MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Ketakutan Alzam Yang Berlebihan


__ADS_3

Alzam mengangkat kedua bahunya sembari menampakkan ekspresi wajah yang bingung.


"Kenapa kamu berani membatalkan penerbangan kita ke LN? Kamu mau celaka lagi ditangan mama aku?"


"Nggak mas, kita nggak akan celaka. Cukup dengan tinggal disini kunci semua pintu dan jendela aja itu sudah aman. Lagian aku juga yakin pasti polisi bisa menangkap mama kamu lagi kok."


"Seyakin apa kamu? Kalau mas sih nggak. Mama aku itu udah kaya penjahat yang profesional sekali sayang. Tidak main-main dia berkali-kali dipenjara tapi dia berhasil kabur lagi dengan cara pintarnya."


"Ayo kita masuk kedalam rumah mas, aku mendengar Wildan menangis pasti dia udah bangun dari tidurnya."


"Nggak, kamu duluan yang ngurusin Wildan. Aku mau disini dulu sayang."


"Tapi jangan pesen-pesen tiket atau sewa-sewa private jet lagi ya?"


"Aku nggak janji sayang."


"Awas loh ya!"


Adiva berjalan masuk kedalam rumah menyusul anaknya yang sedang menangis didalam kamarnya. Alzam masih tidak habis pikir mengapa istrinya begitu keukeuh untuk tetap tinggal disini, selama mama Linda belum tertangkap kembali?


Rasanya, Alzam semakin membenci ibunya. Alzam sangat khawatir kalau dia membuat kekacauan lagi dengan menghabisi nyawa banyak orang yang tidak dia sukai.


***


Seseorang tengah berdiri di tepi jalan. Dia memakai topi penutup rambut dan juga masker. Dia juga bersembunyi dibawah payung hitam, melindungi kulitnya dari terpaan cahaya matahari siang yang begitu membakar. Semua barang yang dia pakai adalah hasil curian di pasar loak.


Bukan cuma untuk melindungi kulitnya saja, tapi juga melindungi identitasnya sebagai seorang narapidana yang berhasil kabur dari penjara sebanyak dua kali. Entah mau pergi kemana dia tapi yang pasti, orang tersebut harus pandai menutupi identitasnya agar tidak sampai tertangkap polisi lagi.

__ADS_1


Di dalam rumah Alzam, semua pintu dan jendela sudah dikunci. Daffa dan Adiva melihat kekhawatiran Alzam yang begitu berlebihan. Saat malam tiba semua orang sudah harus ada didalam rumah. Alzam juga menginstruksikan kepada Bandi untuk memastikan keamanan pintu dan jendela di paviliun mereka.


"Mas, makan malam dulu yuk? Dari siang aku lihat kamu terus menerus panik. Itu tidak baik mas untuk diri kamu sendiri. Aku yakin mama kamu nggak berani macam-macam lagi kok. Dia pasti hanya merasa tidak nyaman di penjara dan ingin kabur saja biar lebih bebas." ajak Adiva seraya memeluk mesra suaminya dari belakang.


Alzam sedang berdiri didekat jendela kaca besar yang ada didalam kamarnya. Alzam tidak menghiraukan sama sekali perkataan Adiva barusan.


"Aku benci kaca sayang."


"Kenapa kamu tiba-tiba membenci kaca? Jangan aneh deh. Lihatlah ke kaca, itu menampilkan bayanganmu yang tampan dan berani."


"Iya, tapi kaca itu bahan bangunan yang rapuh. Dilempar batu aja langsung pecah. Mama dengan mudahnya bisa masuk kedalam sini. Besok aku mau telpon tukang bangunan. Mengganti semua kaca dirumah kita dengan bahan bangunan yang lebih kokoh."


Adiva memejamkan kedua matanya sembari menarik nafas kemudian melepas pelukannya dengan Alzam. Adiva membalikkan badan Alzam yang sedari tadi terus mengamati kearah kaca-kaca didalam kamar mereka.


"Udah dong mas, kamu jangan berlebihan seperti ini? Aku tahu kamu masih trauma soal kejahatan mama kamu. Tapi sayang, yang jahat itu mama, bukan kamu, kamu tidak perlu bersikap sampai sejauh ini. Orang-orang tidak berhak buat menghujat kamu." ucap Adiva lirih didepan suaminya.


"Tapi aku ini anaknya. Kejahatan yang mama lakukan pasti aku kena imbasnya. Aku dibully karena aku anaknya. Tidak bisa terlepas begitu saja."


Adiva juga ikut menangis melihat Alzam bersedih seperti ini. Adiva bisa merasakan ini sangat berat bagi Alzam. Kesalahan orang tua, biasanya sang anak juga akan mendapat cibiran karena ulah sang ortu. Adiva menghapus air mata yang mengalir di wajah Alzam, dengan diiringi kelembutan dan tangisan olehnya juga.


"Aku yakin sayang, mama sedang mengincar nyawa kamu. Apa yang mas lakukan sekarang adalah demi keselamatan kamu. Betapa mas ingin menjagamu sayang. Kenapa kamu malah tidak menyambut hangat kepedulianku kepada kamu?"


Adiva tersenyum lalu mengecup mesra bibir Alzam dan selepas itu mereka makan malam bersama di meja makan. Tanpa Alzam tahu kalau di makanannya Adiva sudah membubuhkan obat tidur biar Alzam bisa tidur lebih cepat, dan tidak terus menerus menunjukkan sifat berlebihan karena ibunya kabur lagi dari penjara.


Setelah satu porsi makanan habis, mata Alzam mendadak berat sekali rasanya untuk melihat. Efek dari obat tidur itu mulai bekerja.


"Sayang aku lelah, ngantuk banget, hoams, aku mau tidur duluan ya? Kamu jangan lupa tidur yang cukup. Tujuh jam dalam semalam, oke sayang?"

__ADS_1


Adiva mengangguk.


"Iya suamiku yang sangat perhatian."


Alzam mencium mesra dahi Adiva. Lantas Adiva meminum segelas air putih yang tersedia diatas meja. Adiva tersenyum senang sembari melirik kearah Alzam yang sedang melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Setidaknya Alzam bisa beristirahat lebih cepat daripada memusingkan kaburnya mama Linda yang sebenarnya belum tentu dia bertindak jahat lagi kepada mereka.


Ketika Alzam sudah tidur di dalam kamarnya Adiva pergi ke depan pintu kamar Daffa. Adiva mengetuk pintunya lalu Daffa yang belum tidur bergegas membuka pintu kamarnya.


"Adiva, ngapain kamu kesini? Nanti kalau suami kamu lihat dia bisa curiga loh."


"Yaudah mumpung suami aku lagi tidur ini adalah kesempatan yang bagus tahu!"


"Kesempatan yang bagus? Aku nggak mau ya selingkuh sama istri dari kakakku sendiri!"


Adiva menampar wajah Daffa karena kesal dituduh mau mengajak Daffa berselingkuh,


"Geer banget kamu ya siapa juga yang mau ngajak kamu selingkuh! Yaudah kita bicara cepat disini aja. Daffa, sebenarnya waktu itu aku beberapa kali menjenguk mama kamu dipenjara. Dan aku lihat dia sudah menunjukkan gelagat baik seperti ciri-ciri orang yang mau berubah jadi lebih baik. Tapi sekarang aku denger kabar kalau dia kabur lagi. Aku agak takut juga sih tapi nggak setakut waktu kaburnya dia yang pertama. Daffa, kamu masih sayang kan sama ibu kamu meski dia itu orang yang sudah menghabisi istri kamu Amel?"


Daffa mengangguk. Adiva melihat air mata mengalir dari wajah tampan dan manis itu.


"Aku ingat waktu aku masih kecil, mama suka nyuapin aku saat aku sedang demam. Dia marah besar waktu aku dibully teman-teman sekolah. Dia begitu peduli sama anak-anaknya. Cuma itu Adiva, mama dari dulu suka sentimen sama orang miskin. Aku dilarang berteman sama orang-orang miskin. Kata mama, orang-orang miskin itu cuma perusak keindahan dunia ini. Aku gak ngerti kenapa mama bisa punya pemikiran seperti itu tapi yang pasti aku yakin, mama telah dibutakan oleh nikmat kekayaan."


"Kamu benar Daffa. Kekayaan dan kejayaan telah menutup mata hatinya. Sekarang kita hanya bisa berdoa semoga mama Linda tidak mengusik siapa-siapa lagi."


"Aamiin."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2