
Amel kebingungan
"Mama terus aku harus gimana? Gimana caranya supaya mas Alzam jadi menikahi aku?" tanya Amel pusing.
"Biar soal itu nanti mama dan papa yang pikirkan, sekarang kita masuk saja kedalam rumah mewah kita." jawab bu Ratih lalu mengajak Amel masuk kedalam.
Hari sudahlah sore, matahari cerah masih bersinar dengan begitu indah namun tidak sampai menyengat kulit seperti saat siang datang. Suasana kota Jakarta selalu riuh ramai, Jakarta adalah tempat yang paling padat dengan jumlah kependudukan.
Jakarta adalah jantung kota juga tempat banyak manusia berkumpul mengais rezeki. Berbagai kalangan dan kasta tinggal disini.
Alzam dan kedua keluarganya sampai ke rumah, suasana begitu canggung karena Alzam terus terdiam sedari tadi. Ingin menegur kakaknya tapi masih ada sedikit rasa takut dalam diri Daffa, karena Alzam adalah sosok yang mengerikan saat ia sedang marah.
Sesampainya mereka di rumah dan satpam penjaga gerbang sudah membukakan pintu, Alzam memarkir mobil di depan rumah kemudian turun tanpa berbicara sepatah katapun dengan ibu, adiknya.
"Alzam!" panggil mama Linda dengan ketus dari belakangnya.
Alzam menoleh kearah mamanya sembari menaikan kedua bahunya pelan lalu menurunkannya lagi. Mama Linda berjalan kedepan Alzam akan memarah-marahi Alzam.
"Kenapa kamu tadi membuang tas belanjaan Amel nak! Sikap kamu tadi sangat tidak sopan! Pasti calon istri kamu sangat sedih akibat tingkah keterlaluan kamu tadi disana!"
"Hah, calon istri? Mama, kan aku udah bilang kalau aku menolak keras perjodohan dengan wanita matre itu! Aku nggak mau menikah lagi tapi dengan wanita yang matre dan pokoknya, Alzam nggak mau ada perjodohan-perjodohan apapun lagi setelah ini!"
Mama Linda tidak tinggal diam, dirinya akan terus memperjuangkan bersatunya Amel dan Alzam karena menurut mama Linda, Amel adalah material wife yang sangat cocok dengan anak pertamanya. Amel jauh lebih oke dari kriteria almarhumah Zahra, menantu yang sering ia siksa dan sama sekali tidak ia dambakan dari dulu.
Hari demi hari terus berlalu, setiap hari mama Linda selalu menyuarakan perjodohan Alzam dan Amel, omelan dan amarah mama selalu menghiasi hari-hari Alzam setiap hari. membuat Alzam jadi sakit kepala dan juga sakit telinga. Rasanya malas setiap hari harus dijodohkan dengan wanita sombong, songong, dan gila harta seperti Amel.
__ADS_1
Di dalam ruangan kerjanya di kantor, Alzam sedang merenung memikirkan bagimana caranya supaya sang mama berhenti menjodohkannya dengan Amel. Satu-satunya cara untuk menghindari perjodohan itu adalah dengan mencari perempuan lain yang akan ia nikahi, dan tentu saja perempuan itu bukan Amel.
Alzam teringat seseorang yang bisa ia jadikan tameng untuk sementara, tameng pelindung dari perjodohan paksa yang amat sangat membuatnya kesal. Dan seseorang itu adalah ADIVA... Adik dari almarhumah istrinya.
***
"Duh,cucian kotor gue makin numpuk, hmm sebenarnya ini cucian kotor bisa cepat selesai kalau gue punya mesin cuci. Gue harus makin semangat nabung nih biar bisa kebeli mesin cuci, supaya gue nggak terlalu capek mencuci, udah capek kuliah, kerja di restoran, juga metik kopi di kebun kopi. Pokoknya lo nggak boleh terus ngeluh Adiva! Ingatlah kak Zahra yang dulu, semangat kerjanya begitu contohable dan keren. Dia patut dijadikan contoh oleh lo Adiva!" ucap Adiva di dalam kamar mandi sembari mengamati banyak cucian kotor bau miliknya.
Adiva kemudian pergi menuju kamarnya, Adiva mengambil celengan ayam yang tersembunyi di balik tumpukan dalemannya di dalam lemari. Adiva mengambil celengan itu lalu berpikir seribu kali, apakah akan memecahkan celengannya sekarang atau nanti saja. Apakah kiranya uang celengan dia selama tiga tahun sudah cukup untuk membeli mesin cuci?
Adiva memutuskan untuk memecahkan saja celengan ayamnya, mengecek uang yang sudah ia sisihkan sejak ia masih duduk di bangku SMA. Ternyata saat Adiva pecahkan, hasil dari penyisihan uangnya sudah sangat banyak. Rata-rata uang yang berada di dalam celengan adalah uang kertas seribu dua ribuan.
"Pantesan saat gue pegang kek berat banget nih ayam, ternyata isinya lumayan juga ya. Receh lovers! Otw hitung ah receh-receh ini, bener apa kata orang, sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit!" ucap Adiva bersemangat.
Laki-laki itu adalah Alzam, ia datang ke rumah Adiva karena akan menyatakan sesuatu kepada Adiva. Parfum yang Alzam kenakan tercium begitu harum aromanya, aroma-aroma parfum lelaki khas Eropa yang berharga mahal bahkan Alzam masih berdiri di depan mobil saja aroma parfumnya sudah tercium Adiva dari dalam kamar.
"Hemm, gue mencium aroma yang memanjakan hidung gue nih, wangi banget sih. Bau parfum siapa ini?" pikir Adiva.
Adiva mengintip dari balik tirai kamarnya melihat keluar rumah, Adiva terkejut saat melihat kakak iparnya yang sedang berdiri sembari bersedekap dada dan bersandar disisi mobil, seraya menatap area halaman depan rumah Adiva.
"Loh! Itu kan onoh? Mau apa dia kesini ya?" pikir Adiva.
Alzam berjalan dengan sangat cool menuju pintu depan rumah Adiva, lalu Alzam mengetuk pintunya dengan cukup kencang. Adiva jadi bingung antara mau membukakan pintu untuk kakak iparnya atau pura-pura sedang nggak ada di rumah saja? Karena Adiva selalu merasa canggung kepada sosok Alzam yang terkenal dingin, sedingin kutub utara itu.
"Assalamu'alaikum? Adakah orang di rumah?" ucap Alzam sambil terus mengetuk pintu.
__ADS_1
Adiva memutuskan untuk membuka pintu saja, disisi lain dirinya juga penasaran ada urusan apa Alzam datang kesini mencarinya. Adiva berjalan ke pintu depan lalu membukakan pintu untuk laki-laki modis itu.
"Waalaikumsalam."
"Kok agak lama ya? Kamu tahu kan siapa saya? Saya adalah orang penting, sibuk, dan paling nggak suka menunggu terlalu lama."
Adiva menghela nafasnya, belum apa-apa saja sudah bikin jengkel.
"Hmm maaf kak Alzam, gue habis pup barusan makannya lama. Maafin gue ya kak?"
Alzam terlihat geli mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Adiva.
"Ada apa kak Alzam kesini? Mari masuk kedalam kak Alzam?" ucap Adiva mempersilahkan Alzam untuk masuk kedalam walau sebenarnya malas.
Alzam masuk kedalam lalu duduk di kursi kayu yang sederhana. Alzam mengamati ruangan, tempat tinggal Adiva yang cukup miris kondisinya, Adiva seorang cewek yang pernah menjadi adik iparnya. Masa iya sih Alzam yang kaya raya tega membiarkan Adiva hidup terlantar seperti ini?
"Biar bagaimanapun cewek tomboy yang ada di depanku ini pernah menjadi adik iparku, dia adalah adik dari Zahraku tercinta. Dan dia akan Aku jadikan sebagai istri pura-pura. Aku harus membuat perubahan di rumahnya yang jelek ini." batin Alzam.
"Mau minum apa kak?"
"Nggak perlu Adiva. Saya langsung aja kesini karena saya mau bilang, saya ingin melamar kamu menjadi seorang istri. Kamu mau jadi istri saya?" jawab Alzam to the poin.
Bak tersambar petir di siang bolong, laki-laki tajir dan good looking yang sedang duduk di kursi kayu itu ternyata datang kesini dengan niat ingin melamarnya? Bagaimana bisa ia langsung berkata itu, melamar dan menjadikannya seorang istri? Bahkan kenal dekat saja terbilang tidak, bertegur sapa juga sangat jarang ia lakukan dari dulu dengan Alzam.
Adiva makin canggung, bingung, dan harus berkata apa? Baginya ini adalah hal yang aneh.
__ADS_1