
"Sayang, disini sinyal susah, mau menghubungi kamu aja susah banget. Semoga kamu belum melahirkan anak kita ya. Saya ingin sekali menjadi suami yang menemani istrinya disaat kamu sedang berjuang buat melahirkan anak kita." harap Alzam dalam hatinya.
Lantas Alzam kembali berbaring lalu berusaha memejamkan kedua matanya, meski ia masih sulit tertidur. Obat tidur yang selalu ia minum, lupa dibawa. Kalau diluar kota Alzam memang punya kebiasaan sulit tidur.
Alzam berusaha memejamkan matanya, memancing rasa kantuk itu datang dengan membayangkan suasana-suasana hangat yang bikin nyaman. Seorang misterius berjubah hitam melangkah mendekati Alzam. Orang jahat itu memegang sebuah pisau yang siap untuk ditikamkan ke bagian tubuh Alzam.
Saat orang misterius itu yang ternyata adalah suruhan si jahat pak Nick sudah bersiap untuk menusukan pisau, Alzam malah menggeliat dan pisau itu salah sasaran, menusuk kearah bantal guling.
"Woy!"
Alzam terbangun melotot secara tak sengaja, langsung memegang tangan itu dan menyerang balik si pembunuh bayaran. Mereka saling adu fisik satu sama lain. Alzam didorong balik hingga terlentang. Pembunuh bayaran itu menduduki Alzam lalu mengacungkan pisau itu kearah leher Alzam.
Alzam menyesal karena belum makan dari tadi siang, tenaganya jadi agak loyo tapi ia tetap berusaha mempertahankan nyawanya dari serangan si pembunuh bayaran itu.
Kaki Alzam memukul punggung si pembunuh itu dari belakang, lantas si pembunuh itu terguling dan Alzam segera mengapit leher si pembunuh itu menggunakan dua kakinya.
"Siapa yang nyuruh lo keparat!"
Pisau itu direbut oleh Alzam lalu dilemparkan kearah yang lain.
"Siapa yang udah menyuruh lo hah! Bilang sama saya atau saya akan mematahkan tulang lehermu itu!"
Pembunuh bayaran itu batuk-batuk dan minta ampun kepada Alzam. Alzam sedikit melonggarkan cekikan kakinya, memberikan nafas untuk si pembunuh bayaran itu berbicara.
Terlebih dulu Alzam membuka topeng yang dikenakan si pembunuh sebelum ia berbicara. Saat dibuka ternyata mukanya seperti itu, aura jahat memancar dari mukanya, dan Alzam tidak mengenalinya. Usianya terlihat seumuran dengannya.
"Tolong lepaskan saya tuan? Saya kan tidak berhasil bunuh anda?"
"Gila kali gua lepasin lo. Yang ada lu bisa mau nyerang gua lagi!"
"Uhuk uhuk."
"Katakan segera siapa orang yang udah nyuruh lu buat bunuh gua? Atau lu mau gua patahin leher lu sekarang juga hah!"
__ADS_1
"Saya lebih baik mati tuan."
"Yakin? Ucapin selamat tinggal kepada dunia ini."
Alzam kembali mengencangkan apitan kakinya.
"Tidak! Tidak tuan, saya takut mati. Uhuk uhuk. Iya-iya, saya akan mengatakannya. Dia adalah pak Nick, tetangga rumah anda. Dia yang membayar mahal saya kalau saya berhasil membunuh anda tuan."
"Bajingan!"
"Buuug!"
Muka pembunuh bayaran itu mendapat hantaman tangan Alzam. Kemudian pembunuh bayaran itu diringkus dan diikat oleh Alzam. Keesokan harinya Alzam berdiri di tepi pantai menunggu kapal jemputan datang.
Alzam sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya di Jakarta. Ternyata pak Nick cuma omong doang alias masih jahat dan ngedrama pura-pura baik selama ini. Belum sempat ia menyelesaikan pembicaraan penting dengan pimpinan warga pulau. Tapi sang partner bisnis berjanji, dia yang akan berusaha, karena dia juga tahu kondisi Alzam yang sangat mencemaskan istrinya.
Belum lagi soal percobaan pembunuhan itu, yang ancamannya datang dari tetangga rumah, jelas Alzam sangat takut terjadi hal yang tidak diinginkan dengan istrinya.
"Iya sob, hati-hati dijalan ya. Semoga lu sehat-sehat, sama keluarga lu juga."
"Aamiin. Makasih sob doanya."
Akhirnya dari kejauhan Alzam melihat kapal itu datang. Alzam mengangkat semua barangnya dan bersiap menaiki kapal. Kalau sampai rumah nanti Alzam tak sabar lagi akan menghabisi pak Nick dengan tangannya sendiri.
Disisi lain, mama Linda sedang sibuk menanam kentang di kebun dekat penjara. Pagi yang melelahkan dan juga membosankan.
Ia merasa bosan dengan rutinitas harian yang begini-begini saja. Kerja, makan, duduk dan tidur didalam sel. Mama Linda merindukan perawatan manja di salon, belanja baju di mall, makan di restoran mahal, liburan keluar negeri. Seandainya waktu itu bisa diulang, mama Linda tidak akan mau menghabisi nyawa menantunya sendiri kalau tahu penjara itu sekejam ini, membosankan dan bikin sengsara seperti ini.
Mama Linda menanam kentang dengan semrawut dan malas-malasan. Mama Linda juga kangen sofa dan kasur empuknya dirumah. Dan waktunya disini masih belasan tahun lagi.
"Aaaaaa bosan!" teriak mama Linda didalam hati.
Tentu saja ia hanya berani berteriak disitu. Citra baiknya sebagai narapidana teladan harus tetap ia tunjukkan. Namun pentolan napi di sampingnya bisa membaca dari gerak-geriknya kalau mama Linda hanya sedang berpura-pura baik saja. Terlihat dari mimik wajahnya yang bete saat menanam kentang pagi ini, mama Linda kelihatan seperti tidak ikhlas.
__ADS_1
"Hahahahahaha."
Mama Linda menoleh kesamping, heran melihat pentolan napi itu tiba-tiba ketawa sendiri.
"Kenapa kamu tiba-tiba tertawa? Kamu waras kan? Ada hal yang lucu?"
"Waras dong mak. Gua ketawa aja karena nyium aroma sesuatu nih, hahahaha. Ngakak abis! Buat apa sih lakuin itu?"
"Aroma apa sih? Disini kan nggak ada bau apa-apa? Aneh kamu!"
"Aroma kebohongan dong, hahahaha. Kayaknya ada yang lagi pura-pura baik nih, hahahaha."
"Eh siapa maksud kamu? Kalau aku beneran udah baik ya. Kamu lihat kan selama ini kebaikan-kebaikan aku disini? Aku juga sering bagi kalian makanan enak."
"Iya-iya deh mak Linda yang baik hati, hahahahaha."
"Ketawa mulu. Yaudahlah aku mau ke WC dulu kebelet."
Mama Linda melempar pacul mini yang ia pegang lalu berjalan cepat kearah toilet penjara. Sebenarnya mama Linda nggak kebelet, tapi mama Linda mau menyendiri sejenak sembari memikirkan suatu rencana.
Akan sangat menyenangkan kalau dirinya yang jadi boss didalam selnya. Dengan uang dia bisa mendapatkan itu. Mama Linda capek diperbudak terus. Mama Linda akan meminta banyak uang kepada Daffa. Mama Linda ingin dirinya yang menonjol didalam selnya.
***
Singkat waktu, malam pun tiba. Adiva sedang tiduran menemani bayi mungil disampingnya. Adiva mengecup dahi bayi itu. Bayi tampan itu sedang tertidur. Dia adalah calon penerus perusahaan ayahnya di masa depan nanti.
Adiva belum memberi ia nama, menunggu Alzam pulang dan Alzam sendiri yang akan memberinya nama. Sesuai dengan perjanjian dulu, kalau anak yang lahir laki-laki, maka yang berhak memberi nama adalah sang ayah, begitu juga sebaliknya.
Adiva menatap ke jendela kaca, melihat sedikit kearah taman luar dengan bantuan cahaya bola lampu ditaman. Seorang laki-laki perkasa ia lihat tengah berjalan menuju rumah. Dia adalah Alzam. Betapa senangnya hati Adiva. Adiva perlahan bangkit lalu melangkah menuju pintu depan.
"Mas Alzam sudah kembali," ucap Adiva senang sembari melangkah pelan karena baru melahirkan. Tidak sabar lagi melihat ekspresi suaminya ketika tahu bahwa anaknya sudah lahir ke dunia ini.
Bersambung...
__ADS_1