MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Dipenjara Atau Tidak?


__ADS_3

"Apa kamu bilang! Memangnya saya salah apa sehingga saya harus mendekam dipenjara!? Dasar gila kamu ya, menantu mlarat! Jangan-jangan semua ini adalah strategi kamu buat singkirin saya dari rumah saya sendiri, hah!"


"Mama gausah playing victim deh. Kenapa sih aku harus punya mertua yang ular dan sejahat mama. Apa salahku mam? Tapi yang pasti, mama harus bersiap dibawa ke kantor polisi. Karena udah jelas kalau mama itu udah nyuruh orang buat habisin aku, dan orang itu udah ngaku, buktinya juga sudah ada. Mama ga akan bisa ngelak lagi!"


"Apa sih maksud kamu! Saya nggak tahu apa-apa! Saya ini orang baik-baik. Nggak mungkin saya akan di penjara, dibawa sama polisi. Memangnya siapa orang yang udah nuduh saya? Berani sekali dia menuduh orang baik-baik sepertiku, cih! Pasti dia adalah orang yang iri melihat kesuksesan saya selama ini." balas mama Linda seraya bersedekap dada.


"Tadi orang itu juga ngedrama, sekarang mama mau ngedrama juga? Kita tunggu suamiku aja, yang pasti aku kecewa banget sama mama. Mungkin nanti aku masih bisa memaafkan mama, karena aku baik-baik aja nggak sampai celaka, tapi kalau emang sampai terbukti kalau mama yang dulu ada dibalik kasus penembakan kakak aku, aku nggak akan bisa maafin mama semudah itu, camkan itu ma!"


Mama Linda terdiam membisu. Dia gak tahu harus berbuat apa karena kebusukannya sudah ketahuan. Bagaimana kalau sampai ia mendekam dibalik jeruji besi? Penderitaannya tidak bisa ia bayangkan, seorang nyonya kaya raya sepertinya tinggal di tempat yang sempit, berdesak-desakan dengan berbagai macam jenis penjahat. Sungguh amat memalukan.


Mama Linda merasa harus mengatur rencana supaya dirinya, tidak sampai di penjara meski perbuatan kejahatannya tergolong besar. Alzam sampai ke lokasi tak lama setelahnya. Alzam melihat ramai-ramai orang yang sedang berdiri ditepi jalan dekat rumah sakit kosong itu.


Alzam melangkah menghampiri mereka, Alzam sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi disini.


"Ada apa ini, kalian berkumpul disini? Dan siapakah orang yang kalian ikat itu?" tanya Alzam bingung seraya menatap kearah pembunuh itu.


"Dia adalah orang yang mau bunuh aku tadi didalam rumah sakit kosong itu mas. Dia juga yang kemarin sore mau coba bunuh aku di bangunan kosong. Dan kamu tahu, kalau ternyata dia itu ada yang nyuruh loh. Ular licik berwujud wanita modis." jelas Adiva disamping suaminya. Alzam menatap ke wajah Adiva yang dimana istrinya terlihat seperti orang dirundung kekecewaan.

__ADS_1


"Siapa orang yang udah suruh dia buat bunuh kamu? Cepat katakanlah, siapapun dia, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya didalam penjara. Berani sekali dia mau menghabisi nyawa istriku. Kurang ajar!" tanya Alzam serius sekali.


"Alzam, kamu jangan dengerin apa kata mereka sayang. Mereka semua benci sama mama, mereka iri sama mama Alzam. Banyak orang yang iri sama kesuksesan yang sedang mama teguk ini, tolong nak, mama ini mamamu, orang yang sudah mengandungmu selama sembilan bulan, merawat dan membesarkan kamu hingga seperti sekarang ini. Kamu sukses juga ada andil besar dari mama nak." ucap mama Linda dari samping mobilnya, usaha buat meluluhkan hati anaknya agar dirinya jangan sampai terpenjara.


"Kenapa mama tiba-tiba ngomong kaya gitu sih? Siapa yang iri sama kamu mam?" tanya Alzam semakin bingung saja.


"Disini nggak ada yang iri sama mama kamu mas, tapi kamu harus dengarkan rekaman ini."


Adiva menunjukkan ponsel milik pembunuh itu tanpa berlama-lama Adiva langsung memutar suara dari isi rekaman itu. Terdengar sangat jelas kalau suara itu adalah suara mamanya sendiri. Terdengar dari telinganya kalau mamanya sendiri menginginkan menantunya mati.


Tatapan Alzam seketika berubah jadi dingin. Mama Linda semakin panik dibuatnya. Lalu Alzam berjalan menghampiri mamanya sendiri. Alzam berdiri didepan mamanya, dengan sangat-sangat marah sekali.


Padahal menurut Alzam, Amel jauh lebih tidak baik dari istrinya yang dicap barbar dan jorok oleh semua orang. Dan Amel juga adalah salah satu menantu dari mamanya. Bahkan dulu Alzam menolak Amel mentah-mentah. Tapi kenapa Adiva yang diincar untuk dihabisi oleh mamanya.


Kalau Adiva aja hampir saja terbunuh, apakah dulu dalang dibalik peristiwa penembakan Zahra adalah mamanya sendiri? Sampai separah inikah akibat perbedaan kasta dimata ibunya?


Sekarang mama Linda hanya bisa menunduk lesu sembari menangis.

__ADS_1


"Aku, sangat, kecewa sama kamu mam. Padahal selama ini, kamu adalah inspirasi besar bagiku mam. Tapi sosok inspirasi aku ingin membunuh keluarganya sendiri." ucap Alzam mengutarakan kekecewaannya kemudian menangis tanpa bersuara.


"Maafin mama sayang? Mama mohon, jangan kamu laporin mama ke polisi ya?" lirih mama Linda seraya terisak sedih.


Adiva sendiri merasa butuhkan keadilan. Kalau sampai Alzam tak mau melaporkan perbuatan mamanya kepada polisi, maka nyawanya yang selama ini diincar oleh mama mertuanya, tak ada harganya lagi dimata suaminya.


Alzam sendiri juga berada pada situasi yang sangat sulit. Ia bingung mau memilih ibu atau istrinya. Alzam membalikkan badannya, menatap ke Adiva, dengan sejuta dilema yang terpancar jelas dari aura wajahnya yang tampan.


"Semua keputusan ada pada istri aku mam. Dia yang hampir dicelakai, dia juga yang berhak untuk melaporkanmu mam. Mungkin kalau mama mau minta maaf, urusan kriminal ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan." tutur Alzam menyerahkan semuanya kepada istrinya.


Mama Linda sendiri merasa tidak sudi kalau harus minta maaf lagi sama menantunya. Ia sudah kadung jijik dan sangat gengsi kalau harus minta maaf duluan. Tapi demi agar tidak di penjara, mama Linda akan mencobanya.


Mama Linda melangkah kedepan menantu yang malang itu. Yang selalu hidup dalam belenggu siksaan mama Linda, juga belenggu kematian yang dibuat oleh mama Linda, dengan ancaman pembunuhan dari psikopat yang dibayar oleh dirinya sendiri.


"Saya minta maaf sayang? Adiva, mama berjanji habis ini, mama nggak akan jahat lagi sama kamu. Kali ini kamu harus percaya ya, mama benar-benar ingin berubah. Jangan laporin mama ke polisi ya?" lirih mama Linda lalu ia bersimpuh seraya menangis didepan Adiva.


Apakah kali ini Adiva harus percaya lagi sama janji manis yang dikatakan oleh mama mertuanya itu. Beberapa saat yang lalu bukannya mama Linda juga pernah berkata begitu, janji akan berubah baik semanis madu, waktu Alzam marah dan bahkan sampai ingin membuat bangkrut keluarganya sendiri. Tapi mama Linda mengingkari janji manisnya dan masih saja, mau menyakiti hati dan fisiknya.

__ADS_1


"Nggak! Enak aja, mama harus di penjara. Biar gimanapun, biar mama adalah mertua aku, tapi kalau rencana mama berhasil dan aku sampai mati juga itu kesalahan yang amat fatal! Aku belum mau maafin mama sekarang." jawab Adiva membuat mama Linda menatapnya dengan tatapan kaget bercampur emosi.


Bersambung...


__ADS_2