
"Lebay amat deh mas, di restoran juga menu kaya gitu banyak. Mau aku pesenin?" tanya Adiva terlihat wajahnya tidak senang.
"Buat apa pesan kalau didepan mata sudah ada sup udang yang nikmat, calon makanan yang akan memanjakan nafsu sarapan saya di pagi ini! Markicob, mari kita cobaaa." jawab Alzam lalu dengan cepat ia mulai menikmati sup udang buatan Jenna, dicampur nasi dan juga sambal.
"Kenapa kamu mas? Masa pagi-pagi begini sarapan sambal, nggak ah! Nanti kamu bisa sakit perut loh."
"Hmm enak banget! Ini mah udah kaya buatan koki bintang tujuh! Nggak Adiva, perut mas kuat. Buruan kamu makan gih masakan Jenna, jauh lebih enak daripada masakan bi Sri. Ntar keburu abis sama aku gimana hayo?"
"Nggak ah aku mendadak mual banget, biasa mas bawaan bayi. Yaudah aku mau istirahat di kamar dulu ya?"
"Oke sayang. Ntar kamu buruan balik kesini lagi, jangan telat makan nanti kamu bisa kena maag!"
Adiva berdiri sembari menatap agak sinis kearah Jenna, Jenna sendiri melihat lantas hanya tersenyum kepada Adiva, seolah ia tidak tahu apa isi hatinya sekarang.
Kemudian Adiva lanjut berjalan dengan perasaan yang agak jengkel menuju kamarnya. Sebenarnya sih Adiva lagi lapar banget, tapi ia ngerasa gengsi kalau harus menikmati sarapan buatan Jenna, juga tidak enak kalau menolak mentah-mentah sarapan itu, jadi penolakan secara halus seperti pura-pura mual ini bisa Adiva jadikan sebagai alasan yang manja untuk ia tidak sarapan makanan bikinan Jenna.
"Jenna, kenapa kamu berdiri saja? Kamu tidak ikut sarapan? Sarapan gih! Ini kan makanan buatanmu juga."
"Emang boleh saya sarapan bareng disini? Ntar yang ada istri kamu salah paham lagi, nggak ah mas."
"Boleh, dia nggak gampang salah paham kok."
"Yaudah kalau gitu mas, aku sarapan ya, selamat sarapan."
Alzam dan Jenna sama-sama menikmati sarapan dengan lahap di meja makan. Sudah dua puluh menitan Adiva duduk bete diatas kasur, sembari merias wajahnya tapi sang suami nggak datang juga kedalam kamar.
"Iih! Badmood deh! Mana sih suamiku nggak datang-datang! Aku cek lagi aja kali ya, ah kembali lagi ke ruang makan, takut mereka lagi bermesraan," khawatir Adiva didalam hatinya.
Saat sampai diruang makan, diam-diam Adiva sedang mengamati suaminya dan Jenna yang sedang ngobrol-ngobrol, membahas hal yang membuat mereka berdua sama-sama terhibur, apalagi saat Adiva melihat si Jenna sedang ketawa-ketiwi cantik, Adiva rasanya semakin kesal.
__ADS_1
Adiva berkacak pinggang lalu melangkah menghampiri mereka berdua.
"Sudah selesai kan sarapannya? Ehm, mba Jenna yang terhormat, suami kamu dirumah nanti ngamuk lagi loh, buruan gih kasih sesuatu buat dia di pagi ini. Pasti dia lagi kelaperan kan." ujar Adiva jutek.
"Iya, kalau gitu saya pulang dulu ya? Makasih atas kebaikan kalian, semoga kalian langgeng dan bahagia selalu ya, permisi?" ucap Jenna seraya tersenyum kepada mereka berdua, namun kenapa senyuman untuk Alzam Jenna beri selembut dan semanis itu.
Adiva terus mengamati gerak-gerik Jenna yang kegenitan itu. Sedangkan Alzam hanya tersenyum saja lalu mengajak Adiva buat ikut mengantar Jenna sampai kedepan rumah.
"Mas, aku nggak mau lagi kalau ada wanita lain nginep di rumah kita! Bomat mau dia diapain kek, yang penting kebahagiaan aku paling utama kan mas?" pinta Adiva saat melihat Jenna sudah melangkah jauh dari rumahnya.
"Hmm, bau-baunya ada yang cemburu nih sama Jenna, hehehe. Padahal mas sama dia mana ada hubungan apa-apa sayang,"
"Iya, tapi dia kegenitan sama kamu."
"Masa sih?"
"Masa?"
"Mas!" pekik Adiva seraya menginjak kasar salah satu kaki Alzam.
Langkah Jenna tampak lesu saat dirinya sedang melangkah menuju rumahnya sendiri. Jenna celingukan kesamping, kedepan, ke belakang, takut suaminya muncul lalu memarahinya habis-habisan.
Jenna mencoba membuka pintu depan dengan perlahan dan ternyata tidak terkunci. Jenna pikir pintu depan dikunci tapi tidak! Jenna langsung nyelonong masuk aja kedalam dan tiba-tiba, rambut cantiknya dijambak lalu dirinya didorong ke sofa oleh pak Nick.
"Kamu! Mau siksa aku lagi di pagi-pagi seperti ini? Dimana nurani kamu mas? Aku mohon lepasin aku dari kehidupan yang menderaku ini!" pilu Jenna, wajahnya amat sangat ketakutan dan gemetar.
"Istri macam apa kamu! Berani sekali kamu nginep dirumah tetangga tanpa izin! Kamu ada apa ayo! Kamu main serong ya sama laki-laki muda itu? Jawab!" kasar pak Nick seraya mencekik Jenna.
Jenna merasakan sesak nafas sampai batuk-batuk, setelah puas melihat istrinya tersiksa karena tercekik, pak Nick melepaskan cekikan jahatnya.
__ADS_1
"Uhuk uhuk!! Aku jawab ya! Aku menginap disana bukan tanpa alasan! Siapa perempuan yang tahan satu rumah dengan iblis gila seperti kamu ini! Dasar suami sialan!" geram Jenna lalu ia tendang burung pak Nick sampai pak Nick terjatuh dan merasakan rasa sakit yang amat luar biasa di bagian yang barusan kena tendang itu.
"Aaaaaa sakit! Istri keparat akan kubunuh kamu!"
"Itu belum sebanding dengan apa yang udah kamu lakukan kepadaku selama ini! Aku nggak mau jadi wanita lemah terus, mulai detik ini juga! Aku akan berani melawan kesombongan dan kegilaan kamu mas!"
"Sialan!"
Pak Nick berusaha bangkit ditengah rasa sakitnya, lalu pak Nick pukul wajah Jenna sampai Jenna tersungkur kembali diatas sofa. Jenna memegang bibirnya yang mengeluarkan darah akibat pukulan dari si iblis itu.
"Dasar laki-laki laknat!"
Lantas Jenna kembali mendorong pak Nick dan langsung berlari menuju kamarnya.
"Sialan Jenna! Sekarang kau berani melawanku hah! Ingat sama anak-anak di Amerika! "
Lalu Jenna mengunci pintu agar pak Nick tak bisa masuk. Jenna bersandar dari balik pintu sembari duduk menangis meratapi nasibnya yang malang.
"Seandainya suamiku seperti mas Alzam..." isak Jenna, wajahnya terlihat teramat sedih sekali.
***
Kembali kedalam penjara, mama Linda sedang sarapan pagi bersama para tahanan lain. Mereka duduk berjejeran di ruangan makan. Mama Linda makan nasi cadong, ia belajar menikmati makanan khas penjara itu, meski teksturnya keras tapi daripada ia kelaparan seperti hari-hari biasanya. Lauknya hanya tumis kangkung dan ikan lele goreng.
Perlahan mama Linda mulai bisa menerima makanan itu, sembari menunggu makanan kiriman dari anak-anaknya datang. Tapi sebenarnya mama Linda tidak benar-benar ingin berubah. Ia berencana kembali menipu menantunya yang malang itu, ia ingin menampilkan citra dan kesan sebagai narapidana yang baik, yang penuh penyesalan, supaya janji Adiva membebaskan dirinya atau dapat remisi bisa ia dapatkan.
"Aku harus main cantik! Nggak apa-apa disini masih lama tapi yang penting jangan sampai dua puluh tahun lah. Aku nggak mau masa tuaku habis buat tinggal di tempat yang membosankan dan busuk seperti ini!" batin mama Linda seraya menyendok nasi cadong.
Bersambung
__ADS_1