
"Aku apa Bandi?" tanya Lisa dengan wajah excited.
"Aku ingin kamu menjadi suamimu, maukah kamu menerima lamaranku?" ucap Bandi dengan nada bicara yang terdengar gugup.
Sontak saja Lisa langsung ketawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan Bandi barusan.
"Kamu ingin aku menjadi suamiku? Maksudnya itu apa sih Bandi, hahahaha hahahahaa,"
Tawa membahana Lisa sampai kedengaran oleh Adiva dan Alzam di dalam rumah. Mereka berdua penasaran apa yang sedang dilakukan oleh Lisa diluar rumah. Mereka berdua bergegas melangkah menuju luar rumah bersama.
"Aduh, aku gugup Lis," sahut Bandi sembari menggaruk kepalanya meski tidak terasa gatel.
"Udah jangan gugup. Malu sama badan kamu. Sekarang lanjutin ya?"
Bandi kembali memegang tangan Lisa, kali ini Bandi ingin mencoba lebih berani lagi. Bandi ingin berusaha membuang rasa yang gugup itu. Dari balik pohon, diam-diam Alzam dan Adiva sedang mengamati mereka sembari senyum-senyum manja.
"Lisa, apakah kamu mau menerima aku sebagai calon suamimu?" ucap Bandi cepat sembari memejamkan kedua matanya.
Lisa terkekeh melihat sikap Bandi yang malu-malu kucing seperti itu. Ternyata dibalik tubuh kekarnya dan aura garangnya, Bandi bisa malu juga didepan wanita. Apakah laki-laki kekar dan garang diluaran sana punya sifat yang sama juga dengan Bandi?
"Bandi, buka mata kamu?"
Bandi pun membuka kedua matanya.
"Lalu tatap mata aku Bandi?"
"Kamu mau menghipnotis aku dengan pesonamu Lisa?"
"Ah bisa saja kamu gombalnya. Oke aku jawab, aku gak terima,"
Sekejap raut wajah Bandi langsung berubah menjadi raut wajah yang kecewa karena Lisa ternyata hanya mempermainkan dirinya. Lisa tidak mau menerima dirinya sebagai kekasihnya.
"Oke, Lis, aku sadar diri kok aku siapa. Aku gak mungkin bisa bahagiakan kamu seorang anak sultan. Apalah aku yang hanya seorang bodyguard ini. Kamu sangat berhak buat menolak perasaan aku Lis." ucap Bandi sedih kemudian bergegas berdiri ingin meninggalkan Lisa disitu.
Lisa menarik tangan Bandi.
"Jangan pergi dulu Ndi," ucap Lisa lembut.
Bandi kembali menoleh kearah Lisa.
__ADS_1
"Maksud aku bukan mau nolak kamu kok Ndi?"
"Terus apa?"
"Maksudnya, aku gak mau nolak, gak mau nerima kamu jika nggak menjadi calon suamiku." jawab Lisa membuat Bandi langsung berteriak girang karena saking bahagianya.
"Yeeees!"
Alzam dan Adiva terlihat senang melihat bodyguard andalan mereka sekarang sudah tidak jomblo lagi. Karena saking senangnya, Bandi langsung membopong Lisa dengan berputar-putar.
"Ih bandi, kamu ini apa-apaan sih! Pusing tahu, hahaha aaaaaaa!" teriakan kebahagiaan Lisa dan Bandi.
Alzam dan Adiva bertepuk tangan dari balik pohon. Mereka keluar dari balik pohon mengejutkan mereka berdua.
"Dari tadi kalian memperhatikan kita ya?" tanya Lisa merasa malu.
Adiva langsung berlari menghampiri mereka berdua.
"Selamat ya beb akhirnya kamu gak ngejomblo lagi. Oh iya, selamat juga buat mas bodyguard yang kekar ini akhirnya bentar lagi nikah mas, ihiy!" tandas Adiva ceria.
Bandi langsung menurunkan Lisa tidak ia bopong lagi. Sontak Lisa langsung memeluk Adiva dengan wajah haru.
"Makasih beb, akhirnya aku bisa menemukan cinta sejatiku setelah selama ini aku berkelana kesana kemari." ucap Lisa dalam pelukannya.
Singkat waktu hari pun berganti. Pagi ini hujan turun dengan lebatnya membasahi bumi di sekitaran rumah Alzam dan Adiva. Adiva tengah berdiri di samping rumah sembari menatap bunga-bunga cantiknya yang tersiram kesegaran air di pagi hari yang dingin ini.
Rasanya hidupnya kembali damai setelah mendengar kabar mama Linda sudah berhasil diamankan lagi di penjara. Adiva menoleh ke samping kiri, melihat Alzam yang sedang melangkah sembari membetulkan kancing baju kearahnya.
"Sayang?" sapa Alzam ketika sudah sampai di samping Adiva.
Tangan Alzam bergerak merangkul mesra istrinya.
"Hari ini mas mau pergi ke rumah tahanan. Mas mau menemui mama, kamu dirumah saja ya nggak usah ikut."
"Iya mas, melihat wajah mama kamu aja aku udah nggak sudi lagi apalagi ketemu. Kamu hati-hati ya mas? Jangan sampai kamu terluka."
"Iya, kalau gitu aku pergi dulu ya?"
Adiva mengangguk kemudian mengantar Alzam sampai ke garasi mobil. Dari dalam garasi Adiva melihat suaminya yang sudah pergi dengan mengendarai mobilnya. Kemudian, Adiva mengambil sebuah payung. Adiva ingin pergi ke paviliun menemui si Bandi.
__ADS_1
Adiva mengetuk pintu paviliun dan Bandi bergegas membuka pintunya. Ternyata Bandi sedang ngopi pagi bareng sopir pribadi keluarga mereka.
"Nyonya muda, ada apa hujan-hujan begini datang kesini? Nyonya mau pergi keluar ya?"
"Nggak Bandi, aku cuma mau menyampaikan sesuatu sama kamu."
Bandi mempersilahkan Adiva untuk masuk kedalam paviliun terlebih dulu kemudian, Adiva duduk diatas sebuah kursi.
"Sesuatu apa yang ingin nyonya sampaikan?"
"Jaga baik-baik Lisa ya? Dia adalah teman baikku. Bandi, aku mendukung cinta kalian. Habis ini, semalam aku dan mas Alzam membahasnya di dalam kamar. Mas Alzam ingin kamu menjadi seorang CEO di salah satu anak perusahaannya di Bandung. Bandi, apa kamu mau?"
Di pagi hari yang dingin tanpa hangatnya sinar mentari pagi ini, Bandi mendapat kejutan dari majikan mereka. Ini seperti mimpi yang sangat indah.
"Apa tuan Alzam dan nyonya Adiva serius dengan rencana kalian?"
Adiva langsung menggebrak meja, tampak marah. Kegarangan dirinya kembali muncul.
"Ya serius lah!" jawab Adiva dengan nada tinggi sampai terdengar agak serak.
Sontak saja Bandi dan juga sopir pribadi mereka berjingkut kaget.
"Kita, aku dan mas Alzam kalau membahas hal yang berbau pekerjaan penting itu tidak pernah main-main. Bandi, kamu yang semangat ya. Ini tuh udah rezeki kamu. Kalau gitu aku mau kembali ke rumah ya, happy work semuanya," ucap Adiva tersenyum kemudian berjalan keluar dari dalam paviliun.
Bandi mengikuti Adiva dari belakang, hatinya terasa sangat riang karena setidaknya, dirinya tidak akan terlihat biasa di hadapan orang tua Lisa nanti.
"Terimakasih nyonya!" teriak Bandi dari belakang Adiva. Sekarang giliran Adiva yang berjingkut kaget karena mendengar suara keras Bandi.
"Bandi lebay deh, hampir aja aku kepeleset karena kaget," sahut Adiva kemudian mengangkat payungnya.
Bandi merasa sangat bersyukur karena bekerja kepada majikan sebaik Alzam dan Adiva. Sopir pribadi itu mengucapkan selamat atas rezeki nomplok yang didapatkan Bandi.
"Hahaha selamat ya sob, Bismillah semoga gua ketularan rezeki nomplok lu, aamiin!"
"Aamiin sob!" sahut Bandi sembari mengusap penuh rasa syukur wajahnya.
Dari atas rerumputan taman Adiva melangkah, merasa sangat bahagia karena pagi ini telah berbuat kebaikan dengan membuat orang lain senang. Sekarang Adiva merasa hidupnya jauh lebih bermanfaat dibandingkan dulu. Ternyata menjadi orang kaya itu juga bukan suatu kesalahan. Justru menjadi kaya itu juga hal yang sangat diperlukan.
Kekayaan itu simbol kejayaan, kekuatan, dan juga kebaikan.
__ADS_1
Dengan kekayaan yang dimilikinya dan suaminya, Adiva ingin membantu banyak orang sebisa mungkin ia bisa bantu.
Bersambung...