MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Mama Linda Menyerang


__ADS_3

Saat Alzam dan beberapa polisi berlari kearah tong sampah besar itu, mama Linda tidak menyia-nyiakan momen itu untuk bergegas berlari kabur dari situ dan lagi-lagi mama Linda yang cerdik itu berhasil lolos, berlari menelusuri kebun yang kosong dan tidak terawat. Mama Linda terus berlari menelusuri kebun itu hingga raganya tak bisa terlihat lagi oleh Alzam dan beberapa polisi itu.


***


Pukul tujuh malam ini beberapa ekor kunang-kunang terbang mengitari rumah Alzam dan Adiva. Adiva mengintip indahnya binatang malam itu dari balik jendela kaca. Bodyguard-bodyguard yang berjaga di sekeliling rumah juga terpukau melihat banyak kunang-kunang yang terbang mengitari rumah mereka.


Kediaman mereka sungguh mewah, luas, dan indah. Yang pastinya rumah sebesar itu adalah rumah impian banyak manusia diluaran sana. Kerja keras dan kesabaran sangat diperlukan buat mendapatkan atau memiliki hunian sebesar itu.


"Indah banget," ucap Adiva kagum. Mengamati kunang-kunang yang beterbangan diatas bunga-bunga taman.


"Tidak menyesal sama sekali tinggal disini. Terkadang kalau malam ada kunang-kunang yang dateng, beterbangan mengitari rumah ini dengan keindahan mereka,"


Alzam memeluk Adiva dari belakang, pelukan suami yang selalu membuat Adiva merasa nyaman. Sudah setahun lebih mereka menikah, Adiva berharap semoga kedepannya hubungan mereka semakin romantis dan langgeng.


Gairah bercanda dan bercinta di setiap kelam malam, yang begitu menggebu dan menggelora didalam kamar yang nyaman.


"Baby W udah tidur belum sayang?"


"Udah mas. Nanti kalau baby W udah berumur tiga tahun, kita sekolahin dia yuk. Nyekolahin baby W lebih dini itu akan jauh lebih bagus buat perkembangan otaknya mas?"


"Sangat setuju dong! Baby J harus mendapatkan fasilitas kehidupan yang layak. Menuntut ilmu setinggi mungkin karena dia adalah calon penerus kehebatan papahnya di masa depan. Oh iya, mata kamu yang terkena lemparan batu, udah ga sakit lagi?"


"Udah mendingan,"


"Maafin saya ya?"

__ADS_1


Adiva berbalik badan lalu menatap heran ke wajah suaminya. Kenapa suaminya mengucapkan permintaan maaf, kan dia tidak bersalah apa-apa. Tidak berselingkuh, tidak melakukan KDRT, tidak malu-maluin dirinya?


"Why? Apa salah kamu sama aku? Kenapa kamu harus minta maaf, mas?"


"Bukan aku, tapi mewakili mama aku. Biar gimanapun, mama Linda adalah mama kandungku, orang yang sudah melahirkan dan merawatku hingga dewasa. Aku nggak enak karena mama Linda sangat jahat sekali sama keluarga kamu. Menghabisi nyawa Zahra, menyakiti kamu,"


"Bukan salah kamu, itu salah mama kamu, jadi kamu nggak usah repot-repot buat minta maaf sama aku mas. Perihal mama, kan waktu itu aku udah bilang mas, aku bisa maafin kejahatan mama asal dia menunjukkan perubahan yang lebih baik selama masa dipenjara. Tapi apa? Lagi-lagi itu semua cuma omong kosong saja. Mama malah kabur dan sekarang dia meneror kita!"


Adiva menundukkan wajahnya kemudian melangkah menuju sofa. Mengambil segelas teh yang tersaji dengan hangat dan manis diatas meja kamar, Adiva meminumnya sampai tersisa beberapa gelas. Tatapannya terlihat dingin kalau mengingat kelakuan-kelakuan bejat mama Linda.


Kenapa ada mama mertua sekejam dan sejahat mama Linda? Bahkan tidak segan-segan menghabisi nyawa orang lain hanya demi ambisinya. Alzam mengikuti Adiva duduk di samping Adiva. Satu gelas teh yang tersisa Alzam juga ikut meminumnya.


"Pokoknya kita harus selalu waspada ya mas? Terkadang musibah akibat kejahatan manusia lain datang dari arah yang tidak kita sangka sebelumnya. Kita perlu berhati-hati dimanapun dan kapanpun. Apalagi disaat seperti ini, wanita yang sangat membenci aku sedang berkeliaran di luar sana, pasti dia sedang merencanakan berbagai cara kejam buat bikin aku menderita," ucap Adiva lalu menatap datar ke wajah Alzam.


Menjaga baby W dengan ekstra ditengah kaburnya tahanan wanita psikopat itu pasti akan Adiva dan Alzam prioritaskan. Mereka berdua akan menjaga dan melindungi baby W dengan ekstra. Jangan sampai baby W diculik oleh mama Linda apalagi dicelakai sampai mati. Keamanan rumah ini perlu diperketat lagi. Alzam akan mengundang teknisi buat memperketat keamanan pintu jendela via kunci otomatis.


***


"Kok tiba-tiba perasaan aku gak enak ya," ucap seorang wanita yang sedang duduk sendirian diatas kasur. Tidak sendirian sih, ada seorang bayi yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Itu adalah Dilla, anak dari Amel dan Alex hasil hubungan terlarang mereka di masa lalu.


Tapi untungnya Daffa tidak membenci Dilla meski sudah tahu kalau Dilla bukanlah anak kandungnya. Daffa yang baik tetap menjaga dan menyanyangi anak hasil dari hubungan gelap itu.


Dari luar rumah tepatnya di samping sebuah pohon besar di depan rumah Daffa dan Amel, terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri sembari memegang sebuah batu berukuran cukup besar. Wanita itu adalah wanita yang sedang diburu oleh pihak kepolisian. Wanita itu masih berkeliaran buat menaburkan teror kepada orang-orang yang dia inginkan untuk diteror.


Apa yang akan dilakukan oleh mama Linda dengan batu besar itu? Dahulu, mama Linda dan Amel adalah mertua dan menantu yang kompak. Sering bekerjasama buat bikin Adiva menderita. Tapi sekarang, mereka malah saling membenci satu sama lain.

__ADS_1


Terutama mama Linda yang tidak terima uangnya dipergunakan oleh Daffa dan Amel buat membeli rumah mewah ini.


Mama Linda mengamati dengan detail selama beberapa saat rumah mewah didepannya. Bangunan yang berdiri kokoh didepannya sangatlah mewah. Mama Linda ingin sekali menjadi ratu di rumah mewah ini.


"Rumah ini dibeli menggunakan uangku. Jadi harusnya aku yang memiliki tempat ini. Amel, kamu telah mengecewakan mama! Jangan salahin mama kalau mama, bikin kamu menyusul si Zahra ke alam baka!" ucap dingin mama Linda dengan nada pelan sembari meremas kuat batu yang ia pegang.


Mana penjagaan di sekitar rumah Daffa dan Amel tidak seketat penjagaan di sekitar rumah Alzam dan Adiva. Tentu saja hal itu akan memudahkan mama Linda buat menerobos masuk ke dalam hunian itu, lalu bergerak mencari mangsa yang ia inginkan buat ia bantai.


Hanya ada satu satpam yang sedang berjaga di dekat pos penjagaan. Mama Linda bergerak dari belakang satpam itu, lalu mama Linda dengan kejinya memukul kepala satpam itu sampai bocor menggunakan batu besar yang ia pegang. Darah segar keluar dari bagian bekas pukulan batu. Batu yang mama Linda pegang itu berubah warna menjadi merah.


Alhasil nyawa satpam itu melayang seketika. Benar-benar tega! Seorang wanita yang tak punya hati. Alangkah ngerinya jika bertemu atau mempunyai mertua seperti mama Linda ini. Pasti kehidupan akan terasa tidak tenang dan tidak nyaman.


Kemudian, mama Linda melangkah menuju jendela kaca di area samping kanan rumah. Jendela kaca itu menghubungkan dengan kamar Amel dan bayinya langsung. Bukan kamar utama Amel dan Daffa.


Mama Linda mencoba membukanya dan jelas saja dikunci. Apa memecahkan kaca jendela menggunakan batu besar berdarah yang ia pegang itu adalah solusi terbaik?


"Pyaaaar!"


Dari dalam rumah terdengar suara kaca yang dihancurkan oleh seseorang. Amel yang sedang mendengarkan musik kencang menggunakan headphone tidak terlalu mendengar suara pecahan kaca itu. Amel dengan santainya malah mengabaikan suara itu.


Tahu-tahu mama Linda sudah berdiri aja di belakangnya sembari memegang batu besar yang siap digunakan buat memukul kepala Amel sampai Amel mati seperti si satpam tadi.


Apakah mama Linda berhasil membuat Amel celaka?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2