
Malam pun tiba... Acara pesta pertunangan Daffa dan Amel berakhir pukul tiga sore tadi. Semua tamu undangan sudah pulang ke kediaman mereka masing-masing. Namun Amel ingin menginap dirumah mama Linda satu malam aja. Mama Linda menyiapkan kamar yang sangat mewah untuk menantu tercintanya itu, mama Linda akan menyuruh tiga pembantunya menyulap kamar tamu menjadi lebih bagus, seperti kamar seorang putri kerajaan.
Sementara itu di dalam toilet umum dalam rumah Amel, Adiva tengah melihati beling kaca yang berserakan diatas lantai, beling kaca akibat ulah Amel tadi siang yang memecahkannya.
"Kenapa kaca ini bisa pecah? Ini kalau keinjak kan bahaya. Kayaknya belum ada yang tahu ini deh sebelum aku?" gerutu Adiva.
Disisi lain, ditempat yang lain, ada dua orang tamu undangan yang sedang membicarakan persoalan kaca pecah didalam toilet umum rumah keluarga Amel. Pecahan beling itu berserakan dimana-mana. Bahkan, salah satu dari mereka ga sengaja menginjak beling sampai kakinya berdarah. Untung sudah diobati.
"Tadi aku kan kebelet, terus masuk ke toilet umum dirumah itu kan, eh banyak sekali beling pecah! Aku jadi batal pipis kan,"
"Wah parah, parah, siapa yang mecahin ya?"
Adiva dengan hati-hati melangkah diatas beling yang berserakan itu kemudian masuk kedalam WC. Adiva sudah sangat kebelet. Selesai menuntaskan, Adiva pergi keruangan tamu lagi.
Malam ini, karena sebentar lagi akan diadakan dinner bersama seperti malam biasanya. Alzam dan Daffa sudah duduk disana dan Adiva akan memberi tahu Alzam kalau kaca di toilet umum keluarga Amel ada yang pecahin.
"Kak Alzam, gue mau kasih tahu lo sesuatu," bisik Adiva, Daffa tampak kepo.
"Sesuatu apa? Kamu minta malam ini jadi malam pertama kita, hehehe?" tanya Alzam dengan nada bercanda
"Ih ! Ini tuh soal cermin yang terpasang di toilet umum keluarga Amel kak, ada yang mecahin! Lihat tadi di lantai, banyak beling yang berserakan kan bahaya kak,"
"Siapa yang mecahin? Toilet umum kan digunain sama tamu undangan yang kebelet. Mungkin salah satu dari mereka ada yang sedang punya masalah berat, hingga pelampiasannya ke cermin di toilet umum itu, hmmm kasihan banget cerminnya,"
"Kesal kok pelampiasannya ke cermin, hohoho," gumam Adiva.
Mama Linda dan Amel datang bersama ke meja makan, mama Linda sengaja memanas-manasi Adiva dengan merangkul manja bahu Amel saat mereka datang. Mama Linda juga akan memperlakukan Amel dengan penuh perhatian didepan Adiva, agar Adiva merasa sirik.
__ADS_1
"Silahkan sayangku kamu duduk disini, di dekat mama, pokoknya cuma kita berdua mertua dan menantu yang kompak dan juga sehati di rumah ini," girang mama Linda sembari melirik benci kearah Adiva.
"Aah, makasih mamter kesayangan Amel. Amel janji nggak akan pernah malu-maluin mama mertua," sahut Amel dengan wajah ceria.
Kompak menyindir Adiva, tapi Adiva masa bodo.
Adiva memutar bola mata malas melihat mama mertua dan calon mantu lain yang sengaja memanas-manasi dirinya. Justru itu menjadi cambuk buat Adiva untuk semakin bersemangat dalam kuliahnya, mendapat hasil akhir yang terbaik, dan menemukan pekerjaan yang bisa mengangkat derajatnya. Adiva ingin membuktikan ke semua orang yang membencinya kalau suatu saat dirinya bisa menjadi orang yang sukses dan berhasil.
"Amel sayang, kamu mau makan apa? Tuh lihat banyak sekali makanan enak diatas meja. Ini semua mama suruh pembantu masakin spesial buat kamu, buat Daffa, dan juga buat mama dan Alzam," kata mama Linda bikin hati Adiva makin teriris karena namanya tak disebut.
"Gue menantu yang gak dianggap, hiks... Begitu pedih, ternyata dipukul preman sama nggak dianggap jauh lebih sakit rasanya nggak dianggap ya? Seperti ini rasa sedih itu." sedih Adiva didalam hatinya kemudian berjalan pergi keluar.
Semua orang melihat Adiva yang berjalan keluar rumah, mama Linda dan Amel saling mengkode dengan mengangkat alis karena berhasil membuat Adiva sedih. Tentu saja sebagai suami , Alzam segera berlari menyusul Adiva diluar. Alzam merasa sedih juga melihat Adiva yang selalu tidak dianggap oleh mamanya, apalagi kali ini mama Linda lakukan didepan Amel juga. Semakin parah malah.
Adiva sedang menangis sembari duduk di kursi taman. Suasana malam yang gelap tidak membuatnya takut untuk menyendiri diluar rumah. Alzam berjalan pelan, dari jarak yang cukup dekat dirinya diam-diam mengamati tangisan seorang istri yang sebenarnya juga tak ia cintai.
"Apakah gue menyerah saja jadi istri kak Alzam? Jujur, sepertinya hidup miskin dan menjadi seorang petani kopi jauh lebih nyaman buat gue," gumam Adiva pelan namun masih bisa didengar oleh suaminya.
"Buat apa hidup enak tapi nggak ada orang yang peduli sama gue," lanjut Adiva.
Mendengar lirih pelan suara pasrah yang diucapkan oleh istrinya, Alzam jadi tersadar kalau selama ini dia telah membuat hidup Adiva berada dalam penderitaan batin. Alzam menghampiri Adiva, kehadiran Alzam membuat Adiva terkejut dan langsung menghapus air matanya sendiri.
"Maafin gue ya, akhir-akhir ini jadi cengeng," tutur Adiva seraya mengusap air matanya.
Alzam duduk disamping Adiva lalu memeluk Adiva dengan erat.
"Peluklah saya sepuasnya, saya adalah orang yang akan memberikan kamu cinta dan juga kenyamanan," ucap Alzam penuh wibawa membuat Adiva jadi kaget kala Alzam mengucapkan kata cinta? Cinta yang tulus kah?
__ADS_1
"Apa maksudnya ini? Kak Alzam cinta sama gue? Kakak beneran? Atau cuma lagi menghibur gue aja, PHP aja?"
Alzam mengangguk kemudian melepaskan pelukannya.
"Tidak benar. Wajahmu mengingatkan aku kepada Zahra. Selama ini memang cuma Zahra yang aku cinta. Tapi dia sudah tidak ada lagi didunia ini. Aku tahu, kalau aku tidak boleh terus menerus begini. Kamu, sangat mirip dengan kakakmu, yaaaa... Meski sifat kamu dan kakakmu beda jauh, seperti langit dan dasar sumur, tapi aku akan berusaha belajar menerima kamu menjadi istriku dan aku berharap kamu juga mau belajar menerima aku menjadi suami kamu," lembut Alzam berkata seraya memegang halus kedua pipi Adiva.
"Makasih kak," balas Adiva lalu memeluk erat suaminya dengan penuh haru. Akhirnya Adiva mendapatkan cinta yang membuat hatinya menjadi berbinar, hidup, dan bersemangat. Aaaah mesranya. Akhirnya mereka bersatu dalam ikatan cinta yang asli.
Bulatnya rembulan dilangit gelap menjadi saksi cinta tulus yang mulai terukir diantara mereka. Ratusan bintang yang menghiasi langit malam menambah indah, awal dari keromantisan diantara mereka. Seorang gadis tomboy yang jorok dan bar bar, mendapatkan cinta dari seorang laki-laki bersih, rapi, tampan, dan perfeksionis. sungguh sebuah kisah cinta yang mungkin jarang terjadi di dunia ini.
Rasa itu telah tumbuh
Rasa itu mulai berlabuh
Rasa itu mulai ada
Rasa itu menjadi nyata
Adiva adalah pelabuhan hati Alzam setelah Zahra. Setelah sekian lama Alzam terpaku dan berdiam dengan pelabuhan pertamanya yang sudah hancur diterjang badai.
Apakah kedepannya cinta mereka akan semakin romantis? Atau justru akan semakin banyak ujian rumah tangga yang datang menghadang?
Hai, Hai readers
Author kembali dengan episode baru
Tetap baca kelanjutan ceritanya ya.
__ADS_1
Dukung terus karya ini dan sampai jumpa di episode selanjutnya