MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
CEO Tampan Yang Tertuduh


__ADS_3

Teriakan kencang Adiva tidak sia-sia sampai membuat pita suaranya sendiri menjadi serak, akhirnya Bandi, Jack, dan Aldi berlari datang kedalam kamar mayat yang menyeramkan.


"Buset, ini bekas kamar mayat," kaget Aldi.


"Ternyata nyonya muda disini?" ucap Bandi dengan wajah lega.


"Iya dong dan lihat siapa laki-laki yang sedang pingsan ini, dia adalah pembunuh yang kemarin mau bunuh aku di bangunan kosong. Hebat kan aku berhasil bikin dia kaya gini sekarang, yuhuu. Ternyata dia mau jebak aku disini, aku yakin, pasti ada orang yang bayar dia buat membunuhku deh gaes." cakap Adiva dengan wajah penasaran, ingin tahu siapa dalang dibalik dua kali percobaan pembunuhan yang menimpanya.


Jack mengamati keadaan si pembunuh yang belum diikat tali, Jack juga mengamati wajahnya dengan seksama, takutnya nanti pembunuh itu bangun dan kembali menyerang mereka berempat. Jack inisiatif mencari tali tambang atau tali apapun yang bisa digunakan untuk mengikat si pembunuh bayaran yang sedang pingsan itu.


Setelah menemukan tali itu digudang rumah sakit, Jack langsung berjalan cepat kembali kedalam kamar mayat.


"Ikat dulu gaes, takut dia bangun ntar kabur," tutur Jack segera mengikat tangan dan kaki si pembunuh.


"Bagus Jack. Nanti kalau dia udah sadar, kita langsung interogasi dia, kita langsung tanyain saja apa benar ada seseorang yang menyuruh dia buat celakain nyonya muda." sahut Bandi tak sabar menunggu pembunuh itu sadar.


Lantas mereka bertiga para bodyguard kekar membopong tangan dan kaki pembunuh bayaran yang terikat itu keluar dari rumah sakit. Adiva duduk dengan sejutan rasa penasaran didalam mobil, menunggu pembunuh itu sadar, sudah satu jam semua orang menunggu. Mereka juga menunggu orang bengkel datang yang akan menggani ban yang kempes kena ranjau paku.


Tak berselang lama pembunuh itu mulai menggerak-gerakan kelopak matanya, ia lihat sinar matahari sore yang cukup terang kepada netranya. Pembunuh itu sadar sudah terbangun dari pingsannya.


"Nah, akhirnya si psikopat ini sadar juga genk. Ayo kita interogasi dia." ajak Bandi tak sabar lagi.


Pembunuh itu kaget saat terbangun dalam keadaan tangan dan kaki yang sudah diikat. Pembunuh itu menggerak-gerakan badannya agar ikatan itu terlepas tapi tak bisa, ikatan ini sungguh kencang. Pembunuh itu terus kelojotan diatas debu, berusaha melepas ikatannya supaya dirinya tidak sampai masuk kedalam jeruji besi. Karena sudah pasti perbuatan jahatnya akan dilaporkan kepada pihak yang berwenang.

__ADS_1


"Lepasin gua, please? Gua terpaksa ngelakuin ini karena gua butuh biaya buat bertahan hidup," pinta pembunuh bayaran itu dengan tampang memelas. Berusaha meluluhkan hati mereka dengan alasan yang klise. Biar bagaimanapun, perbuatan pembunuh bayaran itu tidak bisa dimaafkan begitu saja. Karena ini sudah berkaitan dengan keselamatan nyawa manusia. Ya meski Adiva sendiri bisa selamat. Tapi lain ceritanya kalau Adiva tidak selamat dan tewas ditangan pembunuh itu.


"Lo pikir gua gila mau nglepasin lo begitu aja? Perbuatan lo itu sudah seharusnya kita laporin ke polisi. Lo itu udah dua kali mau membunuh nyonya muda kita!" seru Jack penuh amarah.


"Nyonya mudaa, orang yang mau bunuh kamu udah sadar niih!" teriak Aldi memanggil Adiva keluar.


Adiva langsung membuka pintu mobil saat tahu kalau pembunuh itu udah sadar. Adiva langsung melangkah kearah kerumunan mereka, saat melihat pembunuh itu udah dalam keadaan sadar, Adiva yang geram itu langsung menendang perut si pembunuh itu.


"Ugh." rintih pembunuh bayaran itu merasa kesakitan karena perutnya terkena kaki Adiva.


"Siapa orang yang udah nyuruh lo buat binasakan gue dari bumi ini? Hah? Bilang!" tanya Adiva emosi lalu kembali menendang perut pembunuh bayaran itu sampai pembunuh bayaran itu kembali merintih dan sedikit batuk.


"Kalau gua bilang, apa kalian mau nglepasin gua?" tanya pembunuh bayaran itu dengan suatu syarat.


"Iya deh iya, yang penting gue tahu siapa orang yang udah menyuruh lo ngebunuh gue. Buruan katain sekarang, siapa orang itu?" jawab Adiva.


"Beneran nih? Kalian nggak bohong kan? Nanti kalau gua udah kasih tahu ke kalian, terus kalian masih tetap akan melaporkan gua ke polisi!"


"Iya, janji, suwer deh. Lagian gue masih hidup kan? Gue baik-baik aja. Bahkan nggak ada lecet sedikitpun, yakali gue mau laporin lo, hmm." jawab Adiva lagi pura-pura meyakinkan si pembunuh bayaran.


"Yaudah, gua akan kasih tahu siapa orang yang udah nyuruh gua sekarang," ucap pembunuh bayaran itu.


"Nah bagus." sahut Bandi singkat.

__ADS_1


"Yang udah nyuruh gua buat bunuh lo, dia adalah, suami lo sendiri, Alzam." ucap pembunuh itu berbohong malah menuduh Alzam.


Ternyata pembunuh itu sangat licik, ia sengaja memberikan jawaban palsu supaya dirinya dibebasin dan bisa pergi, lantas kembali bekerjasama dengan orang sebenarnya yang udah menyuruhnya buat ngebunuh si Adiva. Yaitu, mama Linda.


Pembunuh itu berpikir dia tidak sebodoh itu, dia punya sejuta ide buat kebebasannya sendiri, termasuk mengarang cerita palsu kalau ternyata Alzam yang udah bayar dia buat membantai istrinya sendiri.


"Brengsek lo! Ngapain lo nuduh suami gue yang bukan-bukan! Dia itu cinta sama gue, mana mungkin dia ada niatan buat bayar orang dan disuruh buat ngebunuh gue! Dasar pembunuh bayaran konyol!" marah Adiva dengan tatapan murka.


"Tapi apa yang gua omongin ini adalah fakta, kalau suami lo yang udah bayar mahal gua buat bunuh lo mbak. Dia punya wanita lain dan dia nggak mau perselingkuhannya dengan sekretaris pribadinya terbongkar mbak." jelas si pembunuh bayaran itu penuh dengan dramanya.


Karena semakin murka, Adiva menendang wajah pembunuh itu sampai giginya membentur keras gusi dan berdarah.


"Drama lo sangat menjijikkan! Jangan tuduh suami gue! Dia nggak mungkin berselingkuh, dia udah janji akan selalu setia dan cintanya sama gue aja. Dan yang pasti, lo bakalan gue tetep laporin ke polisi! Mampus lo!" murka Adiva.


"Loh kok gitu mbak? Lo mengingkari perjanjian! Itu kan nggak boleh mbak! Gua udah kasih tahu siapa yang sebenarnya nyuruh gua. Please, lo jangan mau dibutakan karena cinta!" ujar pembunuh bayaran itu terus ngedrama didepan mereka.


"Ya karena, lo udah fitnah suami gue! Dan gue yakin dia sendiri nggak tahu apa-apa! Kenapa sih lo tega banget, mau jadiin suami gue sebagai kambing hitam!" tutur Adiva dengan nada tinggi.


Pembunuh bayaran itu masih berusaha melepas ikatannya.


"Kalau emang bener tuan muda Alzam yang udah suruh lo buat ngebunuh istrinya, berikan kami bukti yang kuat, kalau memang benar ternyata dia adalah pelakunya?" tanya Bandi seraya mencekik leher si pembunuh.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2