MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Memperkeruh Suasana


__ADS_3

Mama Linda semakin menangis histeris karena Adiva belum mau memaafkannya. Bayangan mengerikan tentang penjara mulai menghantui dibenak mama Linda. Mama Linda bahkan sampai merangkul kaki Adiva demi agar tidak dilaporkan ke polisi.


"Mama mohon, mama takut masuk penjara sayang?"


Sebenarnya Adiva juga merasa tidak enak dan terlalu berlebihan kalau ia membiarkan wanita yang jauh lebih tua darinya sampai merangkul kakinya seperti ini. Lantas Adiva membangunkan mama Linda dan disaat yang bersamaan, mobil polisi datang berhenti ditepi jalan tempat mereka sedang berkumpul. Mama Linda bertambah cemas melihat kedatangan para polisi.


"Tolong Adiva, jangan biarkan mereka membawa saya! Please nak? Mama janji mama nggak akan bersikap kejam lagi kepada kamu! Mama nggak akan punya niatan buat menghabisi kamu lagi sayang?" lirih mama Linda terlihat pilu.


Tiba-tiba pembunuh bayaran mama Linda bersuara.


"Pokoknya kalau gua dipenjara, mama mertua lo juga harus dipenjara! Asal lo tahu kalau dulu, gua yang menembak mati kakak lo, atas perintah mama mertua lo, neng! Jangan biarkan dia bebas begitu saja! Dia sangat bejat!" teriak si pembunuh semakin mengejutkan semua orang yang ada disitu.


"Apa!" lantang Alzam semakin marah.


Alzam berjalan cepat menghampiri mamanya, lalu ia pegang kuat tangan mamanya.


"Apa yang dibilang sama dia itu benar, mama?"


"Nggak nak, soal kematian Zahra nggak ada sangkut pautnya sama mama, mama mohon, kamu percaya sama mama ya, huhuhu." isak mama Linda lalu memeluk anaknya itu.


"Gua nggak berbohong, cari buktinya didalam ponsel gua masih ada. Gua hanya ingin mama lo yang jahat itu ikutan dihukum juga, jangan cuma gua, please." sahut pembunuh itu.


"Kamu kurang ajar! Kenapa kamu mau menyeret saya juga kedalam penjara hah! Dasar pembunuh bayaran lancang!" teriak mama Linda penuh amarah. Membuat darah tingginya kembali kumat dan matanya mulai berkunang-kunang. Lalu mama Linda pun terjatuh pingsan dalam pelukan Alzam.


"Mama?" sebut Alzam kaget, Alzam langsung membawa mamanya kedalam mobil, lalu ia bawa juga ke rumah sakit

__ADS_1


Adiva ikut Alzam ke rumah sakit mengantarkan mamanya yang pingsan. Sementara itu pembunuh bayaran itu dibawa oleh para polisi ke penjara.


Dirumah sakit, mama Linda sedang ditangani oleh dokter. Kondisi fisiknya drop, tensi darahnya naik drastis, para dokter memberikan penanganan yang terbaik untuk mama Linda. Agar nyawanya bisa selamat karena takut terjadi komplikasi pada mama Linda. Mama Linda sangat butuh penanganan dan juga ketenangan.


Alzam dan Adiva menunggu diluar, dan tak lama berselang Daffa dan juga Amel datang menemui mereka berdua. Daffa terlihat khawatir sekali mendengar kabar mamanya masuk rumah sakit.


"Gimana keadaan mama kita kak?" tanya Daffa cemas, seraya mengintip kedalam ruangan tempat mama Linda sedang ditangani, dari jendela kaca.


"Mama kita ngedrop, tadi dia pingsan. Amarahnya benar-benar memuncak tadi dek." jawab Alzam seraya memicit dahinya. Pusing dan stress ia rasakan, memikirkan konflik keluarga yang sedang dihadapi itu. Adiva sendiri sedang duduk sembari berdiam penuh misteri. Air bening mengalir diwajahnya saat mengingat kakaknya yang dulu mati ditembak, ternyata pelakunya adalah mama Linda. Setega itu mama Linda kepada dirinya, juga kakaknya menjadi korban.


Amel melihati Adiva yang sedang menangis, pikirnya Adiva yang membuat mama mertuanya jadi pingsan. Karena merasa bersalah, Adiva jadi menangis seperti itu.


"Ehm, ada yang lagi nangis nih. Pasti ada yang sedang menyesal karena gara-gara ulahnya, mama mertua kita jadi kritis kaya gitu." sindir Amel.


Alzam marah besar karena di situasi yang seperti ini masih saja ada orang yang sok tau dan menyinggung istrinya. Alzam bangkit lalu menunjuk nyalang wajah Amel.


"Kak, udah maafin istriku. Lihat, kemarahan kakak membuat orang-orang disini jadi menengok kearahmu kak."


"Daffa, saya tidak peduli mereka mau nonton kita! Toh yang malu adalah istrimu yang berhati ular ini!" marah Alzam.


Amel jadi malu karena dimarahin Alzam didepan banyak orang.


"Udah mas, aku nggak peduli sama sindiran atau omongin dia, si ular berwujud bidadari itu. Tapi yang aku peduliin sekarang adalah, keadilan untuk aku dan kakak aku, kamu pasti paham sama maksud aku kan mas?" tanya Adiva seraya menatap sedih ke wajah Alzam.


"Iya, tenang saja sayang. Saya pasti akan memperjuangkan keadilan untuk kamu dan juga untuk almarhumah mantan istriku, Zahra. Mas jujur juga sangat tidak menyangka ternyata mama bisa setega itu. Mas akan memikirkan solusi yang terbaik untuk kita semua. Sama-sama saling mengerti aja ya sayang?" ucap Alzam menenangkan Adiva.

__ADS_1


"Iya mas, makasih. Aku mau pulang dulu ya kerumah? Aku mau menenangkan diri aku, aku juga butuh ketenangan."


"Mas antar kamu pulang ya?"


"Gausah mas, lebih baik kamu tungguin aja mama kamu disini, sampai dia sudah sadar."


"Yaudah kalau gitu, kamu hati-hati dijalan ya istriku?"


"Iya mas, aku pulang."


Adiva melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga. Daffa sendiri menarik tangan Amel, mengajaknya pergi ke tempat yang agak sepi disekitar rumah sakit itu. Daffa ingin menegur istrinya yang suka nyinyir itu.


"Ada apa sih mas kamu bawa aku kesini? Kamu mau marahin aku, iya? Kamu ingin belain curut got yang jorok itu?"


"Ya! Aku minta sama kamu tolong jaga bibir kamu mulai dari sekarang ya sayang? Jangan suka memperkeruh suasana. Kita semua lagi pusing mikirin mama! Pokoknya nanti kalau kita pulang, kamu wajib minta maaf sama Adiva."


"Apa, minta maaf sama dia? Aku nggak sudi lah. Tolong jangan paksa aku buat ngelakuin itu mas. Jijik deh." tolak Amel seraya bersedekap dada.


"Udahlah Daffa, kamu jangan maksa dia buat minta maaf. Toh suatu saat nanti istri kamu bakalan ngemis maaf sama istri aku." sahut Alzam tiba-tiba ngagetin mereka berdua.


"Cih! Nggak sudi lah ya, aku minta maaf sama istri kamu yang nyebelin itu!"


"Yaudah, tapi yang pasti aku jamin itu! Kamu akan menyesal karena udah sering banget menyinggung perasaan istri aku."


"Alzam, begini kelakuan kamu sama orang yang lagi hamil? Kurang ajar banget sih? Kamu pasti udah ketularan istri kamu yang nggak tahu etika itu!"

__ADS_1


"Yang nggak tahu etika itu kamu, ular! Aku harap kamu sekolah tata krama lagi sana, Biar kamu punya etika."


Bersambung...


__ADS_2