
"Udah ya ma, jangan salahin kakak terus. Ini aku bawain mama selimut buat mama tidur nanti malem biar ga kedinginan. Pasti kalau malam dingin kan ma didalam sel? Mama dapat alas tikar nggak sih?" tanya Daffa dengan tatapan peduli.
"Nggak sayang. Napi-napi gila yang satu sel dengan mama, mereka tidak peduli, mereka tidak mau berbagi alas dengan mama sayang, mama gak dapat jatah alas tidur nak. Mama tidur diatas lantai. Penjara ini pelit banget sama narapidana. Sekarang rasanya mama seperti masuk angin, ga nafsu buat sarapan pagi. Malas mama, penjara ini medit, nasinya aja nasi murahan, teksturnya sekeras batu." jawab mama Linda mengeluh.
"Maaf ibu, bukan cuma di penjara ini aja yang begitu, penjara lain juga begitu ibu." sahut sang sopir dengan nada bicara yang kedengaran jengkel.
"Tenang ma, kita bawain mama roti gandum berkualitas tinggi, kita juga bawain mama makanan lain yang ga kalah enak, vitamin, dan buah-buahan yang akan membantu menjaga imunitas mama disini." tutur Daffa seraya menunjuk semuanya diatas meja.
"Waah, betapa gembiranya hati mama. Mama mau makan itu semua sekarang, kebetulan mama lagi lapar banget. Makasih ya nak? Kalian, sering-sering ya bawain makanan dan camilan buat mama! Mengerti!" titah mama Linda dengan wajahnya yang tegas.
"Mengerti ma." jawab Alzam dan Daffa kompak.
Lantas setelah jam besuk udah habis, Alzam dan Daffa keluar dari dalam rutan. Mereka akan kembali kepada aktifitas mereka masing-masing. Didalam mobil Alzam mereka membicarakan suatu langkah agar mama mereka bisa segera kembali bebas.
"Gimana caranya supaya istrimu mau maafin mama kita kak, jujur aku sendiri juga merasa dongkol dengan kejahatan yang udah mama kita lakukan. Ternyata dia yang membunuh kak Zahra waktu itu. Siapa yang tak merasa kesal coba, aku baru sadar sekarang."
"Nah itu kamu ngerti. Ngapain coba kamu kemarin pukul istriku, tanggung sendiri akibatnya kalau kakak bikin bonyok begitu. Gak ada cara lain selain sabar menunggu melunaknya hati istriku. Semoga mama bisa mendapat remisi nanti."
"Iya, semoga saja kak."
Didalam sel, mama Linda membawa selimut dan semua makanan yang dibawakan kedua anaknya. Mama Linda menaruh itu semua diatas lantai dan tidak mau berbagi kepada yang lain. Padahal tahanan lain yang satu sel dengan mama Linda juga jarang sekali makan enak.
"Yuhuu, makanan enak. Kalian mana bisa dapatin makanan seenak ini, yuhuu. Selamat makan." ucap mama Linda pamer lalu menggigit sepotong roti gandum berisi selai dark chocolate yang kelihatan lezat sekali.
__ADS_1
Tahanan lain hanya bisa menelan ludah termasuk si pentolan napi. Teman si pentolan napi berbisik di telinganya.
"Buruan jalanin rencana kita sekarang aja!"
Pentolan napi itu mengangguk seraya tersenyum. Lalu pentolan napi itu berdiri dan melangkah menghampiri mama Linda yang sedang nikmat makan roti. Mama Linda dijambak lalu didorong ke sisi yang lain. Sementara dua orang napi memegangi tangan mama Linda dengan kuat. Dan satu napi lagi membekap mulut mama Linda dengan kain lap yang bau, biar mama Linda tidak bisa berteriak memanggil sipir.
Pentolan napi memakan makanan punya mama Linda. Membagi juga dengan tahanan lain dan orang-orang yang sedang memegangi mama Linda juga mendapat jatah makanan mereka.
"Gila ini mah enak banget. Dasar pelit lu mak! Coba kalau lu nggak pelit, nggak bakalan kita perlakukan lo kaya gitu, hahahaha." tukas pentolan napi itu sembari menikmati lezatnya roti.
"Makanan aku! Tidaak!" teriak mama Linda kesal namun suara teriakannya tidak kedengeran jelas karena mulutnya disumpel kain lap yang bau keringat manusia.
Mama Linda hanya bisa kesal dan menangis saat dirinya diperlakukan seperti ini oleh tahanan yang lain.
Sebagai manusia sudah selayaknya saling berbagi, agar tercipta kebahagiaan dan kesenangan tidak dinikmati sendiri saja.
Mama Linda berharap semoga dirinya bisa keluar secepatnya dari tempat yang olehnya dinamakan neraka dunia ini.
***
Di kampusnya, Adiva sedang minum boba di kantin kampus sembari ngobrol cantik bersama Kayla dan Shireen, kedua temannya yang setia dan selalu ada untuknya.
"Oy, dimana tuh bodyguard-bodyguard ganteng yang selalu ngikutin lo kemana aja lo pergi? Mana kok sekarang mereka nggak kelihatan lagi. Lumayan sih lihat mereka cuci mata tahu, udah kaya lihat anggota boyband, uuuh." kepo Shireen genit.
__ADS_1
"Ehm, cie kepoo. Lo pasti naksir ya sama salah satu dari mereka, hehehe." jawab Adiva seraya terkekeh.
"Dih tahu aja lo. Apalagi diantara mereka ada yang mirip artis Refal Hadi itu, siapa namanya?" lanjut Shireen bertanya dan yang dia maksud adalah Bandi.
"Oh itu mah Bandi. Mereka bertiga udah nggak jagain gue lagi karena sekarang, gue udah nggak dalam bahaya lagi. Kemarin kan gue diteror sama psikopat, hampir saja gue mati, hiks." tutur Adiva mengingatnya seraya menyerut minuman boba lagi.
"Apa? Syukurlah untung lo ga kenapa-kenapa beb. Kenapa bisa?" tanya Kayla dengan wajah kaget.
"Ternyata itu mama mertua gue yang nyuruh orang buat bunuh gue. Gila nggak sih, tega banget dia! Sekarang dia Alhamdulillah udah mendekam di penjara, karena ternyata pelaku sebenarnya dibalik kasus penembakan kakak gue dulu sampai mati, ternyata itu dia ges. Nggak nyangka ya mertua gue sekejam itu!" jawab Adiva.
"Ya ampun, kacau banget sih mertua lo beb. Gue jadi takut nikah deh, takut dapet mertua yang modelan begitu, gue nggak akan sanggup keknya." ucap Shireen merasa takut.
"Apa alasan mertua lo lakuin hal sekeji itu beb? Apa karena lo adalah orang miskin? Tapi kenapa lo pakai pura-pura miskin segala sih, padahal lo kan punya dua bisnis beb?" tanya Kayla dengan tampang bingung.
"Gue sengaja berpura-pura jadi orang miskin didepan keluarga suami gue, niatnya buat ngetes seberapa bencinya mertua gue ke gue, atau sampai menunggu dia sadar dan ga bully gue tiap hari, tapi ternyata dia ga pernah berubah beb." jawab Adiva sedih.
"Ya ampun, lo yang sabar ya. Lagian sekarang mertua lo yang berhati iblis itu kan udah dipenjara. Jadi lo gausah sedih terus." saran Shireen.
"Tapi jujur gue masih sedih banget gaes, kalau keingat kakak gue terus. Dia meninggal karena kejahatan seseorang. Sekarang gue menikah sama orang yang pernah menjadi suaminya. Gue ngerasa, gue tuh sebaiknya berpisah aja kali ya dari mas Alzam, biar gue ga kepikiran kakak gue mulu?" ujar Adiva, sepertinya pikirannya kembali kalut.
"Oh no, big no beb! Lo hanya perlu menunggu waktu aja beb buat lupain kesedihan itu, jangan berpikir yang nggak-nggak ya Div." saran Kayla menenangkan sahabatnya itu.
Bersambung...
__ADS_1