
"Mas, kamu mau bawa aku kemana sih? Tempat yang belum pernah aku datangin sebelumnya? Memang seindah apa sih tempat itu?" tanya Adiva kepo.
"Indah banget pokoknya. Kamu pasti akan ngerasa takjub kalau sudah sampai disana. Semua beban kehidupan kamu seketika akan terasa ringan. Nanti kita bisa fotografi, camping, mandi, dan lain sebagainya. Aku ingin hari weekend ini menjadi hari yang indah bagi kita berdua. Aku ingin hari ini we are kings and queens who enjoy beauty"
Penasaran, itulah yang sedang Adiva rasakan. Netra indahnya menatap keluar mobil, menatap indahnya pepohonan dan pemandangan disekitar mereka saat mobil hampir sampai ke tempat yang udah dijanjikan oleh suaminya.
"Sayang, ini baru masuk ke gerbang tempat itu udah seindah ini kan" tanya Alzam semangat.
"Iya sayang, indah banget. Aku kagum banget melihat tempat ini. Aku jadi makin nggak sabar untuk masuk kedalam deh. Tapii, apa tempatnya ramai sayang?"
"Hari ini spesial buat kita berdua. Tidak ada yang lain selain kita. Menikmati tempat ini bersama, menghabiskan waktu indah berdua bersama dengan kamu, Adiva. Berbahagialah menjadi istriku. Tak usah mengingat masa lampaumu yang miskin dan serba kekurangan, serba berusaha, sejuta tenaga."
Adiva sangat bahagia, namun apakah sanggup dia berada di tempat yang sama dalam waktu seharian. Apalagi Adiva orangnya mudah bosan. Tapi belum tentu kalau tempatnya indah dan menarik, apalagi ditemani sama suami tampannya.
"Makasih ya mas. Wow, aku mendengar suara air terjun mas." ucap Adiva senang sembari menaruh salah satu tangan diatas daun telinganya.
"Iya sayang, nanti kita mandi berdua di air terjun itu ya?"
"Haah? Mandi berdua? Tapi apa kamu nggak takut kalau ada orang yang ngintipin kita? Aku malu ah mas."
"Tempat ini tuh privasi. Aku jamin kamu nggak akan pernah bisa melupakan kenangan indah yang akan kita lakukan dan kita abadikan pada hari ini."
"Iya, iya deh, percaya. Aku jadi makin nggak sabar deh mas." kata Adiva excited.
Mereka mulai memasuki kawasan yang akan menjadi tempat mereka bersenang-senang selama seharian ini. Kawasan berupa destinasi wisata private ini begitu indah bak negeri dongeng. Bahkan ada villa megah yang berdiri dengan kokoh dan aesthetic ditengah hutan yang lebat. Destinasi wisata yang bisa disewa ini ternyata adalah salah satu anak perusahaan Atalaric Corp yang bergerak dalam bidang destinasi wisata alam.
"Gila, aku baru melihat tempat yang sekeren ini sayang. Ini benar-benar menakjubkan dan aku suka banget mas." puji Adiva merasa tersanjung bisa diajak dan datang ke tempat yang seindah ini.
Adiva melihat banyak pohon-pohon yang menjulang tinggi dan lebat. Seperti kawasan indah di daerah Banyuwangi, yaitu Jawatan Benculuk. Rasanya Adiva ingin naik pohon itu sambil selfie-selfie. Bahkan Adiva melihat ada sebuah rumah pohon yang besar di salah satu pohon yang ada disini.
"Mas berhenti disini aja, aku mau naik deh ke rumah pohon itu."
"Oke sayang, tapi emangnya kamu bisa manjat pohon? Di rumah pohon itu gak ada tangganya loh."
"Ya bisalah, manjatin tiang listrik juga pernah kali. Horay...."
__ADS_1
"Hahaha, dasar istri gila."
Siapa yang nggak senang ketika di ajak refresing ke tempat yang sangat indah. Semua manusia pasti menginginkan itu, dengan berlibur ke tempat yang indah, melihat pemandangan alam yang sangat menakjubkan, pasti akan membuat pikiran jadi merasa happy dan hati juga plong.
Adiva turun dari mobil kemudian berlari kebawah rumah pohon itu. Tiada tangga yang bisa untuk membantu Adiva memanjat pohon tanpa perlu bersusah payah memanjat dengan menggunakan kekuatan tangan dan kaki.
Adiva memanjat duluan disusul oleh Alzam dari bawahnya. Alzam kagum melihat kelihaian istrinya dalam memanjat, dia seorang wanita. Sesampainya didalam rumah pohon, Adiva langsung rebahan dan menikmati kenyamanan ini. Warna cat rumah pohon adalah putih, seputih cinta untuk suaminya.
"Bagaimana kalau rumah pohon ini menjadi milik kamu?" tanya Alzam seraya masuk kedalam rumah pohon.
"Gimana ceritanya? Ini rumah pohon kan punya orang lain mas. Emangnya rumah pohon ini bisa dibeli ya? Hahaha, ada-ada saja kamu."
"Hahaha, bisa aja. Apa sih yang nggak bisa aku milikin? Wah, enak ya disini. Didalam rumah pohon ini, berdua bersama dengan kamu, rasanya adem dan menenangkan." kata Alzam seraya berbaring disamping istrinya.
Saat melihat Alzam berbaring disampingnya, aroma wangi parfumnya, dan hot tubuhnya membuat hati Adiva menjadi bergejolak ingin sekali memeluk suami tampannya dari samping dan ia pun melakukan itu. Adiva memeluk erat Alzam seperti sedang memeluk sebuah guling yang berukuran besar.
"Bisa manja juga kamu ya sayang?"
"Wanita, selain cantik dia juga manja mas. Nggak salah kan kalau aku bermanja dengan suami aku sendiri? Kamu juga mau kan mas, aku manjain?"
"Oke."
Adiva menyuruh Alzam untuk segera tengkurap dan Adiva akan mulai mijitin suaminya. Adiva mijitin suaminya dengan tenaga yang kuat hingga Alzam merasa enak dan juga rasa kaku dipunggunya akibat bekerja seharian terus dikantor jadi perlahan hilang.
"Senang deh punya istri yang tenaganya kaya kuli bangunan. Saya bisa minta pijit tiap hari nih."
"Senang juga punya suami yang manjanya nggak ketulungan, bisa di tabokin pakai baskom tiap hari, hehehe."
"Tabokin saya pakai cinta kamu saja Adiva."
"Kenapa kamu jadi alay gini sih mas? Kaya ABG aja deh, main gombal segala."
"Alay sama istri sendiri nggak apa-apa kan sayang?"
"Ingat umur mas."
__ADS_1
"Saya masih muda, belum juga empat puluh tahun, kok kamu protes."
"Nanti kalau udah lima puluh tahun jangan alay lagi ya mas?"
"Loh, malah makin alay nanti sayang."
"Huhuhu."
"Alay itu adalah kunci kelanggengan hubungan pernikahan sayang."
"Masa sih mas?"
"Kalau nggak bucin, jadi anyep lah rumah tangganya."
"Yaudah kalau gitu aku mau bucin setiap hari sama kamu. Biar kita selalu mesra sampai selamanya."
Sungguh sebuah obrolan yang seru dan mendamaikan jiwa. Sembari mengobrol, Adiva terus memijat suaminya dengan penuh perhatian.
"Tapi, kita bucin cukup berdua aja. Kalau bucin didepan banyak orang nanti kita disangka sebagai pasangan yang alay mas?" lanjut Adiva.
"Biarin orang mau berkata apa sayang, yang penting cinta kita halal. Kita harus menampakkan cinta yang romantis, dimanapun dan kapanpun!"
"Emangnya kamu mau disebut sebagai pengumbar kemesraan ya mas?"
"Nggak ada salahnya jadi pengumbar kemesraan, yang salah tuh orang yang suka menyakiti hati pasangannya. Tidak mencintai pasangannya dengan tulus. Itu baru kesalahan."
"Nggak salah aku memilih kamu jadi suami aku mas."
"Nggak salah juga saya memilih kamu jadi istri saya, Adiva. Jangan pernah mengecewakan saya ya?"
"Aku akan selalu berusaha menjadi istri yang kamu mau."
Obrolan yang begitu hangat diantara sepasang suami istri itu. Setelah selesai memijat suaminya didalam rumah pohon, Alzam akan mengajak Adiva untuk pergi ke tempat yang lebih indah.
Bersambung...
__ADS_1