa dapatin hadiah berupa salon kecantikan. Bahkan aku sendiri selama ini tidak terlalu mempedulikan penampilanku sebagai seorang wanita loh. Tapi mulai sekarang aku jadi belajar banyak hal kalau wanita itu harus menjaga penampilan, tampil anggun dan juga cantik." ujar Adiva tersadar dan perlahan ingin merubah style tomboynya.

__ADS_1


"Betul Adiva, udah seharusnya perempuan itu tampil feminim. Apalagi kamu sudah menikah. Kamu harus nyenengin suami kamu dengan penampilan terbaik kamu. Aku yakin kok, kalau salon kecantikan itu yang mengurus adalah kamu, pasti bakalan makin ramai yang dateng." yakin Aina.


"Ah kakak bisa saja. Emangnya kakak nggak takut ya kalau salon itu bakalan sepi pengunjung yang dateng? Secara yang ngurus orang nggak jelas kek aku ini, hehehe. Aku takut mengecewakan banyak orang kak." sahut Adiva resah.


"Kakak yakin lah." balas Aina.


Adiva merasa nyaman dan selalu tersenyum karena Aina adalah orang yang sangat care dan ramah. Akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang ternyata besar banget bentuknya. Ukuran dan luas salon itu begitu besar, luasnya seperti setengah lapangan sepakbola. Adiva, Shireen, dan Kayla mangap takjub melihat salon itu.


"Ini salon apa istana sih kak? Gede banget. Nggak ah kak, aku nggak mau terima hadiah ini. Terlalu istimewa buat orang gajelas seperti aku kak. Aku nggak mau mengecewakan kakak." kata Adiva menolak saat melihat salon kecantikan yang ternyata teramat megah itu.


"Nggak boleh menolak pokoknya. Hadiah ini aku persembahkan spesial buat kamu Adiva." ucap Aina berusaha merayu Adiva agar tidak menolaknya.


"Tapi ini terlalu spektakuler buat aku kak. Hmm, jadi gimana ya, kaya terlalu wow banget buat aku. Lebih cocok kalau orang-orang hebat seperti kakak yang mengurus salon kecantikan ini." kata Adiva.


"Adiva kamu jangan bodoh deh beb, ingatlah salon ini tuh bisa buat tempat usaha kamu. Kalau lulus kuliah nanti kamu nggak perlu repot-repot cari kerja atau bergantung sepenuhnya dari suami kamu. Ya meski suami kamu orang yang sangat kaya tapi roda bisa berputar kan?" sahut Kayla.


"Bener tuh apa kata Kayla. Kita meski perempuan tapi bukan berarti kita harus sepenuhnya bergantung sama penghasilan suami. Kecuali kalau kita udah punya anak ya, mungkin kita akan sibuk mengurus anak. Jadi Adiva, kamu nggak boleh sia-siakan kesempatan emas ini?" sahut Shireen.


Adiva akhirnya setuju dengan hadiah yang diberikan oleh Aina untuknya. Begitu senangnya Aina karena wanita muda potensial itu mau menerima hadiah berupa salon kecantikan yang sudah ia siapkan.


"Yaudah, tunggu apalagi? Kalau gitu kita masuk kedalam yuk? Aku mau ajak kalian keliling salon ini dan nanti, kalian berdua temannya Adiv akan dapat voucher gratis buat perawatan seharian." teriak girang Aina disambut sorak bahagia oleh Kayla dan Shireen. Adiva juga tersenyum senang.

__ADS_1


"Nikmat mana lagi yang kamu dustakan Adiva? Alhamdulillah, terimakasih ya Allah." ucap Adiva bersyukur didalam hatinya.


Bersambung...


__ADS_2