
Amel langsung mengemban bayi mungil itu lantas memberikannya ASI.
Dan malam pun tiba...
Daffa dan Amel tengah makan malam bersama, tetapi suasana saat makan malam ini tidak seperti biasanya. Amel sendiri takut bertegur sapa dengan suaminya sendiri, setelah aibnya di masa lalu diketahui oleh Daffa.
Amel tidak bisa menikmati makanan dengan nikmat dan santai. Makanan yang ia makan itu rasanya hambar, hambar bukan rasanya tapi nuansanya. Amel makan hanya untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya saja. Supaya stok ASI buat baby D tetap lancar juga.
Usai makan malam selesai, Daffa langsung meninggalkan Amel begitu saja, sendirian di meja makan. Amel jadi sedih dengan sikap suaminya yang sekarang sedingin gunung es di Antartika. Dirinya merasa seperti seorang istri yang sudah tak dihargai lagi.
Dirinya tidak tahu harus berbuat apa supaya Daffa mau memaafkan dirinya secepatnya.
Ingin tidur dikamar sendiri aja bareng Daffa, Amel merasa takut. Disisi lain Amel juga merasa kesal karena diam-diam Daffa melakukan tes DNA kepada baby D dan Alex tanpa sepengetahuan dirinya.
Amel yakin pasti Daffa melakukan tes itu saat Daffa bilang mau mengajak baby D jalan-jalan keluar waktu itu. Ternyata waktu itu Daffa sebenarnya jalan-jalan sembari melakukan tes DNA secara diam-diam.
Amel masuk kedalam kamar dengan lesu. Saat melihat kedalam kamar sang suami sedang tiduran dengan membelakangi dirinya. Amel jadi bertambah sedih bercampur dengan rasa kesal. Disisi lain Amel semakin membenci Alex. Rasanya ingin menghancurkan atau membunuh Alex saat ini juga. Orang yang sudah merenggut kehormatannya kala itu.
Amel melangkah pelan lalu duduk diatas kasur. Amel menunggu beberapa menit untuk rebahan di samping Daffa dan saat Amel sudah rebahan disamping suaminya, Daffa langsung bangkit dan menatap sinis kearah Amel.
"Siapa yang nyuruh kamu buat tidur disini !?" tanya Daffa dengan suara dingin menakutkan.
Amel langsung bangkit dan juga gemetar karena gertakan dari Daffa itu.
"Terus aku harus tidur dimana mas kalau bukan disini? Ini kan kamarku juga?"
__ADS_1
"Bukan lagi! Kamu tidur dibawah! Nggak usah pakai bantal, nggak usah pakai selimut! Cepat!" pekik Daffa lalu mendorong Amel hingga Amel terjatuh diatas lantai.
"Aw, sakit mas!" rintih Amel dari bawah.
Amel terhenyak mendengar perintah dari suaminya itu. Amel terpaksa mau tidak mau, malam ini dirinya harus tidur diatas karpet dan hal ini adalah kali pertama untuknya. Putri seorang konglomerat yang biasanya tidur diatas kasur yang empuk, mewah, namun sekarang sedang menjalani hukuman dari Daffa dirinya harus tidur di tempat yang kurang nyaman.
Amel meringkung di bawah ranjang sembari mengeluh.
"Nggak pernah kebayang didalam hidupku yang indah ini bakalan mengalami tidur diatas lantai seperti ini. Tanpa bantal untuk alas kepalaku, tanpa selimut yang menghangatkan badanku, sampai kapan akan seperti ini?" keluh Amel dalam hatinya.
Daffa berharap semoga dengan hukuman yang ia berikan kepada Amel, Amel mau berubah menjadi lebih baik.
Hukuman yang Amel Terima malam ini belum ada apa-apanya dibandingkan hukuman yang sudah Daffa siapkan untuk Amel pada esok hari. Kira-kira hukuman baru apalagi ya yang akan Amel dapetin besok?
Beberapa saat kemudian, sekitar pukul satu malam Amel terbangun dari tidurnya. Amel sedikit bersin, saluran pernapasannya terasa sakit dan gatal. Kenapa hawa terasa begitu dingin padahal semua jendela sudah ditutup. Amel melihat kearah AC ternyata hawa dingin ini karena Daffa yang sengaja belum mematikan AC didalam kamar.
"Dimana remot AC itu?" bingung Amel sembari mengangkat bantal-bantal mini yang ada diatas sofa kecil dalam kamar. Amel melihat kearah suaminya yang sudah tidur pulas. Amel mencoba mencari remot AC itu dibawah selimut suaminya tapi tidak ketemu. Amel jadi bingung harus ngapain, kalau dilanjut tidur diatas karpet maka bisa-bisa ia akan sakit.
Amel mendelik kearah sofa seraya tersenyum, berhubung suaminya udah tidur lebih baik dirinya tidur diatas sofa saja daripada tidur kedinginan diatas karpet. Diatas sofa mini jauh lebih nyaman untuknya, Amel berharap semoga Daffa tidak melihat dirinya sedang tidur diatas sofa. Amel harus bangun duluan besok. Amel sengaja memasang alarm pukul empat pagi.
Tiga jam berlalu, harapannya terkabul, alarm yang berbunyi tepat pukul empat pagi itu berhasil membangunkan Amel jauh lebih dulu daripada Daffa. Tapi sebenarnya Daffa juga terbangun karena mendengar bunyi alarm yang nyaring itu.
Amel buru-buru mematikan alarm itu lalu lompat keatas karpet, tiduran disana lagi. Jangan sampai Daffa tahu kalau semalam dirinya tidur nyaman diatas sofa kamar.
Daffa senyum-senyum melihat tingkah istrinya. Setidaknya hukuman yang ia berikan membuat Amel jadi bangun lebih awal. Tidak seperti biasanya yang selalu saja, Daffa duluan yang membangunkan si pemalas Amel.
__ADS_1
...
Sang mentari pagi kembali menyapa para mahkluk hidup. Ayam-ayam mulai berkokok damai. Burung-burung berkicau, saling bersahutan satu sama lain. Manusia mulai beraktifitas mencari rezeki.
"Semangat pagiii!" girang Adiva seraya membuka jendela kamarnya.
Adiva menatap pemandangan taman dengan raut keceriannya. Adiva menghirup aroma udara yang sangat segar di pagi hari. Rasanya sungguh menyejukkan saluran pernapasan. Sebagai seorang yang sedang hamil maka ia harus mengutamakan kebahagiannya.
Alangkah bahagianya Adiva setelah kemarin merasakan cemburu dan kesedihan yang teramat dalam.
Adiva menatap ke suatu bunga yang bernama mawar ditaman, dimana diatas bunga itu ada seekor kupu-kupu cantik yang sedang hinggap. Adiva menggeleng-gelengkan kepala takjub.
Adiva pikir, dulu dirinya tidak akan mendapatkan semua kebahagiaan ini. Rumah mewah, taman yang cantik yang dihuni oleh kupu-kupu lucu, dan suami yang tampan setia, tapi ternyata Allah memberikan semua keindahan hidup ini kepadanya.
"Nikmat mana lagi yang hamba dustakan ya Allah. Semoga hamba dan juga semua keluarga hamba senantiasa sehat dan selalu dalam lindunganMu." ucap Adiva seraya menghadapkan wajah keatas.
Di seberang sana, Adiva melihat Jenna yang sedang menyirami bunga di taman depan dengan wajah ceria. Adiva sangat senang melihat tetangganya, suami istri itu sekarang sudah berdamai dan tidak ada keributan lagi yang terjadi diantara mereka.
"Hai mba Jenna!" teriak Adiva dari jendela.
"Hai!" sahut Jenna ikut berteriak juga seraya melambaikan salah satu tangan.
Mereka berdua sama-sama tersenyum dan tertawa, lalu Adiva pergi menuju ruang sarapan. Adiva mengecek kira-kira menu sarapan pagi ini yang dibuat sama bi Sri.
"Wah ternyata pagi ini bi Sri membuat menu masakan yang beda lagi setelah kemarin aku tegur." ucap Adiva senang.
__ADS_1
Bersambung...