MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Mama Mertua Marah


__ADS_3

"Oke, kalau gitu kak..."


"Mas Alzam!"


"Aduh lupa, iya kak, eh mas Alzam, maklum lah usia kita kan terpaut cukup jauh, bawaanya pengen manggil kakak."


"Yaudah, kalau gitu saatnya on the way ke rumah mama."


Mobil Porsche Alzam kendarai dengan santai dan nyaman menuju kediaman mama Linda, kediaman Alzam selama ini, dan juga akan menjadi kediaman Adiva. Jarak dari gedung pernikahan termegah menuju rumah mama Linda ada sekitar empat puluh lima menit.


Sehingga empat puluh tujuh menit kemudian mereka sampai di rumah. Adiva menetra kediaman rumah mama Linda yang juga akan menjadi kediamannya beberapa waktu kedepan. Dimanakah mertua galak itu? Apakah rasa nyaman, atau rasa tidak aman yang akan ia dapatkan? Tapi Adiva lebih yakin ke rasa yang ga nyaman sih.


"Ayo turun?" ajak Alzam.


Adiva belum ingin turun, rasanya cukup gerogi akan bertemu kembali dengan mertua yang tidak menganggap atau tak mau menerimanya sebagai menantu.


"Gue ragu kak, eh mas, kenapa kita harus tinggal disini sih? Kan mama kamu nggak mau menerima gue sebagai menantu dia?"


"Karena mama saya nggak mau kalau saya tinggal di rumah yang lain, mama hanya ingin saya tinggal terus bersamanya, menemani dan menjaga dia."


Adiva merasa heran, semanja itukah mama mertuanya?


"Yaudah buruan turun! Ngapain kamu diem disitu terus? Katanya pemberani, menghadapai wanita tua yang galak saja langsung kicep kamu?" ucap Alzam dengan sedikit nada tinggi.


Adiva buru-buru membuka pintu mobil kemudian turun dari mobil. Adiva ga terima dibilang penakut oleh suaminya. Adiva membawa koper yang berisi barang-barangnya. Ternyata di depan rumah mereka sudah disambut oleh tiga ART yang mengabdi di rumah Atalaric selama puluhan tahun.


Mereka adalah bi Turi yang humoris dan baik hati, bi Inem yang galak dan ketus, bi Sri yang misterius, pendiam, dan ulet dalam bekerja. Mereka bertiga menyambut kedatangan tuan Alzam beserta istri barunya.

__ADS_1


"Selamat datang nyonya Adiva?" sapa mereka bertiga kompak.


Adiva merasakan hal yang baru, hal yang membuatnya merasa tersanjung karena baru kali ini ia disambut oleh orang-orang. Dirinya akan menjadi seorang nyonya kedepan.


Kemudian Adiva membalas para ART yang menyapanya dengan balasan kata-kata yang ramah juga.


"Terimakasih para bibi, semoga kalian bisa menerima saya dengan baik?" harap Adiva seraya tersenyum.


Bi Turi dan bi Inem tampak tersenyum yang menandakan bahwa mereka berdua bisa menerima nyonya Adiva yang acak-acakan ini menjadi seorang nyoya yang juga harus mereka layani, namun tidak dengan bi Sri yang diam-diam tersenyum tidak ramah kearah Adiva namun bi Sri hanya tersenyum seperti itu beberapa saat saja.


Adiva memperhatikan seragam yang dipakai oleh tiga pembantu itu, tampak mahal dan berkelas. Itu artinya, keluarga suami benar-benar sangat berkelas. Seragam pembantunys saja di design sebagus itu.


"Ayo kita masuk kedalam sayang, mama pasti sudah menunggu kita didalam"


"Hah menunggu kita, kakak yakin? Nunggu kakak doang kali."


Bi Inem dan bi Turi tampak tersentak kaget kala mendengar Adiva menyebut Alzam dengan panggilan kakak. Alzam melirik kearah dua pembantunya yang tampak heran karena panggilan kakak itu, kemudian Alzam berkata kepada mereka.


Di dalam rumah, Adiva mangap kagum melihat-lihat bentuk ruangan dan juga isiannya. Semua tampak luas, mewah dan berkelas, Adiva memegang barang-barang yang ada didalam satu persatu. Adiva tampak takjub melihatnya sedangkan Alzam, masih setia menunggu Adiva sembari bersedekap dada di bagian tengah ruangan.


"Wah keren-keren banget perabot rumah ini!" ujar Adiva takjub.


"Kamu juga sekarang menjadi pemilik barang-barang itu, selain saya, mama, dan juga Daffa adik saya," ucap Alzam.


Adiva menoleh kebelakang, tepatnya kearah sang suami yang sedang bersedekap dada dengan begitu gagahnya. Setelah puas melihat dan memegang barang-barang mahal yang ada di ruang tamu, Adiva diajak Alzam pergi ke kamar mama Linda. Tapi Adiva ngerasa bagian dalam hidungnya agak gatal. Sepertinya Adiva mau pilek.


Adiva harus menemui mama Linda, menyapa dan menghormatinya sebagai seorang mertua. Dahulu, Zahra juga melakukan hal yang sama kala awal pernikahannya dengan Alzam, Alzam menyuruh Zahra untuk menyapa dan mencium tangan ibu mertuanya.

__ADS_1


Adiva melewati koridor dalam rumah yang dimana di samping mereka banyak sekali foto-foto lukisan, juga foto-foto keluarga. Adiva melihat foto kak Zahra masih terpajang di dinding. Adiva menghentikan langkah kakinya sejenak kemudian berjalan menyamping, menghampiri foto cantik kakaknya.


"Kakak... gue begitu kehilangan lo kak," lirih Adiva sembari mengusap halus foto wajah kakaknya dalam bingkai foto.


Disaat yang bersamaan, Alzam juga sedang menundukkan kepalanya. Luka hatinya kembali terbuka, lara hatinya kembali menyayat, kalau mengingat Zahra yang begitu melekat dalam hatinya.


"Sudahlah, jangan membuat saya sedih Adiva, sekarang kita ke kamar mama saya ya?"


Adiva menoleh ke suaminya, melihat Alzam sedang mengusap air mata. Adiva tahu dirinya telah berbuat salah, karena kembali menumbuhkan luka dihati suaminya. Adiva menghapus air mata suaminya dengan begitu peduli. Alzam merasakan sebuah getaran aneh, ia tidak tahu itu adalah getaran apa saat Adiva mengusap air matanya dengan begitu lembut? Getaran yang membuatnya merasa tenang dan nyaman.


Setelah itu, mereka berdua pergi menuju kamar mama Linda. Setelah sampai di depan pintu kamar mama, Alzam lalu mengetuknya dengan lembut.


"Mama, ini aku, Alzam? Bukain pintunya dong? Masa mama ngurung diri terus di dalam kamar? Udah kaya anak perawan yang lagi ngambek aja gara-gara permintaan nggak diturutin? Ayolah ma, berhenti ngambek? Temui anak kesayanganmu ini," lirih Alzam dari depan pintu.


Mama Linda masih duduk dengan wajah jutek dan juga matanya merah sembab  karena menangis terus diatas kasur. Disisi lain mama Linda merasakan perutnya kelaparan karena sedari pagi belum makan juga, mama Linda adalah orang yang tidak pernah terlatih dalam berpuasa, sehingga rasa lapar sedikit saja sudah membuatnya pergi kelabakan mencari makanan apa yang ingin ia lahap.


Mama Linda bergegas bangkit karena ini bisa jadi sebuah kesempatan untuk dirinya bisa makan, daripada sok ngambek terus dan gengsi nggak mau makan. Mama Linda membuka pintu depan, ia tidak tahu kalau Adiva juga berada bersama Alzam.


"Apa! Ngapain kamu bawa gembel ke kamar mama sih!" gertak mama Linda tidak terima.


"Mama harus belajar menerima Adiva sebagai menantu mama, dia bukan gembel ma! Dia adalah seorang wanita yang terhormat!" bela Alzam untuk istrinya.


Adiva tampak gugup sembari bersembunyi di belakang tubuh kekar Alzam takut sama ibu mertuanya yang galak.


"Hei! Ngapain kamu bersembunyi dibalik badan anak saya! Sini kamu, tatap wajah saya!" titah mama Linda kasar kepada Adiva.


Adiva *******-***** area belakang baju Alzam, antara berani atau tidak berani menatap wajah ibu mertuanya, namun pada akhirnya setelah kakinya diinjak sepatu Alzam, Adiva memberanikan diri menatap wajah ibu mertua galaknya, sembari cemas menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Tatap mata saya!" teriak mama Linda seperti kesetanan. Adiva berjingkut kaget sambil memejamkan matanya.


Adiva mencoba memberanikan diri namun, karena rasa gatal di hidungnya itu, Adiva malah bersin kearah wajah mama mertuanya...


__ADS_2