
"Harus mas, kamu harus buat bapak sialan itu menderita dipenjara! Aku benci banget sama dia. Suruh orang-orang buat mengeroyok dia didalam tahanan mas! Geram aku!" titah Adiva emosi.
Alzam kembali mengepalkan tangan.
Pak Nick ternyata ditahan di tempat yang sama dengan mama Linda namun dalam sel yang berbeda. Keesokan harinya seperti biasa seorang sipir kala pagi menyuruh tahanan-tahanan yang ada dalam sel mama Linda untuk keluar dan bekerja mengurus kebun.
Rutinitas yang sebenarnya mama Linda sangat tidak menyukainya. Tapi dia terpaksa melakukan itu demi pencitraan yang sedang ia buat.
Mereka semua dibawa ke kebun lalu mereka disuruh untuk memanen wortel yang sudah siap panen. Pak Nick juga dibawa ke dekat kebun namun dengan pekerjaan yang berbeda. Pak Nick disuruh mengangkat karung-karung yang berisi kentang. Kentang itu akan dijual dan uangnya digunakan buat mencukupi kebutuhan harian mereka.
Pak Nick juga tampak malas untuk melakukan itu, tapi dia harus melakukannya. Mereka berdua adalah orang-orang kaya yang tidak terbiasa melakukan pekerjaan seperti itu.
Saat waktu istirahat tiba, mama Linda mencoba meminta izin untuk nyamperin tahanan baru itu. Pak Nick sedang duduk mengamati makanan yang tidak membuatnya berselera.
"Selamat siang tahanan baru? Selamat datang dalam neraka dunia." sapa mama Linda datang.
"Eh, siang juga? Kamu siapa ya? Kok kamu mau menyapa saya? Cantiknya."
"Saya tahanan juga lah disini. Biasa, saya kan orang paling ramah disini, bahkan saya jauh lebih ramah dari para polisi. Kamu yang semangat ya, disini itu keras, kamu harus kuat disini. Disini siapa yang paling kuat, dia yang paling berkuasa! Hukum rimba berlaku disini. Ehm, makasih udah bilang aku cantik. Aku emang cantik kok, yuhuu."
Pak Nick tersenyum mendapat teman baru disini, mana perempuan pula. Kulitnya glowing wajahnya juga masih cantik.
"Nama kamu siapa kalau saya boleh tahu, cantik?"
"Ah, ehm, namaku Linda, nama kamu siapa?"
"Nick."
Mama Linda merasa seolah kembali menjadi anak remaja yang baru mengenal cinta. Jatuh cinta pada pandangan pertama, hatinya menjadi sangat berbunga-bunga. Dipenjara jadi nggak bosen atau suntuk lagi. Mama Linda terus senyum-senyum baper sedari tadi. Wajah pak Nick yang kebule-bulean itu adalah tipe laki-laki yang ia suka.
"Kamu masuk penjara gara-gara melakukan kesalahan apa Nick? Aku belum mengetahuinya."
__ADS_1
"Jangan sampai Linda tahu kalau aku masuk penjara gara-gara menganiaya Jenna sampai sekarat. Dia bisa ilfil sama aku." batin pak Nick.
"Kok diam saja sih? Yaudah kalau nggak mau kasih tahu gapapa, mungkin kamu ingin merahasiakannya."
"Nggak, aku ga mau merahasiakannya, aku masuk penjara karena aku bikin orang sekarat. Aku hajar dia."
"Laki-laki atau perempuan ya?"
"La laki-laki. Biasa kan laki-laki suka berantem. Tapi malah aku yang dipenjara. Padahal yang mulai duluan dia."
"Sabar ya. Saya juga sebenarnya nggak layak dipenjara, tapi apa boleh buat, saya punya seorang menantu jahat yang tidak tahu diri. Biasalah orang baik seperti saya itu suka ditindas dan dimanfaatkan sama menantu jahat seperti dia. Menantu saya menjebak saya dia ingin menguasai harta anak saya." urai mama Linda memfitnah Adiva.
"Waduh, apes sekali nasib kamu. Kita sama-sama merasakan hal yang sama. Kita nggak seharusnya ada disini tapi kita harus mengalaminya. Semoga kita bisa terus saling menguatkan satu sama lain ya?"
Mereka saling berbohong satu sama lain demi nama baik mereka sendiri. Mereka tega memfitnah korban-korban mereka.
"Iya mas Nick." balas mama Linda sembari senyum-senyum malu.
"Iya maaf mba. Lagian siapa juga yang lagi pacaran sih, sensian mulu kamu. Mas Nick, kita lanjut besok ya ngobrol ngobrolnya, semangat!"
"Iya, saya akan selalu bersemangat."
Waktu terus berlalu, beberapa jam kemudian, Daffa datang ke penjara bersama dengan Alzam. Mereka berdua datang bersama menjenguk mamanya.
"Senangnya hati ini dijenguk sama dua anak kesayangan mama. Alzam, apa kabar istri kamu?"
"Dia sudah melahirkan ma. Dia melahirkan bayi laki-laki dan Alzam memberi dia nama Wildan. Ini dia fotonya, ma."
"Wah tampan sekali, persis seperti ayahnya. Ya iyalah orang cucu mama yang bernama Wildan ini jelas anak kandung dari Alzam, bukan anak dari laki-laki lain, hehehe."
"Mama jangan nyindir istri aku terus dong? Bahkan mama tidak ingin mengetahui kabar istri aku dan anaknya? Biar gimanapun dia menantu mama, Dilla juga cucu mama kok." protes Daffa.
__ADS_1
"Nggak penting buat mama! Dilla bukan cucu mama, dia bukan anak kamu sayang. Sekarang mana uangnya? Mama butuh uang itu?"
Daffa terlihat sedih lalu dia mengeluarkan amplop berisi uang sepuluh juta. Amplop itu jelas terlihat cukup tebal, jelas karena isi didalam amplop itu cukup banyak.
"Ini uang sepuluh jutanya ma."
"Mama buat apa sih minta uang itu? Apa mama mau berfoya-foya membeli banyak barang didalam penjara? Jelas kurang etis ma?" tanya Alzam.
"Bukan! Ini urusan mama. Yang jelas uang ini akan mama gunakan juga untuk kepentingan mama. Mama sangat membutuhkan uang ini sayang, makasih ya?"
"Yaudah ma, ini dia makanan kesukaan mama. Mama jaga kesehatan selalu ya? Minggu depan kita kesini lagi. Pokoknya kita janji, akan rutin menjenguk mama." tukas Alzam berjanji.
Mama Linda begitu dimanjakan. Lalu mereka bertiga berpelukan, setelah itu Daffa dan Alzam melangkah pergi dari ruang jenguk tahanan.
"Titip salam buat Adiva ya, menantu kesayanganku!" teriak mama Linda kepada Alzam.
Alzam mengacungkan ibu jari, sedangkan Daffa terlihat iri karena sekarang mama Linda malah lebih sayang kepada istri dari kakaknya. Didalam mobil, Daffa terlihat kesal. Alzam terus memperhatikan adiknya sedari tadi.
"Kamu kenapa sih Daf? Mama membenci istrimu yang wajar lah, orang dia bukan wanita baik-baik."
"Iya bang, tapi orang juga banyak yang punya kesalahan di masa lalu. Masa mama nggak mau maafin istriku sih. Mama juga punya kesalahan kan, buktinya sekarang dia dipenjara."
"Kamu masih cinta sama istri kamu?"
"Selamanya lah. Ini tuh yang dinamakan cinta setulus-tulusnya. Mau seberapa besar kesalahan istri aku, aku sulit buat membenci dia."
"Keren kamu ya. Kalau aku jadi kamu mungkin aku sudah ceraikan Amel. Tapi semoga Amel berubah jadi lebih baik. Oh iya, kamu mau nengokin anak aku nggak nih?"
"Ya mau lah bang. Nggak sabar lagi, buruan setir mobil ini kerumahmu." titah Daffa excited.
Bersambung...
__ADS_1