MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Istri Orang Menginap?


__ADS_3

Kedatangan orang yang membuat hati merasa tidak nyaman jelas akan membuat hati ini menjadi bertanya-tanya dan juga resah. Rasa ingin melindungi diri pun muncul.


Orang itu adalah orang yang dengan tidak sopan kemarin menyentuh wajah Adiva. Padahal Adiva sendiri juga seorang yang udah punya suami.


Adiva rasanya takut kepada orang-orang yang seperti itu. Sepertinya dia adalah laki-laki yang agresif dan mengerikan. Terlihat dari tampang serigalanya. Buat apa dia malam-malam datang ke rumahnya, tanpa bersama dengan sang istrinya.


"Itu bukannya tetangga sebelah ya nyonya?"


"Iya bi. Aku takut sama bapak-bapak itu. Kemarin dia senonoh sama aku. Dia bahkan berani memegang wajahku didepan suamiku sendiri. Dia alasannya aku mengingatkan kepada anak perempuannya yang sudah mati."


"Waduh, laki-laki nggak bener itu nyonya. Yaudah kalau gitu lebih baik kita masuk kedalam saja. Takut terjadi sesuatu yang tidak kita sukai nyonya."


"Iya bi, buruan kita masuk kedalam rumah. Oh iya, aku saja yang bawa keripik singkong pedas gurih ini, mau aku camilin didalam kamarku."


Adiva dan bi Sri buru-buru masuk kedalam rumah, lalu mereka juga menutup pintu depan dan menguncinya. Sementara itu seorang satpam tengah melayani pak Nick yang katanya ingin bertamu itu.


"Bolehkah saya masuk kedalam?" tanya pak Nick dengan logat bulenya yang masih kental itu.


"Bapak ada perlu apa ya? Tidak sembarangan orang yang boleh masuk kedalam pak. Kalau mau masuk kedalam, maka harus izin sama tuan rumah, tuan Alzam Pradipta."


"Tapi saya adalah tetangga kalian. Masa saya tidak boleh masuk tanpa izin dulu sih? Itu namanya lebay. Tolong, izinkan saya masuk kedalam? Masa sesama tetangga bersikap seperti itu sih?" desak pak Nick.


"Tidak bisa pak! Ini sudah tugas yang harus saya jalankan dari tuan Alzam. Saya tidak akan membiarkan orang lain masuk kecuali dari kalangan keluarga tuan muda Alzam sendiri."

__ADS_1


"Ah tidak asyik! Saya dapat tetangga macam apa ini! Mau mempersilahkan orang masuk kedalam rumahnya kok pilih-pilih, cuih." geram pak Nick lalu meludah didepan gerbang. Karena kesal gagal ketemuan dengan Adiva, pak Nick pun pulang ke rumahnya dengan keadaan hati yang jengkel. Sampai rumah, jelas saja si Jenna yang jadi sasaran kemarahannya. Kala ia marah, pasti Jenna yang selalu jadi sasaran amukannya.


Jenna dijambak lalu kepalanya di jedotin ke tembok sampai Jenna pingsan diatas lantai.


Pukul sembilan malam Alzam baru pulang ke rumah. Adiva masih setia menunggu suaminya pulang, karena sang suami adalah laki-laki yang sangat ia cintai dan ia hormati. Namun kali ini Adiva menunggu suaminya di ruang tamu saja. Karena kalau menunggu diluar takut ketemu sama si laki-laki agresif itu.


Alzam mengetuk pintu dulu lalu dengan gegas istrinya membuka pintu depan, Adiva langsung memeluk manja suaminya. Elusan mesra dibagian punggung Adiva dilakukan oleh Alzam, untuk memberikan kesan nyaman bagi istrinya.


"Loh kok kamu menunggu saya disini sih, biasanya kamu nunggu saya pulang didepan rumah? Apa kamu capek sampai barusan kamu ketiduran diruang tamu ini? Selanjutnya, kamu nggak usah menunggu saya pulang ya kalau kamu sudah ngantuk?"


"Nggak mas, aku akan selalu nungguin kamu kalau kamu lagi pergi keluar. Tapi kalau aku menunggu diluar aku sekarang malas banget."


"Malas kenapa sayang?"


"Jenna kamu kenapa?" tanya Adiva kaget.


Jenna terus menangis sedih. Rasanya hidupnya sangat sengsara dan menyesal karena dulu sudah mau menerima lamaran dari pak Nick. Jenna pikir, pak Nick adalah orang kaya yang baik hati, tapi ternyata dia adalah iblis.


"Kenapa sih kamu Jen?" tanya Adiva dengan lembut sembari berjalan beberapa langkah menghampiri Jenna.


Jenna langsung memeluk Adiva dengan tatapan yang sangat sedih sekali, Jenna menangis dalam pelukan Adiva. Sebagai sesama wanita, Adiva bisa merasakan kalau wanita yang sedang memeluknya itu pasti menangis karena habis disakiti oleh seseorang


"Bukannya aku sok tahu, apakah kamu histeris seperti ini karena ulah suami kamu sendiri? Jenna?"

__ADS_1


Jenna mengangguk dalam pelukan Adiva. Air mata bercampur air ingus bersatu membasahi wajah blasteran Jenna. Alzam hanya bisa menyimak saja dari belakang mereka, mana mungkin dia bisa ikutan memeluk Jenna.


"Apa yang suami kamu lakukan kepadamu? Tadi pagi, aku melihat dia menampar kamu disamping rumah?" tanya Alzam seraya menceritakan kejadian itu, yang ia lihat waktu sedang berkebun.


Jenna bergegas melepas pelukannya lalu akan menceritakan penderitaan yang ia alami kepada tetangganya.


"Iya. Suami aku emang pandai memanipulasi kejahatannya. Dia itu lebih kejam daripada apapun, bahkan daripada seorang begal sekalipun. Dia suka menyakiti hati dan fisik aku. Bukan aku mau membuka aib suamiku sendiri, tapi dia suka sewa pelacur juga buat memuaskan hasrat bercintanya. Dia keterlaluan dan aku nggak sanggup buat ngelawan dia!" jawab Jenna seraya terisak.


"Kalau begitu, kenapa nggak sebaiknya mbak Jenna laporin aja suamimu kepada pihak yang berwenang. Biar orang-orang seperti dia itu nggak bebas berkeliaran dan mencari mangsa-mangsa baru, kan bahaya mbak!" tukas Adiva.


"Iya. Ingin sekali rasanya tapi aku takut terjadi sesuatu sama anak-anak aku di Amerika. Kalau aku laporin dia, dia mengancam bahkan anak kami sendiri yang akan jadi korbannya. Aku bingung, harus gimana lagi aku pusing banget, huhuhuhu. Kenapa aku punya suami bejat seperti dia?" tutur Jenna dengan intensitas tangisannya yang semakin pilu.


"Yaudah, kamu maunya apa? Kalau serba salah begitu?" tanya Adiva yang juga ikutan bingung.


Adiva menatap keluar takut si agresif itu diam-diam datang. Lantas Adiva langsung menutup pintu depan yang belum tertutup itu.


"Gimana kalau sebaiknya Jenna, untuk sementara waktu kamu tinggal disini dulu. Kamu tidurlah dikamar tamu, daripada kamu dirumahmu disiksa terus sama suami kamu?" tawar Alzam, itu adalah solusi yang Alzam berikan.


Namun Adiva merasa tidak suka dengan solusi yang dikatakan oleh suaminya itu. Itu terlalu berlebihan kalau membiarkan wanita lain, yang berstatus sebagai istri orang menginap di rumahnya.


"Mas, aku nggak setuju. Nanti kalau kita membiarkan mbak Jenna menginap disini, nanti suaminya bisa datang mencarinya kesini. Terus bisa bikin kekacauan deh dia disini, mendingan mbak Jenna menginap di hotel aja dulu. Di dekat sini ada hotel kok mbak." ucap Adiva seraya tersenyum.


"Nggak Adiva, lebih baik aku menginap disini saja. Hotel dekat sini juga suami aku pernah datang kesana dulu, waktu kami akan membeli rumah itu, kita sempat menginap disana. Disini lebih aman, disini ada laki-laki muda yang pasti punya tenaga lebih buat melawan suamiku, kalau dia datang bikin kekacauan disini. Yaitu suamimu." tolak Jenna seraya tersenyum nyaman kearah Alzam.

__ADS_1


What! Adiva semakin bingung. Mau menolak tapi merasa nggak enak, karena yang beli rumah ini juga suaminya.


__ADS_2