MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Kembali Menerima Ibu


__ADS_3

"Dimana sih bunyi HP itu?" tanya Alzam kebingungan hingga akhirnya Alzam berhasil memasuki ruangan itu. Ruangan kosong dan kotor dimana ada sebuah ponsel yang tergeletak diatas dedaunan kering.


"Nah, itu dia HPnya. Aku harus segera mengambil HP itu. Eh tapi kok tidak ada orang ya disini?" ucap Alzam bingung.


Di tempat ini banyak sekali dedaunan kering malang yang berserakan dengan begitu pilu. Suasana menggambarkan ketidaknyamanan. Hati semakin menjerit atas ketidaktenangan.


Alzam mengambil ponsel itu lalu mengecek isinya. Kenapa penculik itu meninggalkan ponselnya disini? Ini aneh. Alzam mulai mengecek isi dari ponsel ini. Bahkan di ponsel ini hanya ada satu nomor kontak dan itupun nomor HPnya.


"Hei dimana kamu! Jangan mempermainkan saya ya! Sudah siap bonyok!?" teriak Alzam menunggu kehadiran penculik itu.


"Tolong aku mas!" teriak seorang wanita yang suaranya kedengaran mirip suara Adiva dari ruangan lain.


"Hah, Adiva? Istriku! Kamu dimana sayang!" sahut Alzam lantang lalu berlari menuju sumber suara.


Ketika Alzam sampai di sumber suara itu tapi ternyata tidak ada Adiva di dalamnya.


"Adiva kamu dimana sayang?! Kok nggak ada disini? Perasaan barusan kamu teriak kedengaran dari sini?!"


"Mas tolong aku cepat!" teriak Adiva lagi dari ruangan lain.


"Adiva!" sahut Alzam lalu menuju sumber suara itu.


Sebuah ruangan kecil di dekat saluran air bekas pabrik ini. Lagi-lagi suara itu seperti sebuah ilusi saja. Tidak ada Adiva di dalam sini. Air mata mengalir dari kedua bola mata Alzam. Tanda semakin mencemaskan istrinya.


"Dimana kamu sayang! Adiva!"


"Disini mas!" sahut Adiva lagi kemudian Alzam bergegas lari menuju ruangan yang berbeda.


Ketika Alzam memasuki ruangan itu, ia lihat ada seseorang yang memakai jubah hitam dan sedang berdiri membelakanginya.

__ADS_1


"Siapa kamu, apa kamu penculik istriku?" tanya Alzam kemudian dengan cepat bergerak menyergap orang itu dari belakang.


Alzam menghajar orang itu dan beberapa detik kemudian terdengar suara rintihan wanita yang kesakitan. Ketika mendengar orang yang sedang ditendanginya adalah seorang wanita, Alzam pun mulai membuka topeng badut yang dipakai oleh orang misterius ini.


Saat dibuka betapa terkejutnya Alzam, betapa terguncang hatinya, betapa terbelalak matanya, ketika orang yang barusan ia hajar itu adalah orang yang sudah melahirkan dan membesarkannya selama ini.


"Mama?" sebut Alzam sembari menatap penuh rasa kaget ke wajah ibunya yang barusan dihajar olehnya.


Alzam langsung membangunkan mamanya, sekarang mereka berdua tengah berdiri bersama-sama.


"Iya ini mama,"


"Sudah kuduga."


"Maafin mama nak? Mama sudah banyak salah sama kamu? Mama sudah bikin kamu kecewa."


"Kenapa mama kabur lagi? Mama harus mempertanggungjawabkan perbuatan mama di penjara. Gimana caranya mama bisa kabur lagi, cepat katakan biar para polisi tahu dan mereka akan melakukan penjagaan yang lebih ketat lagi. Biar mama nggak bisa kabur lagi?"


"Yang penting sekarang adalah tujuan mama kabur lagi itu bukan karena mama mau bertindak jahat lagi sama orang nak."


"Kalau bukan karena mau bertindak jahat, terus apa tujuan mama kabur lagi? Selama ini mama itu adalah seorang manusia yang sangat jahat. Mama suka merendahkan orang miskin. Mama juga membunuh Zahra, Amel, dan orang-orang yang menjaga Adiva. Mama tahu kan betapa besarnya kesalahan-kesalahan yang akan mama pikul di akhirat nanti?"


Mama Linda mengangguk disertai air mata yang membanjiri dengan deras wajahnya yang garang tapi sendu. Mama Linda membayangkan neraka, tempat mengerikan yang dipenuhi kobaran, siap melahap tubuhnya sampai gosong.


"Iya mama tahu, mama mungkin akan masuk neraka karena dosa-dosa mama. Tapi, mama akan lebih menderita lagi kalau selamanya, kamu dan Daffa tidak mau memaafkan perbuatan mama kamu? Itu yang bikin hidup mama nggak tenang nak. Mama mohon, maafkan mama?" isak pilu mama Linda berkata kemudian bersimpuh di kaki Alzam.


Alzam jelas tidak suka melihat ibunya bersujud didepan anaknya sendiri, kemudian Alzam membangunkan lagi ibunya sembari mengusap air matanya. Lantas setelah itu Alzam juga mengusap air mata dari ibunya.


"Dimana istriku ma?"

__ADS_1


Mama Linda mengangguk kemudian memegang tangan Alzam, mengajak Alzam pergi ke suatu tempat yaitu di bagian belakang bangunan tua ini. Adiva tengah duduk diatas batu besar sembari menatap kearah kebun yang kosong. Menunggu Alzam dan mama Linda keluar dari dalam pabrik bekas itu.


Alzam melihat istrinya dalam keadaan baik-baik saja


Alzam melangkah menghampiri istrinya.


"Kamu sedang apa disini sayang?" tanya Alzam mengejutkan Adiva.


Adiva bangkit lalu ia memeluk Alzam.


"Aku baik-baik saja mas, oh iya kamu udah maafin mama kamu kan mas? Aku berharap banget kamu mau maafin beliau mas. Kasihan dia pasti sedih kalau kamu terus menerus bersikap seperti itu kepada mama Linda. Ibu mana yang tidak sedih ketika anaknya sudah tidak mau lagi berhubungan dengannya sebagai seorang ibu dan anak. Aku juga pasti akan sedih jika suatu saat, Juna tidak mau bertemu denganku lagi, tidak mau menganggap aku sebagai ibunya lagi. Mas, aku mohon dengan sangat?" ucap panjang Adiva selalu berusaha menyadarkan suaminya.


Lalu Alzam mengangguk diselingi air mata yang kembali mengalir. Tangannya bergerak mengusap halus punggung istrinya. Alzam melepaskan pelukannya bersama Adiva. Kemudian Alzam menatap sendu kearah ibunya yang sedang berdiri dengan wajah pucat.


Alzam berlari lalu bersimpuh didepan ibunya. Alzam memeluk kaki wanita yang agak tua itu. Alzam menyesal setelah waktu itu bilang bahwa dia mau memutus hubungan silaturahminya dengan sang ibu.


"Maafin aku ma, maafin anakmu yang durhaka ini? Seharusnya, sejahat apapun mama, aku gak boleh sama sekali memutuskan hubungan denganmu ma. Apalagi kasih sayang mama denganku itu begitu besar."


Tangan mama Linda bergerak membangunkan Alzam. Alzam berdiri didepan ibunya sembari menangis cukup kencang dan air matanya mengalir deras. Seperti anak kecil yang menangis karena habis dimarahi sama orang tuanya.


"Anak mama yang manja. Dibalik kedewasaanmu, kegagahanmu, kamu itu adalah laki-laki yang lembut dan juga sangat manja nak." ucap mama Linda dengan wajah terharu seraya menghapus air mata yang membanjiri wajah tampan itu.


Alzam memeluk ibunya, dirinya sangat-sangat malu karena selama ini malah menjauh dari ibunya sendiri. Bahkan sebenarnya ibunya benar-benar sudah berubah menjadi lebih baik seperti apa yang dikatakan oleh Adiva pada saat itu.


Dari dekat mereka, Adiva tersenyum senang melihat Alzam dan mama Linda sudah kembali baikan. Sudah tidak ada lagi kebencian yang tertanam dihati Alzam kepada ibunya.


Lantas mama Linda mengajak Adiva untuk ikut berpelukan juga. Mereka bertiga berpelukan dengan begitu hangatnya di belakang pabrik bekas itu. Ini seperti mimpi yang didambakan oleh Adiva saat mama Linda dulu masih suka berbuat jahat kepadanya. Berpelukan hangat dengan suami dan mama mertua.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2