
Masih di tempat destinasi wisata private, destinasi wisata yang sudah disiapkan hari ini oleh Alzam dan Adiva untuk mereka nikmati berdua. Kini Alzam sedang membakar ikan yang udah mereka dapat diatas bara api. Adiva tidak sabar menunggu ikan itu matang dan akan mereka santap berdua. Tapi tidak ada kecap dan bumbu sehingga ikan itu pasti nanti rasanya akan menjadi hambar. Adiva tidak se semangat itu menunggu ikan matang, tapi lumayan karena perutnya bisa diganjal lapar dengan makan ikan itu.
"Mas, tempat ini namanya apa sih? Aku nyaman dan bahagia banget kalau tinggal disini. Tapi harus ada stock makanan juga dan berdua sama kamu aja."
"Ini tuh lembah sayang, tempat ini awalnya adalah hutan namun karena akan dijadikan destinasi wisata maka banyak pepohonan yang pada akhirnya dibabat oleh para pekerja. Ini dqulunya tempat ini adalah sebuah hutan belantara yang cukup seram."
"Tapi gila sih, tempat yang cukup seram bisa jadi seindah ini. Mas, aku mau cuci tangan sama cuci muka dulu ya?"
"Iya sayang, berhati-hatilah."
Adiva pergi melangkah ketepi sungai untuk mengambil air, ia ingin mencuci mukanya dan juga tangannya yang agak kotor. Namun tiba-tiba, karena kurang berhati-hati dan ceroboh, Adiva malah terpeleset sebuah batu berukuran sedang dan ia pun jatuh kedalam air.
"Aaaaaa..."
"BYUUUUUR...."
Suara teriakan dan orang yang kecemplung air.
"Mas! Tolong akuuu... Maaas?" teriak Adiva panik terbawa arus.
Adiva sekuat tenaga berenang melawan arus tapi arus air jauh lebih kuat melawannya, arus yang deras membawanya cukup jauh mengikuti arus air yang mengalir ke hilir sungai yang entah ada dimana. Alzam terkejut bukan kepalang saat menoleh kearah sungai dan melihat istri kecilnya yang sedang gelagapan didalam air, hanyut terbawa arus.
"Ceroboh! Sayang, bertahanlah!"
__ADS_1
Alzam segera berlari menyusuri tepian sungai, mengejar Adiva dari tepi. Alzam berteriak menyuruh Adiva untuk meraih sebuah batu agar ia bisa bertahan.
"Sayang, batu sayang! Kamu harus bisa menggapainya menggunakan tangan kamu! Ayo kamu pasti bisa sayang, kuat!"
Banyak air yang masuk kedalam mulut dan hidung Adiva hingga ia merasakan perih yang amat sangat diarea tenggorokannya.
"Sayang, aku nggak bisa,"
Suara "Blup-blup" terdengar kalau wajah Adiva yang keluar masuk kedalam air, Adiva berusaha meraih bebatuan di sungai itu namun sulit dan licin. Hingga akhirnya Alzam berlari dengan jaraknya sudah jauh dibawah Adiva, Alzam berdiri diatas batu besar dan siap menarik Adiva dari samping jika Adiva sudah sampai kebawah nanti.
Alzam melihat kearah bawahnya lagi, aliran sungai itu akan terjun dimana sangat bahaya jika Adiva sampai terjatuh kesana. Adiva berusaha sekuat tenaganya meraih tangan suaminya yang sudah dekat kearahnya, beberapa meter lagi Adiva bisa meraih tangan suaminya namun saat Adiva hampir saja meraihnya, Adiva malah terseok arus kembali hingga Adiva mendekati area sungai yang arusnya mengalir kearah bawah itu.
Alzam tidak tinggal diam, Alzam tidak ingin istrinya celaka. Dia tidak mau kehilangan seorang istri kembali untuk yang kedua kalinya, Alzam berenang dengan cepat kearah bawah, sekuat tenaga ia menggapai tangan istrinya dan saat istrinya hampir saja terjatuh, tangan kanan Alzam memegang sebuah batu dan tangan kirinya memegang tangan Adiva. Alzam mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menarik Adiva dan akhirnya, mereka berdua selamat dan sekarang sama-sama sedang duduk lemas diatas batu besar itu.
Adiva membuka matanya perlahan, kejadian barusan membuatnya sangat lemas dan terbayang jika ia jatuh kesana, mungkin Adiva tidak akan selamat. Adiva merasa berhutang nyawa kepada suaminya. Adiva memeluk suaminya rasanya ketakutan itu teramat sangat mendera. Tapi Alzam malah menepis dan menatapnya marah.
"Mana ada saya kerasukan! Saya ini marah, marah sekali. Karena saya punya istri yang ceroboh dan tidak menjaga nyawanya sendiri. Kalau kamu ga ceroboh, pasti kamu tidak akan terjatuh ke dalam sungai!"
Adiva mengakui kalau dirinya salah. Tapi setelah itu Adiva berusaha ingin meredam kemarahan yang ada pada suaminya, Adiva kemudian tersenyum dan mencium pipi Alzam.
"Alhamdulillah, makasih ya mas, bangga banget punya suami yang superhero man banget kaya kamu. Superheronya akuuu," ucap Adiva manja penuh rasa syukur dan senang.
Alzam tidak lanjut marah dan memutar bola mata malas, lalu mengelus mesra pundak istrinya, sangat bahagia dan bersyukur karena istrinya masih bisa diselamatkan dari bahaya kematian yang mengintainya tadi.
__ADS_1
"Yaudah, habis ini kita pergi ke rumah yang tadi kita lihat ya. Kita beristirahat disana sampai besok pagi."
"Uhuk uhuk," Adiva masih merasakan gatal di tenggorokannya akibat air sungai yang masuk tadi.
"Rumah itu aman kan mas? Nggak angker kan? Kan itu rumah di tengah hutan."
"Ya aman dong sayang, yaudah sekarang kita lanjut dulu bakar ikannya. Syukurlah karena kamu masih bisa diselamatkan. Kalau gak, saya ga bisa bayangin kehilangan istri dua kali. Lain kali jangan ceroboh ya!"
"Iya mas, maaf."
Singkat waktu senjakala tiba dalam lembah yang indah ini. Pemandangan di hutan benar-benar asri dan natural. Binatang-binatang malam mulai mempertunjukan suara mereka, saling bersaing satu sama lain dalam heningnya hitam.
Alzam sedang memeluk hangat istrinya dari belakang tepat dibalik jendela, sembari menatap indahnya matahari senja. Rumah yang mereka tempati terbuat dari bahan kayu jati, yang sangat artistik dan nuansanya yang seperti di pedesaan kuno. Namun fasilitas didalamnya begitu lengkap, ada kulkas, WiFi, televisi, dan lain sebagainya.
Siapapun yang menginap dirumah ini pasti akan merasa nyaman dan betah dan memang destinasi wisata ini adalah milik Alzam sendiri. Alzam berencana akan mengembangkan destinasi wisata ini menjadi jauh lebih keren, dan suatu saat destinasi wisata alam ini akan dibuka dan bisa dinikmatin oleh khalayak umum.
"Sayang buatin suamimu ini kopi dong?"
"Sebelumnya, aku mau bertanya sesuatu sama kamu sayang. Kenapa laki-laki itu kebanyakan suka minum kopi? Meski tidak semua tapi rata-rata banyak yang suka minum kopi. Bahkan ada yang menghabiskan sepuluh gelas kopi dalam sehari. Seram deh."
"Karena bagi saya kopi adalah minuman yang sangat enak, membuat mata menjadi melek, dan juga bikin ketagihan saat kita meminumnya."
"Tapi kalau banyak minum kopi juga tidak bagus buat lambung kamu sayang. Tadi pagi kamu udah minum kopi loh segelas gede. Mending sekarang, minum jus buah aja ya? Di kulkas banyak buah tuh mas."
__ADS_1
Alzam terdiam sejenak. Adiva punya sisi lain yang berbeda dengan Zahra dulu. Kalau dulu Zahra manut aja gitu saat ia suruh untuk buat kopi bahkan dalam empat kali sehari sekalipun, namun Adiva berani menentang demi kesehatannya sendiri. Adiva jauh lebih berani dari almarhumah Zahra. Itu adalah poin plus Adiva dibalik banyak kekurangannya. Alzam jadi makin cinta sama istrinya.
Bersambung...