
"Tugas kalian adalah melakukan make over pada dua perempuan yang saya bawa dari salon. Mereka adalah pegawai di salon saya. Mereka belum memakai make up dan juga masih memakai pakaian biasa. Ehm, keluarlah kalian dari dalam mobil!" panggil Aina kearah mobil mewahnya.
Kemudian dua perempuan biasa saja yang belum di make over keluar dari dalam mobilnya. Mereka berdua akan menjadi orang yang dirias oleh Lisa atau Adiva.
"Perkenalkan nama mereka adalah Tina dan Tini, nah kalau Tina yang make over kamu nanti adalah si Lisa, kalau Tini yang make over kamu nanti adalah si Adiva." tukas Aina.
Tini menatap nyalang kearah perempuan yang akan merias dirinya nanti. Tini terkejut melihat penampilan orang yang akan merias dirinya adalah seorang cewek yang tomboy. Namun Tini belum akan menjamin kekalahan yang akan Adiva terima. Siapa tahu dibalik penampilan tomboynya itu, tersimpan bakat mutiara yang luar biasa.
"Sekarang apakah kalian berdua siap make over penampilan mereka?" tanya Aina kearah Lisa dan Adiva secara bergantian.
"Iya saya siap dong. Udah nggak sabar banget lihat cucurut ini ditendang dari kampus!" jawab Lisa sembari melirikan mata sinisnya kearah perempuan di sampingnya.
"Siap," jawab Adiva singkat padat dan jelas.
Dua perempuan itu Tina dan Tini disuruh duduk di kursi mereka masing-masing. Aina berjalan kedalam mobil lalu membuka bagasi. Aina sudah membawa peralatan make up yang kemudian ia berikan kepada Adiva dan Lisa, untuk make over Tina dan Tini.
Lisa mulai make over perempuan yang bernama Tina itu dengan teliti dan juga rapi. Jangan sampai ada yang belepotan atau absurd untuk dilihat. Lisa sudah sangat terbiasa merias wajahnya hingga melakukan make over ini adalah hal yang sangat mudah baginya.
Disisi lain Adiva juga mengejutkan banyak orang karena Adiva make over Tini dengan rapi dan juga fokus. Tidak terlalu terburu-buru. Shireen bahkan tidak menyangka Adiva bisa seteliti dan telaten itu dalam make over Tini. Apa yang sedang dilakukan oleh sahabatnya hampir menyamai penata rias yang profesional. Semua itu adalah berkat usaha dan kerja keras Adiva yang kemarin belajar make over kepada bi Sri hampir seharian! Sampai lupa makan, lupa minum, bahkan tidur hanya tiga jam saja semalam. Alzam sempat mencemaskan Adiva ngantuk hari ini. Beberapa kali Adiva menguap karena semalam latihan lagi sampai kurang tidur.
"Selain merias wajah kalian juga harus mengatur gaun atau pakaian yang cocok buat mereka ya. Habis itu baru kalian tentukan gaya rambut. Tenang aja, banyak pakaian yang sudah saya bawa dalam mobil kok." tukas Aina sambil berjalan mondar mandir mengamati dua perempuan yang sedang sibuk merias itu.
"Gue harus menang dan gue pasti bakalan menang! Gue yakin itu! Yakali, gue dikalahin sama cewek tomboy ini! Mau ditaruh mana muka gue nanti!" batin Lisa ambisi.
__ADS_1
*
*
*
Tiga puluh menit berlalu, Adiva dan Lisa sudah selesai melakukan make over wajah Tina dan Tini. Perbedaan yang sungguh mencolok, hasil riasan Adiva cenderung lebih natural daripada hasil riasan Lisa. Adiva memutuskan gaya yang tepat dan juga memperhatikan baik-baik karakter wajah Tini yang kemarin diajarkan oleh bi Sri.
"Sudah selesai, nah sekarang kalian berdua pilih gaun atau pakaian yang terbaik menurut kalian, ada didalam mobil saya, didalam sebuah kotak besar." tunjuk Aina.
Mereka berdua dibawa ke mobil untuk memilih pakaian yang terbaik buat Tina dan Tini.
"Wah semuanya keren, tapi menurut aku, Tina akan the best kalau dia pakai gaun yang ini." ucap Lisa seraya memeluk salah satu gaun.
Adiva masih sibuk mencari pakaian yang tepat namun terbaik supaya punya peluang untuk memenangkan pertandingan merias penampilan.
Adiva tidak bisa terburu-buru, dirinya harus menemukan pakaian yang terbaik dan juga pas buat Tini, karena ini adalah sebuah penentu pertandingan yang sangat penting baginya. Bahkan lebih penting dari pertandingan umum sekalipun karena kalau kalah, menyangkut juga dengan kuliahnya yang akan berhenti di kampus yang penuh dengan kenangan ini. Apalagi dua sahabat terbaiknya berkuliah disini dan Adiva juga ingin mendapatkan salon kecantikan yang dijanjikan oleh Aina. Adiva terus mencari hingga akhirnya...
"Nah ini dia, akhirnya nemu juga gaun yang pas. Gaun yang aku mau," batin Adiva senang seraya mengambil gaun dalam tumpukan didalam kotak besar itu.
"Cari gaun apa cari jodoh sih, lama amat lo." sinis Lisa.
"Ciee nyindir diri sendiri." sahut Adiva.
__ADS_1
Lalu setelah itu Tina dan Tini dibawa ke ruangan ganti pakaian di kampus. Setelah selesai berganti pakaian yang dipilih, mereka disuruh keluar dan kembali lagi ke area taman. Semua orang melihat pakaian yang dikenakan oleh Tina dan Tini. Mereka berdua sama-sama tampil menarik karena orang yang make over mereka sama-sama memilihkan gaun yang terbaik untuk mereka. Sungguh sebuah pilihan yang cukup sulit bagi Aina untuk menentukan siapa pemenangnya nanti. Apalagi pertandingan sengit ini berkaitan dengan dikeluarkannya orang dari kampus bagi yang kalah.
"Sekarang yang terakhir tinggal mengatur gaya rambut yang kalian inginkan. Saya akan menilai dari gaya rambut, style berpakaian, dan juga hasil riasan wajah. Buatlah yang terbaik!" titah Aina.
Bingung Adiva rasakan karena kemarin dia tidak belajar bagaimana caranya menata rambut yang pas dan menarik.
"Aduh, mati gue! Gimana caranya menata rambut si Tini?" batin Adiva, kedua bola matanya celingukan kesana kemari.
Lisa menoleh kesamping, melihat saingannya yang sedang resah sepertinya.
"Hahahaha, kayaknya si cucunguk tomboy ini lagi ketar-ketir nih? Sepertinya dia gak bisa menata gaya rambut ya? Hahahahaha, yes! Yes." tawa Lisa didalam hatinya.
Saingannya tidak bisa menata gaya rambut membuat Lisa yakin akan peluang kemenangannya setelah dua babak sebelumnya, hasil make over mereka sama-sama bagus. Dengan penuh percaya diri karena Lisa sudah merasa pandai dalam mengatur gaya rambut ditambah saingannya yang sepertinya sedang kebingungan, Lisa mulai menata bentuk rambut Tina menjadi lebih menarik. Lisa melakukan itu sembari menatap dengan ekspresi wajah mengejek kepada Adiva.
Adiva merasa kesal dan bingung. Berbeda dengan Adiva yang hanya mengusap-usap rambut Tini saja, bingung mau dirubah seperti apa gaya rambutnya.
"Oke, aku nggak boleh diam! Aku nggak mau kalah dan aku akan ingat perkataan bi Sri kemarin. Aku harus melakukan semuanya dengan karakter wajah orang yang sedang aku rias ini. Sepertinya Tini ini punya karakter wajah yang lembut, halus, khas gadis pedesaan. Sebaiknya aku rubah gaya rambutnya seperti gadis pedesaan saja, dengan style yang harus menarik pokoknya." batin Adiva kembali bersemangat.
Adiva mulai mengatur rambut Tini, membentuknya dengan perlahan. Mengikat secara hati-hati dan rapi dengan style khas gadis pedesaan yang akan mencuci bajunya di sungai. Hanya itu yang ia tahu saat menonton serial TV yang berkisah tentang gadis pedesaan. Adiva sangat suka melihat gaya rambut mereka.
Tini merasa tidak nyaman, Tini merasa bertambah ndeso kala Adiva mengubah gaya rambutnya menjadi seperti itu. Rambut Tini digelung dan ada sedikit rambut samping yang tidak ikut diikat supaya membentuk lurusan rambut pendek disekitaran telinga Tini.
Adiva juga menambah sentuhan aksesoris dalam rambut Tini berupa ikat rambut bunga mawar yang menambah kesan alami dari gadis desa yang elegan yang terpancar dari diri seorang Tini. Tampak sederhana tapi mahal sekali hasil make over Adiva saat Aina lihat. Kreatif dan berbeda.
__ADS_1
Tinggal tugas Aina untuk menentukan pemenang yang tepat dan akurat.
Bersambung...