MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Rasa Perhatian Dibalas Dengan Kebencian


__ADS_3

"Yaudah ya mama jangan lebay, kita akan segera mandi kok dan nanti kita bersih lagi, kita wangi lagi." ucap Alzam wajahnya malas mendengar ocehan mamanya.


Mama Linda tidak menghiraukan perkataan Alzam lebih baik pergi duluan ke meja makan. Selesai Alzam dan Adiva mandi mereka menyusul mama Linda ke meja makan.


Meski mereka sudah makan tadi dengan nuansa ekslusif di restoran termahal, namun mereka tetap ingin menghargai keluarga mereka sendiri dengan menemani makan bersama di meja makan. Hanya mengambil sedikit makanan saja.


Lagi-lagi Amel yang sudah tertidur dengan lelapnya tidak ikut menghadiri acara makan malam keluarga lagi. Amel sudah terlena dengan mimpinya yang menghibur.


"Udah tidur ya Amel?" tanya mama Linda dengan nada bicara yang sewot sembari mengambil nasi.


Daffa mengangguk, wajahnya selalu tidak enak kepada semuanya. Istrinya sering membuatnya kecewa.


"Aduh itu mantu lama-lama makin ngelunjak. Kalau bukan dia adalah anak dari bestie saya, mana mungkin saya biarkan dia bahagia dirumah saya!" nyalang mama Linda.


"Lebih baik istri saya kan mam, meski dia jorok dan awut-awutan tapi dia selalu saja menemani kita semua makan bersama." sahut Alzam membanggakan istrinya kembali.


"Udah deh Alzam, mendingan kamu ambil tuh nasi, lauk, buah, daripada kamu omongin suatu hal yang membuat mama bisa muntah!" balas mama Linda marah.


"Nggak lah, kalian berdua saja yang habisin semua ini. Tadi, kami udah makan diluar. Kita makan berdua di restoran favorit saya mam." jelas Alzam.


"Iih apa-apaan kamu ini! Buang-buang uang segala pakai ngajak dia makan diluar! Makan dirumah udah cukup, enak juga kan masakan buatan para pembantu?" protes mama Linda tidak suka melihat Adiva bahagia.


"Buang-buang itu orang yang suka hamburin uang buat beli barang-barang branded hampir setiap hari. Padahal diluaran sana banyak orang yang butuh buat makan saja susah, yuhuu," sahut Adiva berani.


Mama Linda tidak terima lalu melempar sendok yang langsung kena di dahi Adiva. Terdengar sedikit bunyi "pletuk" dan cukup sakit rasanya.

__ADS_1


"Kamu nyindir mama ya! Karena mama suka belanja barang-barang mahal bareng Amel? Kamu iri karena kamu nggak pernah mama ajak belanja ke mall? Hahahaha, iri bilang mantu gembel!" lantang mama Linda yang dimana suara lantangnya memarahi Adiva juga didengar oleh bi Turi yang sedang melangkah membawa jus blueberry pesanan mama Linda.


"Aku nggak ada nyindir siapa-siapa kok tapi kenapa mama yang kesindir ya? Berarti mama ngerasa dong kalau mama adalah orang yang masuk kategori omongan Adiva barusan? Hehehehe." kata Adiva dengan beraninya.


Alzam hanya tersenyum kecil melihat keberanian istrinya.


"Terserah saya dong! Uang-uang saya! Kamu ini emang kurang ajar ya! Pasti didikan dari orang tua kamu dulu tuh yang dimana mereka nggak becus dalam mendidik anak, jadinya si anak tumbuh menjadi anak yang bandel dan menjengkelkan seperti kamu ini!" singgung mama Linda.


"Mama jangan bawa-bawa orang tua Adiva dong, dia udah tenang di alamnya bersama dengan istriku Zahra. Justru mereka pasti bangga karena Adiva tumbuh menjadi gadis yang baik, pemberani, pandai, dan juga serbaguna," bela Alzam.


"Tepung terigu kali ah serba guna! Aah, tapi mas Alzaaam, jadi makin cinta deh sama kamuu." genit Adiva senang dibelain lagi sama suaminya.


Mama Linda mengernyitkan dahi sangat tidak suka dan ilfil melihat kegenitan Adiva kepada anaknya.


"Yaudah sayangku, sebelum kamu dilempar gelas atau piring karena mama lagi marah, mendingan sekarang kita ke kamar aja ya? Mama kita ke kamar dulu ya?" ucap Alzam lalu bergegas bangkit dan menarik tangan istrinya. Mereka berdua berlari pelan meninggalkan mama Linda dan Daffa berdua di meja makan.


Hari berganti hari. Langit selalu punya mimik cerita yang berbeda. Mimik ceria yaitu saat langit sedang menunjukkan kecerahan. Mimik sendu saat ia sedang mendung. Mimik menyeramkan saat ia sedang tidak bersama dengan sahabat sejatinya yaitu matahari. Yaitu saat malam datang, malam adalah hitam luas yang misterius dan sunyi.


Pagi ini Amel sedang duduk bersedih, merenung sendirian di kursi taman. Akhir-akhir ini moodnya buat ngerjain menantu saingannya udah hilang, karena janin yang ada dalam kandungannya itu membuatnya terus berpikir resah. Bahkan Amel baru bangun tidur aja tidak langsung cuci muka dan menggosok gigi, tapi malah langsung mencari ketenangan di taman rumah ditemani tetesan embun-embun pagi.


Segundah ini ia sekarang? Kebahagiaan dalam hari-harinya seketika pudar akibat perbuatan bodohnya di masa lalu. Serba salah ia alami, mau gugurin kandungan di dukun aborsi takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Dirumah sakit, harus ada alasan yang dibenarkan. Bunuh diri juga bukan jalan yang terbaik. Amel tidak tahu harus mencurhatkan kesedihannya kepada siapa? Semua orang justru akan menghujatnya ia pikir, jika ia menceritakan soal rahasia kehamilan ini.


Jika meminta cerai dengan Daffa dan kemudian menikah dengan Alex demi janin yang ia kandung, itu juga bukan solusi terbaik. Karena Alex adalah orang jahat yang sewaktu-waktu bisa diciduk pihak kepolisian. Amel tak mau hidupnya bertambah hancur jika menikah dengan Alex.

__ADS_1


"Kalau kandungan ini membesar pasti nanti akan aneh. Kandungan ini akan lahir sebelum waktunya ia lahir. Orang-orang pasti akan curiga sama aku," batin Amel risau.


Dari belakang, tepatnya dari pinggir air mancur mini, Daffa tengah mengamati istrinya yang sedang duduk termenung sendirian. Daffa sebenarnya juga ikut sedih karena ia sungguh mencintai Amel. Kalau belahan jiwanya sedang menyesak maka ia juga ikut sesak.


Ingin ia menghampiri Amel tapi khawatir akan diusir lagi oleh Amel, karena mungkin, Amel masih ingin menyendiri dulu menenangkan pikiran.


Daffa kembali kedalam rumahnya bersiap-siap akan berangkat ke kampusnya. Tak berselang lama, Adiva keluar dari dalam rumah. Karena hukuman dari suaminya semalam, akibat membuat pakaian kotor kena lumpur sawah, Adiva khusus hari ini akan berangkat ke kampus tanpa diantar oleh sopir pribadi keluarga mama Linda. Hukuman tetap dijalankan dan Adiva memilih akan berangkat naik bus saja nanti.


Saat sedang berjalan ceria penuh semangat belajar, perhatiannya teralihkan kala ia menatap ke area taman, dimana ada seorang wanita berambut kumel yang sedang duduk sedih di kursi putih taman.


Adiva inisiatif menyapa Amel, sejahat apapun Amel, tapi sekarang dia sudah menjadi bagian dari keluarganya juga.


"Amel?" sapa Adiva dengan nada bicara yang sangat bersahabat.


Amel hanya melirik saja lalu memalingkan wajahnya kearah yang lain.


"Kamu kalau ada apa-apa cerita aja sama aku? Jangan dipendam sendiri! Itu gak baik. Kaya aku dong, kalau ada apa-apa, aku cerita sama suami aku." tanya Adiva lalu duduk disamping Amel.


Amel masih saja terdiam. Ia merasa gengsi kalau mau diajak berbicara oleh Adiva.


"Jangan kacangin gitu dong, kita kan sama-sama menantu mama Linda."


Amel kembali menolehkan wajah kepada Adiva dengan mimik wajah yang tidak suka.


"Mungkin status kita sama-sama menantu, tapi yang jelas, level aku dan kamu itu beda! Aku jauh lebih baik segala-galanya daripada kamu! Mengerti ipar yang jorok!" nyalang Amel.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2