
Sesampainya dirumah, Amel langsung masuk kedalam rumah lalu menaruh baby D diatas ranjang bayinya.
"Istirahat dulu ya kamu jangan rewel ya nak?" ucap Amel lembut, kemudian mencium kening baby D.
Amel merasa capek sekali setelah beberapa saat ia berjalan kaki. Dirinya nggak biasa jalan kaki, sehingga jalan kaki sebentar saja sudah merasakan pegal-pegal pada kakinya. Amel duduk sejenak diatas sofa seraya mengelap peluhnya.
"Aduh capek banget. Ternyata gini ya rasanya jalan kaki jauh. Salut aku sama orang-orang yang kemana-mana selalu jalan kaki." ucap Amel.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, seorang laki-laki yang sedang menghukumnya itu juga baru selesai dari jooging pagi. Daffa melihat Amel dengan tatapan cuek meski Amel memberikan senyuman untuk Daffa, Daffa tidak membalas senyuman dari sang istri.
"Mas Daffa tercinta? Cuek mulu ih sama aku?" goda Amel.
Lagi-lagi Amel dibuat sedih. Karena sikap suaminya yang sekarang berubah jadi dingin. Entah kenapa meski Amel belum sepenuhnya bisa mencintai Daffa dan masih saja hanya ada Alzam laki-laki yang ada didalam hatinya, tapi Amel merasa sedih juga. Amel merindukan keromantisan Daffa yang seperti biasanya itu.
"Mas aku kangen?" ucap Amel nekat.
Daffa melirik sejenak kearah Amel di sofa seraya mengelap keringat di dahi menggunakan handuk kecilnya. Daffa mengangkat kedua bahunya, lagi malas ngomong sama Amel.
"Aku kangen keromantisanmu, kasih sayangmu, cumbuanmu mas, sampai kapan kamu giniin aku terus? Kamu tahu kan kerupuk itu lama-lama akan melempem kalau dibiarin diluar, apa kamu nggak takut kalau cintaku sama kamu jadi melempem? Aku yakin, kamu masih sangat menyayangi aku, iya kan mas?" genit Amel seraya mengedipkan salah satu matanya.
"Ya iya Amel. Aku sulit untuk tidak mencintai kamu. Cinta ini udah tumbuh dengan sendirinya lalu mekar seindah bunga." jawab Daffa dalam hatinya. Gengsi buat ngucapinnya di mulut.
Daffa memejamkan mata malas, kenapa sih istrinya harus bersikap genit disaat ia sedang marah dan menghukumnya? Daffa kemudian memutuskan untuk langsung masuk saja kedalam kamar mandi. Daffa akan mandi pagi setelah capek berolahraga dan Amel tahu apa yang ada di dalam benak seorang lelaki.
__ADS_1
AKAN SERU KALAU MANDI PAGI BERSAMA!
Daffa mulai membuka bajunya, badannya semakin atletis, perutnya semakin kotak-kotak, lalu ia mengambil sabun yang ada diwadahnya. Daffa bersiap akan menyalakan shower, membasahi tubuhnya dengan air dan Daffa masih mengenakan celana kolornya.
Tiba-tiba saat tangan Daffa akan mulai menyalakan shower, sepasang tangan memeluknya dari belakang, memeluk badannya, membuat Daffa jadi terhenyak lalu membalikan badannya. Daffa melihat istrinya yang sedang senyum-senyum genit kepada dirinya. Amel tak akan lelah berjuang dalam berusaha meraih maaf dan simpati dari Daffa lagi.
"Ngapain sih kamu disini! Aku mau mandi loh! Sana keluar kamu!"
"Kamu kok gitu sih mas, kaya aku bukan istri kamu aja. Aku ini istrimu loh mas, masa aku diusir sih? Nggak salah dong kalau aku ada disini bersamamu kita mandi berdua mas? Selama kita menikah kita belum pernah kayak gini?"
Tangan Amel mengusap perut Daffa membuat Daffa jadi tidak tahan lagi. Amel berbicara dengan nada suara yang menggoda didekat telinga Daffa dan pada akhirnya, hasrat lelaki muda itu sudah tak terbendung lagi, pagi ini mereka berdua pun mandi bareng.
***
"Duh, kemana sih anak-anak aku? Apa mereka sudah tidak peduli lagi sama ibunya? Sedihnya." ucap mama Linda sembari menyenderkan kepalanya di tembok dalam sel.
Mama Linda baru kepikiran, di kantor polisi ini kan ada telepon umum, mama Linda ingin mencoba meminjam telepon yang ada didalam kantor polisi. Lalu ia dikasih kesempatan berbicara dengan keluarganya selama lima menit saja. Mama Linda tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Mama Linda pun menghubungi Daffa.
"Halo Daffa sayang?"
"Halo mam. Ini beneran mama? Tumben telepon?"
"Datang kesini dong. Mana makanan enaknya? Udah mama tungguin nih dari tadi. Hari ini kan udah boleh jengukin para tahanan. Kamu jenguk dong mama kamu ini?"
__ADS_1
"Iya mam, bentar lagi Daffa akan kesitu. Oh iya, mama mau Daffa bawain apa? Nanti biar Daffa beliin."
"Hmm, cake keju yang ada di toko Nanana Cake aja deh. Mama kangen makan itu, itu adalah salah satu cake yang sehat dan enak, dengan bahan-bahan pilihan yang premium."
"Iya ma, siap? Ada lagi tambahannya?"
"Camilan yang biasa aja deh. Gimana hasil tes DNA bayi itu? Apa udah keluar sayang?"
"Udah ma. Dan hasilnya, baby D itu ternyata emang benar, ada kecocokan DNA sama mantan pacarnya Amel."
"Sialan! Jadi Dilla bukan cucu kandung saya dong! Dia nggak pantes kalau nanti mewarisi perusahaan-perusahaan saya nak! Mama tidak akan mau memberikan perusahaan mama untuk orang yang tidak ada garis keturunan asli dari anak saya, ngerti!"
"Mama kok gitu sih? Mama masih jahat ya? Oke aku bisa ngerti. Tapi mama nanti nggak akan pilih kasih kan? Aku sama Amel kan masih bisa memberikan mama keturunan? Aku harap mama nanti bisa berlaku adil ke semua cucu-cucu mama, siapapun itu."
"Kamu yakin nggak mau menceraikan perempuan ****** itu? Mama sekarang benci sama Amel nak! Jijik tahu! Apa yang bisa mama banggakan lagi dari dia setelah tahu kalau Amel itu hamil diluar nikah! Apa kata orang nanti! Nasib mama menyedihkan punya menantu kaga pernah ada yang bener."
"Ya nggak lah mam. Aku masih sayang sama Amel. Selamanya aku akan mencintai Amel mam. Cerai? Tentu tidak. Tidak peduli mau seberapa besar kesalahan Amel, ini baru yang dinamakan dengan cinta sejati kan mam?Tetap bersama walau pasangan kita pernah lakuin kesalahan yang sebesar pegunungan Everest sekalipun."
"Daffa, Daffa, jangan bodoh sayang. Diluaran sana masih banyak wanita cantik, kaya, berpendidikan, yang jauh lebih baik daripada Amel. Pokoknya jangan harap mama akan bersikap baik lagi sama Amel ya! Mimpi!"
"Yaudah itu terserah mama sih. Aku akan segera datang kesitu biar mama nggak marah-marah terus."
Daffa langsung menutup telepon dari mamanya, takut Amel mendengar pembicaraan mereka, kemudian Daffa berpikir sejenak.
__ADS_1
"Gimana kalau nanti Amel dibenci sama mama? Selama ini kan mama sayang banget sama Amel. Pasti Amel akan merasakan apa yang dulu almarhumah kak Zahra dan Adiva rasakan. Semoga mama benar-benar nggak mau lakuin itu deh." harap Daffa cemas.