
Bab 25
"Napa sih lo selalu aja cari masalah sama gue? Kenapa semua orang jahat sama gue?" tanya Adiva dengan wajah sedih.
Alzam entah mengapa malam ini begitu emosional, apa yang terjadi dengannya? Kenapa segala sesuatu yang dilakukan oleh Adiva membuatnya marah pada malam hari ini?
Adiva kemudian mengambil sapu dan juga sebuah alat untuk menampung pecahan beling yang akan disapu. Adiva menyapu beling-beling itu dengan begitu teliti agar tidak sampai ada satu beling pun yang tertinggal di lantai. Bahaya, nanti kalau sampai ada beling yang tertinggal di lantai, bisa melukai kaki orang yang memijaknya.
Gadis yang terus dimarahi itu lanjut memunguti satu persatu beling memakai tangannya karena tidak semua beling bisa disapu, Alzam terus mengamati gerak-gerik istrinya dari atas kasur dengan perasaan bersalah. Kali ini dirinya sudah bersikap dengan cukup kelewatan kepada istrinya. Wajahnya yang memerah perlahan merona kembali.
Saat sedang sibuk memungut satu persatu beling yang pecah di lantai, ibu jari Adiva tergores pecahan beling sampai mengeluarkan darah segar. Tapi Adiva sama sekali tidak peduli dengan lukanya dan lanjut memunguti beling dengan teliti. Alzam sangat terkejut melihat Adiva tidak mempedulikan luka yang ada pada ibu jarinya. Alzam bisa melihat dengan jelas darah yang terus mengalir dari jempol istrinya, berceceran diatas keramik.
Alzam buru-buru menghampiri Adiva kemudian menyarankan Adiva untuk merawat lukanya terlebih dulu, Alzam tidak ingin terjadi infeksi di luka istrinya meskipun itu cuma luka yang biasa.
"Adiva, ambil kotak P3K diatas lemari, rawat luka kamu,"
"Gue udah biasa , ini kecil bagi gue, gue mau rawat luka ini nanti kalau udah selesai membersihkan beling-beling ini,"
"Kamu tidak perlu membersihkan beling-beling ini, biar saya saja, lagian saya yang membuat beling-beling ini menjadi berserakan diatas lantai."
"Tapi, ntar kalau gue nggak bersihin beling ini, nanti lo marah?"
"Jangan panggil saya lo gue atau kak, panggil saya mas, saya ini kan suami kamu Adiva?"
__ADS_1
"Hmm, kita kan lagi berdua aja kak,"
Sekarang Alzam kembali bersifat lembut sama seperti biasa, merasa menyesal dan juga merasa bersalah karena sudah membuat Adiva jadi serepot ini pada malam yang lembab ini.
"Yaudah nanti saya bantu kamu merawat luka bekas goresan beling itu ya, sekarang kita sama-sama membersihkan beling ini. Hari ini saya sedang kalut banget, saya gagal memenangkan tender proyek senilai 500 milyar. Padahal tender besar itu sudah saya incar dari lama, saya dan tim sudah berusaha semaksimal yang kita bisa, namun baru kali ini Atalarik Corp gagal memenangkan tender, saya takut mama jadi kecewa," tutur Alzam menceritakan keluh kesahnya dan apa alasan menjadi emosional itu pada malam ini.
"Jadi karena itu, kak Alzam menjadikan gue sebagai pelampiasan kemarahan kakak tadi? Padahal kalah menang adalah hal yang udah biasa kak, belum rezeki aja ih."
"Bukan soal urusan kalah menang, tapi ini soal kejujuran. Saya curiga pihak lain ada yang menggunakan praktik kolusi, praktik kecurangan memenangkan tender. Saya akan suruh orang kepercayaan saya untuk selidikin itu."
"Gue sih belum terlalu ngerti soal gitu-gituan, tapi yang gue ngerti adalah, kak Alzam makin ganteng deh kalau lagi marah, gih marahin gue sepuasnya, gue rela kok asalkan kakak bahagia."
Sejenak Alzam memandang Adiva seperti tatapan orang yang tidak percaya, saat seperti ini Adiva berani bercanda dan menggoda dirinya, baru kali ini ada orang yang menyebutnya tampan saat dirinya sedang murka?
Adiva langsung memotong ucapan suaminya dengan lembut. Jari telunjuk ia rekatkan ke bibir sang suami.
"Habis ini kita makan bareng ya, setelah itu gue pijitin mau nggak? Biar rileks,"
"Hah, kamu mau mijitin saya? Emang kamu bisa mijit?"
"Ya nanti lihat aja deh kak,"
Alzam tersenyum. Usai membereskan beling-beling nakal itu, mereka sama-sama pergi ke meja makan. Adiva ingin melanjutkan makan yang tadi sempat tertunda karena ulah suaminya. Di meja makan, ada seseorang yang membuat mereka terkejut karena mama Linda sudah duduk anggun disana, ya meski tatapannya masih tidak bersahabat dan sedang memain-mainkan garpu seperti seorang mama psikopat. Mama Linda sedang duduk sembari menatap sinis kearah depan. Ngeri deh!
__ADS_1
Mama Linda duduk di kursi utama. Alzam mengajak Adiva untuk duduk berjejeran di dekat mama Linda. Adiva terasa canggung tapi ia harus menuruti ajakan suaminya.
"Mama sudah sehat? Kami senang melihat mama mau berkumpul bersama dengan kami di meja makan? Mari kita makan sama-sama ya ma? Jangan ada keributan lagi diantara kita," ucap Alzam pelan mencoba melunakkan hati mamanya.
Mama Linda cuek, masih terdiam dengan tatapan nyalang, menunggu Daffa yang belum juga datang ke meja makan. Adiva juga terus menundukkan kepalanya, takut melihat wajah mama mertuanya yang sadis dan sangat tidak bersahabat. Ternyata punya mertua yang galak itu tidak menyenangkan juga ya, pikirnya.
Bukankah seorang mertua dan menantu itu harus kompak? Tapi Adiva sadar dirinya itu hanyalah remahan rengginang diantara tumpukan kentang goreng premium. Adiva bisa mengerti alasan kuat mama Linda membencinya, meskipun apa yang dilakukan mama Linda juga bukan hal yang patut untuk dibenarkan. Adiva tahu itu ga boleh.
Tak lama berselang Daffa datang ke meja makan, makanan hampir saja dingin karena menunggu Daffa terlalu lama. Daffa sempat ketiduran saat sedang mendengarkan musik.
"Kamu ngapain aja sih Daf, baru datang kesini? Lama amat mama nunggu!" tanya mama Linda memekik.
"Daffa sempat ketiduran ma tadi. aduh maafin Daffa ya? Gara-gara menunggu Daffa, makanan udah dingin ya?"
"Bentar, mama suruh pembantu buat manasin lagi makanan, Bi... Bibii? Tolong panasin lagi makanannya," teriak mama Linda memanggil ARTnya.
"Baik nyonya," sahut bi Sri dan juga bi Turi berdatangan ke meja makan.
Sementara menunggu makanan hangat, mama Linda tersenyum sinis beberapa detik kearah Adiva, dirinya ingin membuat hati menantunya itu jadi tertekan lagi. Mama Linda akan menyindir Adiva, sampai Adiva menangis dan merasa tidak tahan disindir olehnya.
"Alzam, Alzam, diluaran sana masih banyak wanita yang anggun, wanita yang punya kehormatan tinggi, tapi mengapa kamu malah kena pelet wanita miskin seperti dia? Semoga pengaruh pelet itu segera hilang nak," harap mama Linda yakin kalau Adiva itu pakai ilmu hitam.
"Mama ini kenapa sih menuduh istri aku terus, dia itu wanita baik ma, dia rajin sholat, penampilan acak-acakan pun tidak selalu isi hatinya acak-acakan juga. Daripada yang penampilan super anggun, tapi hatinya busuk. Seperti wanita sombong matre yang dijodohkan dengan Alzam itu," sahut Alzam menyindir perempuan kaya kebanggaan mamanya, yaitu Amel.
__ADS_1
"Bocah edan, kamu menyindir si cantik Amel? Hmm, dia akan mama jodohkan dengan Daffa sih dan mama jamin, dia akan tinggal disini juga, dan dia akan menjadi satu-satunya mantu kesayangan mama," ujar mama Linda nyelekit.