
Hujan yang turun menambah hawa menjadi terasa semakin dingin. Adiva mengambil jaket yang ia simpan di dalam tasnya untuk menghalau rasa dingin itu. Lalu ia menggunakan jaket yang berwarna hitam itu. Sopir pribadi keluarga yang harus menjemput Adiva sore ini ternyata sedang terjebak macet. Sopir pribadi itu mengabari Adiva lewat pesan singkat mengabarkan bahwa ia sedang terjebak macet yang panjang.
Betapa malasnya Adiva kalau harus menunggu tanpa kepastian kapan macet itu akan berakhir. Sedikit air gerimis yang timbul akibat hujan badai itu menerpa wajah Adiva. Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Adiva, membuat Adiva terkejut saja. Ternyata itu adalah Lisa yang belum pulang dari kampusnya.
"Lisa, kamu ngagetin aja sih. Kamu belum pulang?"
"Belum beb, nunggu papa aku selesaikan urusannya dulu tuh. Nanti aku pulang bareng papa, aku yang sopirin papa nanti."
"Ouh gitu."
"Mobil yang jemput kamu, tumben belum dateng?"
"Dia terjebak macet Lis. Duh keknya bakalan lama deh."
"Pulang bareng aku aja yuk, nanti aku antarin sampai rumah kamu."
"Nggak ah, nggak mau ngrepotin. Aku bisa cari taksi atau ojek. Eh, ngomong-ngomong barusan aku melihat kaya ada orang berjubah kuning yang berlari deh didekat ruang unit kesehatan itu. Apa itu tukang kebun ya?"
"Pasti lah, kan keamanan di kampus ini bagus. Mana mungkin ada penyusup yang bisa masuk. Dia memakai jubah kuning pasti itu jas hujan dia."
"Iya sih, tapi aku ngerasa kaya aneh aja. Orang itu juga pakai topeng saat tadi sekilas aku lihat. Mana nyeremin lagi, topengnya."
"Udah deh Adiva sayang, kamu jangan terlalu paranoid gitu dong. Kamu ini kebanyakan nonton film thriller deh keknya."
"Aku belum pernah nonton film thriller njir. Aku sukanya nonton film action, adu pukul, seru tahu!"
"Fiuh, dasar kamu mah tukang berantem ya, hehehehe."
"Hahahaha. Eh itu ada mobil yang datang, siapa ya kira-kira?"
__ADS_1
"Mana aku tahu Adiva."
Sebuah mobil berwarna hitam bercampur kuning datang ke kampus. Pengemudinya keluar dari dalam mobil dengan memakai jaket hitam bertudung kuning, pria itu mereka berdua tidak mengenalinya tapi pria itu sedang melangkah menghampiri mereka ditengah guyuran air hujan ia melangkah.
"Selamat sore, permisi, yang mana yang namanya Adiva ya?"
"Saya sendiri Adiva mas. Kamu siapa ya dan ada perlu apa?"
"Saya ditugasin sama tuan Alzam buat menjemput kamu pulang ke rumah sekarang juga."
"Why, sejak kapan suami aku kirim orang lain yang aku nggak kenal buat menjemput aku pulang dari kampus?"
"Mbak Adiva tenang aja, saya bukan orang jahat kok. Saya sendiri juga punya nomor kontak suami mbak. Kenapa mbak Adiva belum dijemput oleh sopir pribadi sekarang? Tadi sopir pribadi mbak katanya langsung menghubungi tuan Alzam, lalu tuan Alzam bergerak cepat menghubungi saya untuk menjemput mbak Adiva."
"Oh gitu ya, ya ampun, mas Alzam perhatian banget sih, uuuh makin terkesima aku tuh sama dia. Yaudah aku mau deh diantar pulang sama kamu. Kepalaku sakit banget lagi, malas lama-lama berdiri kedinginan disini. Lisa, aku pulang dulu ya cantik?"
"Iya Adiva, kalau ada apa-apa kamu hubungi aku ya?"
Mereka berdua saling berpelukan sebelum Adiva pulang, lantas Adiva mengikuti sopir suruhan itu melangkah menuju kedalam mobil. Adiva duduk disamping sopirnya tidak dibelakang seperti seorang penumpang pada umumnya.
"Kamu udah tahu kan dimana rumah mas Alzam dan aku tinggal?" tanya Adiva seraya memasang sabuk pengaman.
"Jelas tahu, saya udah pernah kesitu dua kali kok mbak. Mbak tenang aja ya, saya nggak akan macam-macam." jawab sopir itu meyakinkan.
Saat mobil melaju ternyata Bandi sedang berlari dari arah belakang dan hampir saja ia memegang mobil itu, namun mobil itu keburu melaju pergi.
"Adivaaa!" teriak Bandi panik, terguyur hujan yang sangat deras.
Teriakan itu tidak terlalu kedengaran karena hujan begitu deras. Bandi harus mengejar Adiva menggunakan motornya, karena harusnya ia yang mengantar Adiva pulang. Tapi malah orang lain yang misterius yang mengantarkan nyonya mudanya pulang.
__ADS_1
Bandi bergegas berlari ke motornya namun dipanggil oleh Lisa yang berlari memakai payung.
"Woy, ngapain kamu kaya gugup gitu? Itu mah sopir suruhan suaminya Adiva kali yang menjemput Adiva barusan." jelas Lisa menjelaskan.
"Nggak! Itu pasti orang yang punya niat jahat! Soalnya tuan muda Alzam bilang kalau apapun yang terjadi, harusnya saya yang mengantar Adiva pulang pergi. Saya buru-buru, permisi." ujar Bandi lalu bergegas mengebutkan laju motornya.
Lisa jadi cemas seketika, lalu berusaha menghubungi nomor HP Adiva tapi tidak diangkat oleh Adiva karena Adiva memakai mode pesawat dalam ponselnya.
Didalam mobil jemputan yang katanya adalah suruhan suaminya itu, sudah tiga puluh menitan melaju, Adiva merasa kalau mobil ini melaju ke jalan yang tidak biasa dilalui. Apakah ini jalan pintas? Soalnya jalanan disekitarnya adalah seperti sebuah perkebunan kosong dan bangunan yang sepertinya sedang dalam proses pembangunan, namun suasananya sudah sepi sekali karena hujan turun dengan lebatnya. Petir juga terus menyambar dengan gelegar ngerinya di angkasa.
Mobilnya tiba-tiba diberhentikan didepan bangunan yang belum jadi itu.
"Loh kenapa berhenti disini mas?"
"Sebentar mbak, saya kebelet pipis, saya mau pipis dulu didekat bangunan itu ya mbak?"
"Iya mas. Gih sana pipis daripada ngompol disini."
Sopir itu buru keluar seraya berlari karena terlihat sudah tidak tahan lagi menahan pipis dan Adiva harus bersabar menunggunya kembali didalam mobil.
Sudah sekitar enam menit Adiva menunggu tapi sopir itu belum juga balik. Apakah terjadi sesuatu kepada sopir itu? Apakah sopir itu sedang mengerjai dirinya? Hawa dingin menyeruak masuk saat Adiva mencoba membuka kaca mobil. Hujan semakin lebat saja. Adiva menatap kearah langit yang semakin gelap.
Tiba-tiba, ia mendengar teriakan kecil si sopir dari area bangunan. Sontak saja mimik wajahnya jadi terkejut dibuatnya. Apa yang terjadi? Apakah sopir itu dalam bahaya? Adiva sebagai seorang yang juga peduli akan keselamatan orang lain lantas keluar dari dalam mobil, dan berlari kearah bangunan.
Saat berlari ia terpeleset karena jalanan yang begitu licin akibat genangan air yang mengalir. Sudah basah, pakaian Adiva pun menjadi kotor kena tanah yang becek. Adiva sempat mengeluh lalu ia bangkit lagi, berlari ke area bangunan, apakah sopir itu diserang penjahat, pikirnya?
Teriakan dari si sopir itu semakin keras, seperti orang yang sedang disiksa oleh sesuatu. Adiva jadi takut buat mengecek lebih jauh, tapi ia juga merasa nggak boleh diam saja di tempat. Adiva masih berdiri ditengah bangunan itu, menyaksikan tetesan air yang menghujani bangunan megah yang sedang dalam proses pembangunan itu. Sepertinya bangunan ini akan menjadi sebuah pabrik.
"Aaaaaaaaa!" teriak sopir itu semakin kencang.
__ADS_1
Adiva begitu pilu mendengarnya, teriakannya sangat kencang, kedengaran pilu ditengah derasnya air hujan yang turun dari cakrawala suram. Adiva mencoba memberanikan diri masuk kedalam dengan membawa sebuah batu berukuran sedang sebagai senjata untuknya berjaga-jaga.
Bersambung...