MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Pertikaian Dengan Mertua Lagi


__ADS_3

"Ah yaudahlah, sampai dirumah nanti kamu langsung mandi ya. Mungkin, mulai besok kalau kamu mau pergi keluar rumah, kamu harus dijaga sama bodyguard deh sayang."


"Nggak lah mas, aku bisa jaga diri aku sendiri. Kamu gausah repot-repot carikan aku penjaga. Kan udah ada kamu yang jagain aku." kata Amel merayu suaminya.


Tumben sekali Amel berbicara dengan memuji hangat suaminya. Karena Amel, sekarang malah takut kehilangan Daffa, seandainya suatu saat tahu kalau dirinya pernah hamil diluar nikah dengan laki-laki lain, Amel takut semua orang akan membenci dan menghujat dirinya. Termasuk suaminya ini. Suami yang selalu sedia membela saat Amel sedang dapat masalah.


Sekarang Amel sadar, betapa istimewanya mempunyai seorang suami yang sayang dan tulus mencintai. Namun, Amel sekarang menatap kedepan dengan tatapan yang berencana.


"Minggu depan aku akan cari rumah sakit yang tepat buat aku melakukan aborsi. Aku tidak ingin punya anak dari laki-laki lain, selain suamiku. Dan malam ini, aku akan melayani suami aku diatas ranjang. Aku nggak mau dia terus menunggu dan kecewa!" monolog Amel dalam hati kemudian menatap mesra suaminya yang masih berdiri di belakangnya. qq


Nyiur melambai di pepohonan kota Jakarta. Matahari mulai menunjukkan cahaya senjanya, dia matahari mulai terlihat akan terbenam di ufuk barat. Adiva sedang duduk sendirian didepan cafe pemberian ayah Lisa. Wajahnya terkena terpa cahaya matahari senja yang indah.


Adiva sedang bersama Lisa dan ayahnya. Mereka habis mengecek keadaan cafe. Adiva dikasih lihat berapa banyak pengunjung yang datang dan apa saja menu-menu makanan yang menjadi menu signature dalam cafe ini.


"Adiva, asal kamu tahu kalau cafe ini sudah dibangun dari tahun 2000 lalu. Awal waktu buka cafe ini langsung ramai pengunjung loh, namun sempat akan digusur karena lahan disini akan dijadikan area jalan utama. Namun karena kebijakan dari pemerintah setempat, untunglah cafe ini tidak jadi digusur." tutur ayah Lisa menceritakan masa lalu dari proses berdirinya cafe ini.


"Sebenarnya cafe ini penuh dengan sejarah Adiva. Dari cafe ini kami punya topangan awal atau modal baru ayah dapatkan. Dan modal itu bisa digunakan buat merintis bisnis-bisnis kecil berikutnya yang lama-lama berkembang menjadi besar, bahkan sekarang ayah aku bisa bikin sebuah kampus yang diakui gengsinya oleh khalayak umum. Aku bangga sama ayah!" sahut Lisa menceritakan sejarah bisnis yang penuh dengan keringat dan perjuangan itu.


"Aku jadi terharu karena cafe yang penuh sejarah ini ternyata adalah cafe yang sangat istimewa. Aku bangga dengan pemberian ini. Suatu kehormatan buat aku. Terimakasih ya pak? Saya janji akan berjuang, mengurus cafe ini dengan baik, hingga saya bisa sukses seperti anda pak." ucap Adiva tersenyum kepada ayah Lisa dan juga Lisa.


"Sama-sama nak. Semoga kamu bisa termotivasi dengan pemberian kecil yang saya berikan ini. Kamu harus selalu berikhitiar dan berusaha dalam menggapai mimpi-mimpi indahmu." balas ayah Lisa senang melihat semangat yang ditunjukkan oleh Adiva.

__ADS_1


Adiva tersenyum sambil menatap-natap area depan cafe. Lalu Adiva berpegangan tangan dengan Lisa, musuh yang sekarang menjadi sahabatnya. Mereka sama-sama senang dengan keadaan yang sekarang, saat dimana mereka sudah baikan dan tidak saling menyerang satu sama lain lagi.


Lalu Adiva pulang kerumah dengan diantar oleh Lisa menggunakan mobil mewah pink kesayangan Lisa. Adiva turun dari mobil dan Lisa juga turun menyusul Adiva. Sebelum Lisa berpamitan, mereka cipika-cipiki terlebih dulu. Mereka berdua sedang dilihatin oleh mama Linda yang sedang berkacak pinggang didepan rumah.


"Dia udah pulang! Abis ini mau aku sindir lagi ah, sebelum anakku Alzam pulang dari kantor. Aku akan bikin dia stress dan ga betah, lalu minggat deh dari rumah saya!" ujar mama Linda dengan nada bicara yang pelan.


"Yaudah kalau gitu aku balik dulu ya beb? Sampai jumpa besok dikampus?"


"Iya beb Lisa, sampai ketemu besok, dadah Lisaa..." balas Adiva seraya melambaikan tangan.


Lisa masuk kedalam mobilnya dengan wajah happy dan kemudian melajukan mobilnya pergi. Adiva masih berdiri didepan gerbang sampai mobil Lisa sudah cukup jauh melaju pergi. Tiba-tiba saat berbalik badan, sang mertua sudah sedang berdiri sinis di belakang Adiva. Mama Linda menatap Adiva seperti tatapan seorang iblis betina.


"Mama?"


"Hmm, iya tante."


"Cih! Kenapa kamu malah memanggil saya dengan sebutan tante?!"


"Terus maunya dipanggil apa sih? Miss, putri, atau ratu?"


"Panggil saya nyooonya!"

__ADS_1


"Haah, nyonya? Memangnya saya pembantu tante? Nggak ah, saya panggil tante aja ya. Lebih cocok sih, hehehe."


"Jangan membantah atau saya akan tampar kamu lagi! Mau saya tampar muka kamu yang penuh dengan kuman itu?"


"Nggak dong, masa iya sih saya biarkan wajah cantik saya di tampar seenaknya. Kan sakit tahu! Tapi aku kan menantu mama, bukan seorang pembantu dirumah ini. Aku kan istrinya mas Alzam, dia anak mama juga seorang CEO yang mengurus perusahaan keluarga mama. Sangat tidak etis dong kalau saya istrinya memanggil tante dengan sebutan nyonya."


"Tapi saya nggak suka dipanggil tante-tante ya! Dasar menantu kere ga berguna! Kakak kamu aja dulu ga protes tuh!"


Mama Linda keceplosan didepan Adiva membicarakan soal kejahatannya kepada Zahra dulu.


"Bahkan kakak aku yang baik dan sopan itu mama jadikan seorang pembantu? Apakah itu benar? Gimana ya kalau mas Alzam tahu, kalau ibunya itu adalah seorang iblis yang kejam!"


"PLAAK!"


Lagi-lagi wajah Adiva mendapatkan gamparan. Mama Linda menampar Adiva karena amarahnya kembali memuncak.


"Keluarga sampah kalian memang layak disebut dengan sebutan babu! Dari dulu saya memang tidak menyukai kakak kamu. Bahkan dia meninggal dibunuh pun, saya gak peduli! Malah saya senang, satu sampah udah terbuang namun saya kembali kesal, karena sampah baru yang lebih menjijikkan datang ke rumah saya!"


"Jahat banget sih mulut tante! Oke kalau sekarang tante menganggap aku dan almarhumah kakak aku sekedar sampah yang menjijikkan, tapi ingat tante, roda itu berputar! Bisa jadi Tuhan tidak akan membiarkan tante terus hidup dalam kesombongan tante! Yaudah, aku mau masuk dulu kedalam. Mau mandi, terus masak buat suami aku tercinta." ucap Adiva tetap berusaha tegar didepan mertuanya. Adiva sama sekali tak sedih dan masa bodo dengan sikap mertua jahatnya.


Adiva lalu berjalan menuju kedalam rumah, tanpa mempedulikan barusan sikap kasar mama Linda kepadanya.

__ADS_1


"Dasar menantu bebal! Saya tidak akan pernah menyerah! Saya akan terus berusaha, sampai saya bisa nyingkirin kamu dari rumah ini! Sulit sekali mengalahkanmu gembek!" teriak kesal mama Linda didalam hatinya.


Bersambung...


__ADS_2