MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Kemesraan Sepasang Kekasih


__ADS_3

"Sekarang adalah saat untuk kita pergi ke air terjun yang indah. Air terjun yang akan menyejukkan netra dan juga badan kita. Kita akan bermandikan kesegaran air disana, sayang?"


"Ga sabar, makasih ya sayang? Karena kamu udah buat aku bahagia sekali pada hari ini. Aku beruntung banget punya suami kaya kamu. Awalnya aku ragu tapi ternyata, akan menjadi seperti ini pada akhirnya. So speechless mas!?"


Mereka sekarang sedang saling berbicara dengan memanjat turun dari bawah rumah pohon. Ketika Alzam sudah sampai dibawah dan Adiva masih menuruni pohon, dengan sigap Alzam langsung membopong dan menangkap Adiva dari bawah. Mereka sempat tatap-tapan mesra sejenak lalu Alzam menurunkan badan Adiva.


"Duh enaknya, dibopong sama suami tercinta. Istri mana yang gak bahagia punya suami yang gagah perkasa seperti my CEO bucin nan dingin seperti mas Alzam ini!"


"Udah ga dingin lagi kan, hehehe. Udah ya memuji saya, sekarang saatnya kita berjalan ke air terjun, tempat indah yang akan kita tuju."


Mereka berdua saling bergandengan tangan menuju air terjun itu. Tidak lupa Alzam telah mengalungkan kamera besar dalam lehernya. Kamera itu menggantung didepan dadanya.


Sesampainya di air terjun, netra mereka berdua langsung disambut dengan penuh kemanjaan oleh air terjun yang tampak asri dan juga indah sekali. Sungguh ini adalah pemandangan yang teramat luar biasa bagi mereka berdua.


Alzam yakin kalau destinasi wisata ini dibuka untuk umum, pasti akan ramai dan akan menambah pundi-pundi kekayaan.


"Gimana? Indah sekali kan air terjun ini? Apa saya bilang, hari ini akan menjadi hari terindah dalam hidup kita."


"Rasanya pengen tinggal disini aja deh mas, selamanya."


"Apa kamu mau saya beli saja tempat ini untuk tempat tinggal kita?"


"Kalau kamu mampu kenapa nggak sih mas?"

__ADS_1


"Nggak perlu beli, karena ini adalah destinasi wisata alam kepunyaan keluarga kita, Atalarik group."


"Ih kamu bohong sama aku, ya ampun, aku ga nyangka mas, tempat ini dikelola oleh kamu."


"Tapi sebenarnya ini belum dibuka untuk umum sih. Kita berdua lah yang pertama menikmati keindahan tempat ini."


Lalu Alzam membuka bajunya, tidak sabar untuk segera berenang dalam kesejukan dan indahnya air terjun. Anehnya, Adiva malah menutup mata saat sang suami pamer perut kotak-kotak didepannya.


"Kok malah tutup mata ya sama suami sendiri?" tanya Alzam heran.


Alzam lalu memeluk hangat istri kecilnya, dipinggir bebatuan besar yang berjejeran aesthetic di depan air terjun. Baru kali ini Adiva dipeluk oleh pria tanpa memakai baju ditempat yang indah seperti ini.


"Hmm, mas aku takut ada orang yang lihat."


"Aku ingin memeluk kamu sepuasnya sayang, emang ga boleh ya? Sudah saya bilang kalau tempat ini tuh cuma ada kita berdua disini. Jadi nggak bakalan ada orang yang melihat kemesraan kita disini. Mau kita berhubungan badan disini juga sah-sah aja."


Alzam menganggap istrinya masih canggung saja lalu Alzam melepas memeluk istri kecilnya kemudian bergegas nyemplung kedalam air terjun. Adiva melihat kegagahan suaminya yang sedang berenang dengan begitu seksi. Rasanya ia ingin berenang juga bersama suami, namun Adiva tidak sempat untuk membawa pakaian renang yang terlihat sopan untuk berenang di alam bebas seperti ini. Mau basah-basahan tidak bawa baju ganti.


Alzam terus berenang dengan berbagai gaya, hingga dirasa sudah cukup lelah berenang, Alzam beristirahat sejenak duduk diatas batu besar sembari memotret pemandangan indah air terjun.


Adiva juga ingin sekali berenang tapi ia tidak mau kalau hanya pakai BH dan ****** ******** saja. Meskipun tempat ini cuma ada mereka berdua, kejadian yang tidak diinginkan bisa saja terjadi kan? Itu adalah menurut pemikirannya. Adiva takut kalau tiba-tiba ada orang yang masuk area private ini.


Tapi setelah Adiva memikirkan lagi area ini kan dimilikin oleh Alzam. Pasti sistem keamanan juga sudah terjaga. Adiva merasa dirinya sendiri yang terlalu bodoh dan khawatir?

__ADS_1


Adiva pun ikut nyebur saja karena rasanya badan juga udah gerah. Adiva masuk kedalam air dengan pakaian yang lengkap, saking ingin berenangnya, Adiva tidak memikirkan baju ganti yang tidak dibawa ke tempat ini. Lalu Adiva berenang kearah suaminya yang sedang duduk diatas batu besar dekat percikan air terjun tersebut.


Suaminya kini sedang berdiri diatas baru besar seraya mengamati air yang terjun dari atas tebing. Tiba-tiba ada tangan cantik yang mendekap perut seksinya.


"Eh, ikut berenang juga kamu kan? Hahaha, siapa yang tidak tahan melihat kesegaran air mengalir yang ada di air terjun ini."


Alzam membalikkan badan atletis nya kemudian menatap dalam-dalam wajah istrinya. Memegang pundak istrinya dengan lembut. Aura kegagahan suaminya semakin memikat dan mempesona. Rasanya Alzam ingin mengecup bibir manis istrinya saat ini juga dan lagi-lagi, Adiva dihadapkan dengan suatu hal yang membuatnya canggung. Padahal mereka berdua sudah pernah melakukan hubungan itu sebelumnya.


Hari ini begitu indah, pemandangan yang disajikan dalam destinasi wisata ini benar-benar luar biasa. Setelah puas berenang di air terjun, mereka berdua sedang mengeringkan badan disisi air terjun, tepat dibawah sinar mentari siang yang cukup untuk membuat pakaian mereka terasa tidak terlalu basah lagi.


"Sayang, aku lapar. Kita cari makan dimana ini kan hutan mas?" ajak Adiva seraya memegang perutnya yang terasa keroncongan.


"Nggak ada yang jualan makanan lah disini. Kalau kamu lapar, kita cari ikan aja. Kita ikuti kemana arus air terjun itu mengalir, setahu mas ada banyak sekali ikan yang besar dan enak kalau kita bakar sayang."


"Berarti kita mau menangkap ikan nih? Tapi pakai apa? Emangnya kita bawa alat pancing ya mas?"


"Mas bawa dong sayang, kan tujuan mas kesini juga karena mas mau memancing ikan. Mas ingin bersatu dengan alam semesta yang indah ini. Yaudah ayo kita kembali ke mobil, alat-alat untuk memancingnya ada disana."


Mereka berdua lalu berdiri dan berjalan ke tempat dimana mobil mereka diparkir. Saat sedang berjalan kembali ke mobil, melintas di sebuah jalanan kecil yang penuh bunga indah disamping mereka, Adiva menghentikan langkahnya karena ada bunga cantik yang tadi ia lihat. Adiva memetik bunga itu lalu menghirup aromanya.


"Bunganya indah ya sayang?"


"Iya mas. Dirumah kita belum ada tanaman bunga ini. Aku ambil ya mas, aku ingin tanam di taman belakang."

__ADS_1


"Terserah kamu sayang mau ambil apa saja. Tanah di tempat ini adalah milikku."


Bersambung...


__ADS_2