MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Perasaan Tidak Enak


__ADS_3

"Tidak pernah suka sama orang yang suka kepo sama urusan orang lain. Tidak suka sama orang yang suka bahas kejelekan orang lain bareng-bareng. Hidupku, akan aku manfaatin dengan sebaik-baiknya. Tahta dan kekayaan yang dititipkan oleh Allah ini akan aku gunakan dengan sebaik-baiknya. Ngapain ngurusin kehidupan orang lain. Mulai sekarang aku harus tetap tenang, tapi kenapa sulit bagi aku ya? Masih aja kepikiran laki-laki yang kemarin ketemuan dengan istriku. Harus aku selidiki siapa laki-laki itu. Kurang ajar!" gerutu Alzam seraya membetulkan rambutnya yang kurang rapi.


Saat jam istirahat kampus, Adiva tengah berjalan ditengah koridor kampus. Adiva menggerakan kedua bola matanya kesana kemari, memindai keadaan di sekitarnya. Ia takut bodyguard ganteng itu datang lagi dan terus mengikutinya kemana saja ia pergi.


"Syukurlah, bodyguard rese itu udah pergi. Jadi aku bisa bebas melangkah sepuasnya tanpa diikuti sama bodyguard itu! Yeeeeiy!" ucap Adiva senang seraya berjalan girang tersenyum penuh kemanjaan.


"Kata siapa? Aku ada dibelakang nyonya muda nih, hehehehe." kata Bandi tiba-tiba saja dari belakang Adiva. Bandi diam-diam mengikuti langkah Adiva dari belakang.


Adiva langsung berhenti melangkah dan membuka mulutnya tak percaya. Orang yang ia pikir sudah pergi jauh dari kampus ternyata masih ada di kampus dan sekarang ia sedang berdiri di belakangnya. Lisa tidak berhasil mengusir bodyguard ini dari kampus.


Ponsel Adiva tiba-tiba berbunyi tanda ada pesan yang masuk.


"Aduh sorry ya beb, aku cuma bisa bantu kamu tadi pagi aja. Habis itu aku nggak bisa bantuin kamu lagi, susah urusan kalau sama seorang bodyguard mah, apalagi badan dia segede lemari, aku takut dijadiin perkedel manusia sama dia beb. Tetep semangat ya apapun yang terjadi, miss youu say. Eh tadi aku rela dimarahin sama dosen loh beb. Udah ya, nanti malam kita cerita di chat! Takuuut!" ketik Lisa ketakutan.


Pesan panjang itu diketik oleh Lisa yang sedang ketakutan karena sebenarnya, tadi setelah dimarahin dalam ruang dekan, Lisa langsung di skakmat habis-habisan oleh Bandi. Didepan ruang dekan, Lisa dimarahi habis-habisan oleh Bandi. Lisa mengingat kejadian setelah dimarahi rektor kampus tadi pagi. Habis itu giliran kena marah dari Bandi.


"Kamu mau fitnah saya ya sampai saya diusir dari kampus ini! Kamu tahu saya disini tidak ada niat macam-macam sama sekali! Saya cuma ditugaskan dan saya juga dibayar untuk menjaga nyonya muda. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Adiva, apakah kamu mau bertanggung-jawab?"


"Iya! Memang aku sengaja bikin kamu terusir tapi gagal, hiks. Tapi kamu dan juga orang yang suruh kamu nggak boleh kaya gini, buat jagain Adiva sampai segininya, harus tahu perasaan Adiva juga dong! Siapa sih yang nggak risih saat diikuti oleh seseorang terus, kemana aja diikuti. Kalau gue yang kaya gitu, juga bakalan risih tahu!"


"Tapi ini menyangkut keselamatan nyawa nyonya muda. Kamu jangan ikut campur urusan saya sama nyonya muda. Lebih baik kamu kuliah yang rajin, belajar yang pinter, berusaha jadi orang yang sukses, agar kamu bisa membanggakan kedua orang tua kamu. Kalau kamu berani ikut campur lagi, tangan saya ini nggak akan segan-segan menjadikan kamu sebagai perkedel manusia!" ancam Bandi seraya mengacak-acak rambut indah Lisa.


Lisa membuka mulutnya seraya memutar-mutar bola mata panik. Lantas Lisa melihat badan Bandi yang begitu kekar itu, mustahil dirinya bisa mengalahkan Bandi dan membantu Adiva sahabat terbaiknya, lebih jauh.

__ADS_1


"Iya, gue menyerah. Gue nggak mau ikut campur lagi permasalahan Adiva. Tapi satu hal yang ingin gue bilang adalah, lo jagain baik-baik dia ya. Dia bestie gue, gue juga nggak mau kalau dia kenapa-kenapa."


"Oke bagus! Tapi kamu nggak akan aku lepasin begitu aja. Kamu sudah main-main dengan aku, bahkan barusan kamu mau fitnah aku melakukan pelanggaran di kampus ini denganmu? Oyy, cewek agresif! Siapa nama kamu?"


"Iih, tadi kan udah dikasih tahu kalau nama aku Lisa. Kamu nggak dengar waktu rektor lagi marahin kita, dia kan manggil aku Lisa!"


"Ya emang aku tahu nama kamu Lisa! Kamu secantik Lisa girlband Korea itu juga ya,"


"Terus kenapa lo tanya nama gue? Nggak jelas banget sumpah!"


"Setiap hari aku kan bakalan dateng kesini. "


"Ih, apa maksud lo! Gaje banget sih?"


"Jangan kurang ajar ya! Gue tuh nggak sembarangan ngasih nomor HP, apalagi ngasihnya ke orang yang gue nggak kenal sama sekali. Tolong lo pergi dari hadapan gue, gue eneg tau lihat muka lo yang sok kegantengan itu!"


"Apa? Gua sok ganteng? Gua emang ganteng kali. "


"Idih kepedean! Orang ganteng itu yang lain juga mengakuinya. Bukan lo sendiri yang mengakuinya!"


"Hahaha, banyak kok yang mengakui kegantengan gua. Gua yakin semua cewek di kampus ini juga setuju kalau gua ganteng. Kecuali buat cewek yang gengsi buat mengakuinya,"


"Cih! "

__ADS_1


"Buruan jangan banyak basa-basi, kasih tahu nomor HP lu sekarang juga!"


"Nggak mau!"


Lisa mendorong Bandi lalu buru-buru berjalan pergi sebelum bodyguard Adiva itu meminta lagi suatu hal yang lebih jauh. Ia takut membagi nomor HP dengan laki-laki yang tak dikenal. Karena itu Lisa terus kepikiran sampai sekarang saat jam istirahat. Padahal sebenarnya, Lisa juga penasaran dengan sosok bodyguard level tinggi itu.


"Iih, itu cowok rese banget sih! Mentang-mentang ganteng! Aduh, Lisa kamu ngomong apa sih! Pahit, pahit, pahit, dia nggak ganteng sama sekali! Cih! Cowok nyebelin!" sewot Lisa sendirian dibalik pohon belakang kampus, dekat sebuah danau yang indah.


***


Waktu terus berlalu hingga saat sore pun datang. Hujan turun di sore hari ini, sesaat setelah pelajaran berakhir pada hari ini. Adiva berdiri di depan kampus sembari menatap kearah langit yang sangat mendung juga banyak tetesan air yang turun dari si mendung. Entah kenapa perasannya seperti punya firasat yang tidak enak. Apa yang sebenarnya akan terjadi? Karena barusan ia melihat seorang berjubah yang berlari dipojok samping kanan, dengan jarak puluhan meter dekat unit kesehatan kampus.


Suasana di kampus sudah cukup sepi. Adiva melihat ke kanan dan ke kiri, masih ada beberapa orang yang tersisa, namun mereka juga sudah akan pulang ke tempat tinggal mereka masing-masing. Ada yang memakai motor, mobil, ada juga yang memakai payung lalu jalan kaki mencari angkutan umum.


Sekarang tinggal Adiva saja dan beberapa orang dosen yang masih berada dalam ruangan kerjanya, untuk mengecek materi tugas-tugas yang akan diberikan kepada para muridnya esok hari.


Adiva sendiri tidak tahu Bandi sedang berada di mana tapi yang pasti Adiva merasa butuh Bandi juga disaat yang sunyi seperti ini. Takut ada kejahatan yang datang, yang tidak ia duga sebelumnya, apalagi dia juga seorang wanita. Meski ia pandai bela diri, kekhawatiran itu tetaplah ada.


Adiva duduk sejenak diatas teras sembari menunggu jemputan sopir pribadi datang. Adiva juga tidak melihat motor milik Bandi terparkir didepan kampus.


"Kemana perginya dia? Bukannya dia harus on time jagain aku terus. Aduh sepi banget lagi, dan aku merasa kaya ada yang lagi mengamati aku deh. Tapi apa itu cuma perasaan aku aja ya?" ucap Adiva pelan sembari memindai keadaan sekitar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2