MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Malam Pertama


__ADS_3

"Bukan bermaksud apa-apa, kakak jangan menuduh aku yang menembak mati istri kakak ya! Mana mungkin aku melakukan perbuatan yang seperti itu. Maana mungkin aku mau menjebloskan diriku kedalam penjara hanya karena hal yang sungguh berdosa seperti itu," ucap Daffa seraya menyalakan satu batang rokok lagi.


Alzam tidak suka melihat adiknya yang over rokok, bahkan gigi adiknya terlihat tidak terlalu putih karena ada banyak nikotin yang menempel. Alzam menatap sinis kearah Daffa.


"Sini rokoknya, kamu tahu bahaya merokok!"


Alzam merebut rokok yang dipegang adiknya, kemudian Alzam juga menjitak kepala Daffa.


"Tahu lah, tapi kan aku merokok ditempat yang sepi, nggak mungkin ada orang yang menghirup asap rokoknya kak,"


"Tapi tetap saja, selain membahayakan orang lain, merokok juga membahayakan kesehatan kamu sendiri. Kakak harap kamu belajar untuk berhenti merokok, demi kesehatan kamu ya? Kamu mau kan gajadi beban terus? Kalau kamu sakit, siapa yang terbebani? Kakak dan mama lah!"


Daffa mengerti dan menghargai niat baik dari kakaknya itu. Daffa tersentuh karena secara langsung, Alzam menunjukkan kepedulian kepadanya. Selama ini yang Daffa tahu, Alzam adalah sosok kakak yang dingin dan kurang banyak bicara.


Sebagai seorang kakak, Alzam selalu inginkan yang terbaik untuk adiknya, untuk mamanya juga dan papanya kalau masih hidup.


Singkat waktu, waktu pukul sepuluh malam, Alzam sudah makan dan akan bersiap tidur di samping istrinya. Hasrat ingin bercinta muncul dalam benak Alzam, karena rasa cinta yang mulai tumbuh itu. Alzam melihat tubuh Adiva dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, begitu puas Alzam memandang istrinya. Mengkhayalkan hal yang panas dalam birahi semunya. Alzam mengelus pelan rambut Adiva.


Apalagi saat Adiva menggeliat seksi sejenak, Alzam mendekatkan wajahnya ke wajah Adiva, ingin mengecup bibir mungil itu. Saat itu pula Adiva terbangun dan langsung menonjok hidung Alzam sampai mengeluarkan sedikit darah karena kaget ada wajah Alzam diatasnya! Haha.


"Aaaargh!" rintih Alzam pelan.


Adiva terbangun dalam keadaan setengah sadar, dia tidak terlalu tahu apa yang barusan terjadi. Saat ia sepenuhnya udah sadar, Adiva merasa bersalah karena tangannya tidak terkontrol, malah menonjok hidung suaminya sendiri.


"Aduh maaf mas, aku nggak sengaja?" panik Adiva saat melihat darah keluar dari hidung suaminya.


Adiva buru-buru mengambil tisu diatas meja dan kemudian, Adiva mengelap darah yang mengalir menggunakan tisu itu. Adiva mengelap darah seraya menatap khawatir ke wajah suaminya. Setelah dirasa darah sudah berhenti mengalir, Adiva menyuruh suaminya untuk berbaring.


"Baring dulu mas," titah Adiva dengan nada bicara yang lembut dan menenangkan.


"Istriku bisa lembut juga ya," canda Alzam seraya berbaring.


"Ih kamu ini, sama suami harus lembut dong! Harus sopan."


Adiva pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih hangat buat suaminya. Adiva merasa tidak enak hati karena malam-malam gini sudah membuat hidung sang suami jadi mimisan gara-gara tangannya. Tapi itu tidak sengaja juga sih.


"Maafin aku ya mas sekali lagi, ini kamu minum dulu air putihnya. Aku kaget banget mas tadi ngelihat wajah kamu diatas wajahku. Aku belum pernah berdekatan wajah dengan laki-laki."

__ADS_1


Alzam bangun lalu meminum air putih yang dibawa oleh Adiva.


"Masih sakit nggak hidungnya?"


"Sedikit sakit,"


"Mau menghubungi dokter pribadi?"


"Tidak usah, aku baik-baik saja,"


Kemudian setelah meminum air putih yang dibawakan oleh istrinya, Alzam kembali rebahan. Adiva baru teringat kalau tugas-tugas kuliahnya belum selesai eh dirinya malah ketiduran. Adiva bergegas berjalan ke meja belajar untuk melanjutkan mengerjakan tugas-tugasnya yang belum selesai.


Namun Adiva terkejut karena ternyata, semua jawaban yang harus ia kerjakan dan harus ia pikirkan sudah selesai duluan, saat Adiva cek semua.


"Loh, siapa yang mengerjakan ini semua?" tanya Adiva bingung.


Alzam berdehem keras dari atas kasur, secara langsung menjawab pertanyaan Adiva dengan isyarat.


"Jadi kamu mas yang mengerjakan?"


Alzam mengangguk. Adiva sangat tak menyangka ternyata suaminya yang menyelesaikan semua tugasnya yang menumpuk! Padahal suaminya juga seharian sibuk bekerja di kantor. Adiva langsung berlari dan menjatuhkan dirinya diatas badan atletis suaminya.


"Widih yang ngecup hidung mancung saya. Katanya belum pernah berdekatan wajah eh kamu agresif juga ya, hehe."


"Hah?" balas Adiva kaget,


Adiva baru sadar akan apa yang ia lakukan, dirinya buru-buru bangkit, rasanya malu dan canggung menimpa badan Alzam, padahal dia adalah sama suaminya sendiri, yang sama-sama bebas melakukan apa saja.


"Aku masih polos mas, aku takut dan ga ngerti apa-apa soal itu. Bahkan tadi, aku sampai menojok muka kamu mas ya karena itu,"


"Polos apa polos? heheh."


"mas!"


"Kamu belum terbiasa dan belum pernah dekat dengan seorang laki-laki. Aku suka dengan tipikal wanita seperti kamu. Lama-lama kalau kita udah terbiasa, pasti kamu tiap menit bakalan pelukan diatas kasur sama aku, hehehe."


"Tapi, belum siap mas kalau harus melakukan itu. Aku masih mau kuliah, aku belum mau hamil sebelum aku lulus kuliah. Aku nggak mau kuliah aku terhenti karena aku hamil, tolong ngertiin aku ya? Perempuan seperti aku juga membutuhkan gelar pendidikan terbaik."

__ADS_1


Alzam tersenyum. Alzam adalah laki-laki bijak. Dia bukan laki-laki bodoh yang menganggap, buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi kalau pada akhirnya, jadi tukang masak di dapur.


"Kan bisa aja kuliahnya dilanjutin setelah kamu melahirkan sayang. Aku ga tahan nih."


Sebenarnya Alzam hanya sedang canda saja.


"Nanti kan aku harus sibuk mengurus anak!"


"Tapi aku sudah ingin banget punya jagoan kecil sayang,"


"Ya ampun, mas Alzam kayaknya udah ngebet banget deh."


Adiva merasa bingung harus berbuat apa. Adiva masih ingin kuliah yang akan selesai dalam waktu satu tahun lagi. Adiva ingin segera dapat gelar sarjana, namun apakah Alzam bisa sesabar itu untuk menunggu punya anak? Kehamilan adalah hal yang masih dikhawatirkan oleh Adiva.


"Kalau dipikir-pikir mas Alzam kasihan juga ya, hmm tapi disisi lain aku juga belum mau. Hohoho jadi serba salah deh," gerutu Adiva dilema.


Alzam bangkit lalu memeluk Adiva dengan hangat. Rasanya nyaman.


"Tenang sayang, ada caranya untuk belum hamil dulu walau kita melakukan hubungan itu kan? Aku nggak apa-apa kok kalau kamu belum siap punya anak."


Adiva tersenyum geli, suatu rasa yang aneh, antara takut, mau, pertama kali, dsb.


-*-*-*-


Namun keesokan harinya, mereka sama-sama dengan selimut putih yang menutupi badan mereka. Mereka semalam... Itu adalah malam pertama mereka setelah beberapa bulan menikah.


"Kenapa semalam kamu menjerit lebay Adiva! Untung mama dan yang lain tidak sampai datang ke kamar kita!"


"Udah deh gausah dibahas mas. Aku sudah gak virgin lagi sekarang, hohoho."


"Yaudah, sekarang kita mandi saja istriku."


Selesai mandi satu jam kemudian,


Sarapan pagi di meja makan seperti biasa. kali ini semua orang berkumpul dengan hangat di meja makan. Mama Linda senyum-senyum semu kepada Adiva, masih menjalankan aksi pura-pura baiknya didepan semua orang. Sampai waktu yang akan ditentukan, waktu dimana mama Linda sudah berhasil menghancurkan nama baik Adiva.


"Adiva sayang, sarapan yang banyak ya, biar kamu makin kuat." saran lembut dari mama mertuanya."

__ADS_1


"Iya maa..." balas Adiva senang.


Bersambung...


__ADS_2