
"Gimana caranya aku kabur ya? Rumah ini begitu gelap. Bahkan mencari pintu belakang saja sulit! Tapi kalau aku terus-menerus disini, nanti polisi-polisi itu bisa masuk kedalam, dan menemukan aku. Mana gak ada lilin lagi. Tapi pakai lilin juga percuma. Bakal kelihatan terang dari luar, dan mereka bisa masuk kedalam karena melihat cahaya lilin itu. Aduh, ini terlalu ribet buat aku. Bersembunyi pun akan ketemu," urai panjang kebingungan mama Linda di dalam hatinya, sembari mengintip luar dari celah dinding itu.
Mama Linda melangkah mundur perlahan. Mama Linda mencoba mengingat detail alur yang ada di dalam rumah bang Jaja ini. Ruangan demi ruangan, gimana jalannya, hingga akhirnya, mama Linda bisa sampai ke pintu belakang meski tadi, beberapa kali ia tersandung aneka macam benda.
Mama Linda membuka pintu belakang rumah bang Jaja sementara itu Alzam dan polisi lain sedang membuka pintu depan rumah bang Jaja.
"Mama ada disini kan!" teriak Alzam mencari ibunya, mama Linda mendengar panggilan keras dari anaknya. Mama Linda menoleh sebentar kemudian lanjut bergegas kabur dari rumah ini. Mama Linda berlari pelan menyusuri kebun ilalang gersang belakang rumah bang Jaja.
Dirinya sempat tersandung batu lalu bangkit lagi. Mama Linda bingung mau pergi kemana tapi yang pasti, mama Linda merasa harus terus berlari. Kalau disini terus dan tidak bergerak nanti akan tertangkap. Dengan bantuan senter, mereka mencari-cari keberadaan mama Linda di dalam rumah tapi tidak ada.
"Pasti ibu anda sudah kabur pak, sudah mengetahui kedatangan kita meski suara sirine sudah di silent," tukas pak polisi.
Mereka semua bergegas memburu mama Linda lewat pintu belakang rumah setelah melihat pintu belakang rumah yang terbuka. Pasti mama Linda barusan kabur lewat situ. Mereka semua berpencar dalam memburu mama Linda, tidak berkumpul menjadi kesatuan tim.
Mama Linda terus berlari di tengah heningnya malam, dinginnya malam, sunyinya malam, kerasnya kehidupan yang sekarang. Ia terus berusaha agar tidak sampai ditangkap lagi sama polisi. Karena lelah, mama Linda ngumpet dibawah jembatan yang ia lihat.
"Ngumpet disini dulu ah, capek." ucap mama Linda sembari memegang perutnya yang serasa kram.
"Semoga mereka ga nemuin aku disini." harap mama Linda.
Mama Linda duduk selonjoran dibawah jembatan itu. Beberapa saat kemudian, ada dua polisi yang menapakkan kaki mereka diatas jembatan itu, memindai keadaan sekitar siapa tahu buruan mereka ada di sekitar sini. Tetapi netra garang mereka tak kunjung menangkap adanya keberadaan wanita paruh baya yang mereka buru itu.
Padahal orang yang sedang mereka buru itu, hanya beberapa meter saja dibawah tapak kaki mereka. Mama Linda tengah terdiam cemas, takut orang-orang diatas jembatan bergerak menuju kebawah jembatan. Namun dua polisi itu tidak sampai mengecek ke bawah jembatan. Mereka tidak kepikiran buat ngecek kesana.
__ADS_1
Mama Linda kembali lega setelah suara kedua polisi itu tidak lagi di atasnya. Mama Linda menitikkan air mata sedih. Perutnya semakin terasa keroncongan, meneriakan suara minta tolong membutuhkan bantuan asupan untuk mempertahankan kehidupan. Mana tadi pagi cuma makan sepotong singkong bakar aja.
Mama Linda keluar dari bawah jembatan, dirinya menangis namun juga marah akan keadaan. Apakah dirinya akan mati kelaparan dalam waktu dekat? Apa lebih baik menyerahkan diri saja ke polisi biar dirinya bisa makan, walau makanan penjara rasanya tidak terlalu enak, tapi dirinya juga sering mendapat kiriman makanan dari anak-anaknya.
Mama Linda berjalan putus asa menyusuri tepian jalan, hingga akhirnya dirinya menemukan warung kecil yang sepertinya buka 24 jam. Ada beberapa orang ronda yang sedang ngopi dan ngerokok di warung itu.
"Ternyata di daerah sini ada warung, mana buka 24 jam lagi, aku mau coba minta makanan kesana ah," ucap mama Linda bersemangat.
"Tapi bentar, gimana kalau orang-orang itu tahu aku ini adalah tahanan yang kabur dari penjara? Aku yakin, pasti berita aku kabur dari tahanan udah seliweran dimana-mana. Tapi mau gimana lagi, aku udah laper banget. Hm, sebaiknya aku menyamar aja deh."
Mama Linda memikirkan sesuatu cara hingga akhirnya ia menemukan cara tersebut. Mama Linda berusaha merobek sedikit baju yang ia pakai buat dijadikan sebagai masker penutup hidung dan mulut.
Mama Linda kemudian memakai masker itu setelah selesai dibentuk, meski baju mama Linda kelihatan rada aneh setelah sebagian dirobek sama dirinya. Jadi agak kelihatan compang-camping.
Mama Linda nekat mendatangi sekumpulan orang-orang di warung. Melihat kedatangan wanita asing, orang-orang itu jadi terheran-heran dan menatapnya.
Mama Linda tampak ragu untuk menjawab tapi ia harus menjawabnya.
"Saya pengemis pak, boleh saya minta sedikit makanan di warung ini? Saya butuh banget buat mempertahankan hidup saya. Sedikit aja, pak? Saya sudah tidak makan selama dua hari," lirih mama Linda kepada si pemilik warung yang sedang bengong terus menatapnya.
"Ya bentar, tunggu disitu. Btw, ngapain itu pakai penutup muka?" tanya si pemilik warung penasaran.
"Saya lagi flu pak, saya tidak mau nyebarin virus disini nanti kalian malah sakit,"
__ADS_1
"Iya tunggu bentar. Saya bungkus gorengan dulu ya,"
Mama Linda merasa senang setelah si pemilik warung kecil ini ternyata mau berbaik hati memberi makanan untuknya. Setelah mendapatkan makanannya, mama Linda langsung pergi tanpa mengucapkan terimakasih terlebih dulu. Kebiasaan buruk mama Linda yang selalu menganggap orang pinggiran itu tidak penting.
"Yee dasar gembel gak tahu terimakasih! Saya ikhlas kasih itu!" teriak si pemilik warung kesal.
Mama Linda memakan gorengan itu sampai habis dibawah pohon. Mama Linda makan dengan lahap makanan yang biasa ia hina itu sebenarnya. Dari dulu mama Linda tidak menyukai atau sinis ketika melihat penjual gorengan dipinggir jalan.
Disisi lain, Alzam dan para polisi sudah lelah melakukan pencarian mama Linda. Mereka berkumpul di dekat rumah tepi rel kereta lagi.
"Ibu anda berhasil kabur pak, tapi tenang, esok hari kita melanjutkan pencarian ibu anda." kata sang komandan kepolisian.
Alzam mengangguk, sekarang sudah pukul sebelas malam dan m Alzam memutuskan untuk pulang ke rumah.
Di rumah, Adiva belum juga bisa tidur mengetahui salah satu orang yang sering menjahatinya dulu belum juga ada kabar sudah tertangkap lagi atau belum.
Adiva sedang rebahan sembari menatap langit-langit kamar. Luka sayatan pisau di tangannya terkadang masih terasa nyeri. Pintu kamar dibuka dan Alzam masuk kedalam kamar disertai wajah kantuknya. Adiva langsung menyambut suaminya pulang dengan senyuman manis.
"Gimana mas soal mama?"
Alzam menggeleng yang menandakan kalau mama Linda belum berhasil ditangkap. Raut wajah Adiva berubah kembali cemas. Alzam memegang tangan Adiva dengan lembut, kemudian mengusapnya dengan ibu jari selama beberapa kali.
"Tidak sepantasnya istri dari seorang Alzam Pradipta khawatir terus menerus seperti itu. Sayang, penjagaan di rumah kita begitu ketat, saya adalah orang yang besar dan kuat. Jangan terus menunjukkan kecemasan ya sayang? Tenang aja."
__ADS_1
Adiva menyandarkan kepalanya di bahu Alzam. Alzam mendekap hangat istrinya dengan satu tangannya. Memberi kenyamanan untuk istrinya yang sedang cemas.
Bersambung...