MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Rencana Aborsi


__ADS_3

Hari terus berlalu, Amel mencoba mendatangi rumah sakit yang cukup jauh jaraknya dari rumah mama Linda demi mencari tempat yang pas untuk menggugurkan kandungan. Perlu waktu 7 jam untuk sampai ke rumah sakit itu, yang penting jaraknya cukup jauh dari rumah mama mertuanya, agar tak akan ada yang curiga melihat Amel mendatangi suatu rumah sakit secara diam-diam.


Setelah sampai di rumah sakit itu, Amel berkonsultasi dengan dokter kandungan bahwa ia ingin menggugurkan kandungan. Namun sebelum pihak rumah sakit menyetujui itu perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk Amel yang harus Amel lakukan.


Amel pun mau menjalankan pemeriksaan kesehatan terlebih dulu dan ia berharap semoga pihak rumah sakit mau mengabulkan permintaanya menggugurkan kandungan. Setidaknya bagi Amel prosedur menggugurkan kandungan di rumah sakit akan jauh lebih aman ketimbang mendatangi klinik aborsi atau dukun aborsi yang resikonya berbahaya.


Usai pemeriksaan kesehatan yang dilakukan selama beberapa saat, Amel pun disuruh menunggu hasilnya diruangan tunggu pasien. Setelah didapat, dokter tidak menemukan adanya penyakit atau suatu hal yang mengharuskan Amel buat menggugurkan kandungannya. Jadi pihak rumah sakit tidak mungkin menyetujui tindakan ini, karena tidak ada alasan yang dibenarkan untuk Amel menggugurkan kandungannya.


Sontak saja Amel jadi kembali sedih dan marah, kenapa pihak rumah sakit sampai selebay ini ia anggap. Amel menggebrak meja dengan tidak sopan kepada dokter itu sembari menangis marah.


"Saya benci rumah sakit ini! Saya tidak akan pernah datang ke rumah sakit ini kalau suatu saat nanti saya jatuh sakit! Saya akan mencari rumah sakit lain saja buat saya aborsi!"


"Percuma bu Amel. Mungkin rumah sakit lain juga memberlakukan peraturan yang sama. Karena menggugurkan janin sama saja dengan melakukan perbuatan kriminal, yaitu pembunuhan!"


"Tapi janin ini anak haram dok. Saya nggak mau anak ini lahir ke dunia ini dok!"


"Bisa dibicarakan dengan ayah biologis dari janin itu dengan kekeluargaan. Siapa tahu nanti ada solusi yang terbaik bu Amel?"


"Nggak! Saya cuma mau janin yang ada dalam rahim saya ini ga lahir ke dunia dok. Saya cuma mau itu! Biar hidup saya jadi tenang dok!"


"Maaf bu Amel, kami tidak bisa mengabulkan permintaan bu Amel. Saya berharap bu Amel pikirkan kembali soal niat ibu untuk menggugurkan kandungan ibu secara matang-matang. Janin yang ada dalam perut ibu juga punya hak untuk lahir ke dunia, lalu berkembang, dan hidup bahagia seperti manusia pada umumnya."


"Aaaah!"


Amel kembali menggebrak meja lalu pergi dari rumah sakit itu. Amel sangat kesal karena tidak bisa menggugurkan kandungannya, ternyata prosesnya tidak semudah itu dan dengan terpaksa Amel akan menggugurkan kandungan dengan cara yang tidak nyaman.


Sore harinya, Amel pergi ke sebuah rumah yang letaknya tersembunyi dari dunia luar. Amel menemukan rumah dukun aborsi itu hasil dari bertanya, dari mulut ke mulut oleh warga setempat. Di tempat ini apapun alasannya Amel bisa melakukan aborsi dengan tenang meski resikonya yang cukup berbahaya.


Amel menenggak ludah, sepertinya ia takut untuk melakukan aborsi karena prosesnya disini akan sangat menyakitkan. Amel membenci rasa sakit dan ia benci kenapa dulu ia tergoda untuk melakukan hubungan zina dengan Alex.

__ADS_1


"Jadi aborsi nggak ya? Kok mendadak aku takut kaya gini sih. Ntar kalau janin aku mati, terus aku juga mati karena pendarahan gimana? Iih, aku nggak mau mati." resah Amel seraya memukul stir mobilnya.


Amel membatalkan niatnya aborsi. Dirinya tidak tahu harus gimana lagi caranya buat janin ini tidak lahir ke dunia. Amel menangis sedih. Bunuh diri juga bukan jalan yang terbaik. Jadi serba salah seperti ini sama sekali bukan pilihan hidup yang Amel bayangkan. Memilih mati, hal yang jauh lebih mengerikan juga menanti dirinya.


Senja kembali menyapa manusia. Sebentar lagi adalah malam gulita, waktunya kebanyakan orang-orang beraktifitas dalam hunian mereka masing-masing. Namun Daffa kembali dibuat resah dengan ketidakadaan istrinya saat ia baru pulang kuliah.


Kebetulan Alzam sudah pulang dari kantor lebih awal dari waktu biasa. Alzam dan Adiva nyamperin Daffa yang sedang menunggu istrinya kembali di depan rumah.


"Orang mah istri nungguin lakiknya, lah ini adek gua, malah kebalikannya. Kemana istri lu, Daf?"


"Nggak tahu kak. Aku telepon dari tadi HPnya nggak aktif. Aku khawatir, dia diculik lagi seperti beberapa saat yang lalu dia diculik."


"Apa? Dia abisbdiculik? Pasti dia diculik sama mantan pacarnya yang jahat itu nggak sih?" tanya Alzam yakin.


"Yaelah kak, ngapain juga mantan pacarnya culik istriku. Amel kan udah sah jadi istriku, kalau dia berani gangguin hubungan rumah tanggaku dengan Amel, tanganku sendiri yang akan menghancurkan muka bajingan dia!" balas Daffa tidak takut.


"Eleh, sok berani nih adik gua. Sebelum ngomong gitu berkacalah, bisa beladiri nggak sih, hem!q"


"Memang kakak juga kurang jago, tapi mulai besok, kakak akan meluangkan waktu buat belajar beladiri. Dan kamu tahu sama siapa kakak akan belajar beladiri?"


"Nggak tahu dan nggak mau tahu juga sih. Tapi, yaudah lah aku ingin tahu. Emangnya sama siapa tuh?"


Alzam menyenggol bahu Adiva seraya tersenyum.


"Hah? Kakak mau belajar beladiri sama dia? Istri kakak?"


"Ya iyalah, emang kenapa coba?"


"Nggak salah? Masa laki-laki belajar beladiri sama seorang wanita sih?"

__ADS_1


"Emang dilarang juga laki-laki belajar beladiri sama seorang wanita? Bahkan dia istri saya sendiri?"


"Ya malu lah kak sama burung perkutut kamu kak, hehehe."


Semua orang tertawa terbahak-bahak disamping kegelisahan Daffa menunggu kepulangan Amel.


"Ngapain malu Daf, besok, kamu mau belajar beladiri juga sama kita?" tawar Adiva kepada Daffa.


"Hmm, ya bolehlah. Kalau kamu mau, sekalian nanti ajarin istriku Amel, beladiri." sahut Daffa seraya memalingkan wajahnya kearah gerbang, siapa tahu sudah ada mobil istrinya datang.


"Oke, jadi besok aku punya tiga murid yang akan aku ajarin beladiri!" ucap Adiva merasa bersemangat, karena ia akan menjadi pelatih beladiri dari dua laki-laki ganteng tapi sebal juga kalau harus melatih si ipar sombong yang manja itu.


"Kamu pasti semangat ya ngajarinnya? Apalagi yang kamu ajarin beladiri adalah laki-laki yang punya ketampanan diatas rata-rata, ehe!"


"Idih! Mas Alzam kepedean. Yang ngajarin kamu beladiri juga punya kecantikan diatas rata-rata kali, mas? Wk."


"Iya-iya. Kamu emang punya kecantikan yang diatas rata-rata, tapi, kalau dilihat pakai sedotan dari atas Burj Khalifa, hehehe."


"Ih, apaan sih!"


"Buuug!"


Perut Alzam menjadi sasaran kemarahan Adiva karena candaan Alzam barusan.


"Ya ampun sayang? Mas kan cuma bercanda. Perut mas yang jadi korbannya, hohoho,"


"Ya maaf mas, aku kan suka refleks orangnya. Sini perut kamu aku elus mas biar nyaman,"


Disisi lain, Daffa merasa iri melihat kemesraan yang selalu ditunjukkan oleh kakak dan juga kakak iparnya, yaitu Adiva. Mereka sekarang menjadi pasangan suami istri yang sangat mesra dan kompak.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2