MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Amel Iri Melihat Rumah Adiva


__ADS_3

Membantu orang yang kesusahan memang baik, tapi adakalanya orang yang dibantu malah tidak tahu diri. Tidak tahu terimakasih dan malas-malasan dalam mengembalikan uang yang sudah dipinjam.


Padahal orang yang meminjamkan uang, pasti menginginkan uangnya kembali karena itu sudah haknya. Karena inilah kekhawatiran orang-orang yang dimintai uang untuk dipinjam pun terjadi. Mereka takut dan marah kala ada orang yang ingin meminjam dana bantuan.


"Sayang, selama kita mampu, sudah seharusnya sebagai sesama manusia harus saling bantu. Apalagi aku dan dia adalah teman sejati. Teman aku ini orang yang baik kok, dia tidak akan mangkir kalau nanti aku tagih uang yang sudah menjadi hak aku."


"Yaudahlah terserah kamu. Tapi aku ingin rumah baru, aku nggak mau tahu pokoknya kamu harus secepatnya bisa beliin aku rumah baru yang jauh lebih mewah, mengerti?"


"Iya sayang akan aku usahakan. Makasih ya udah kasih pinjam saldo kamu. Nanti mas janji, akan gantiin dua kali lipat."


"Lima kali lipat ajalah biar sepuluh juta, kan lumayan mas."


"Iya-iya, sepuluh juta." balas Daffa seraya menghela nafas.


Daffa mematikan sambungan telponnya lalu temannya yang meminjam uang mengajaknya ngomong.


"Kok istri kamu gitu sih Daf? Aku jadi ragu buat minjam uang sama kamu. Padahal selama ini kalau aku meminjam uangmu, aku selalu mengembalikannya tepat pada waktunya kan!"


"Joko, maafin istriku ya? Dia emang gitu orangnya. Dia itu terlahir dari anak orang kaya yang sifatnya manja dan suka ceplas ceplos sama orang lain. Tenang aja ya, nggak usah sungkan. Kamu kan temanku, aku ingin bantuin kamu."


"Nggak Daf makasih. Nanti aku jual motorku aja buat tambah-tambah biaya pengobatan ayahku. Aku nggak jadi ah meminjam uang kamu. Istri kamu marah dan bahkan membebani kamu dengan biaya ganti sebanyak lima kali lipat."


"Loh kok gitu? Kamu marah ya sama kami? Aku mohon, jadi aja ya minjamnya? Aku nggak merasa terbebani kok."


"Secara nggak langsung istri kamu udah bilang aku orang yang gak mau bertanggungjawab. Kalau aku nggak akan balikin uang yang udah aku pinjam, Daf."


"Kamu jangan baperan dong sob?"


Sahabatnya itu malah pergi meninggalkan Daffa. Persahabatan mereka jadi renggang karena Amel yang dianggap tidak bisa menjaga omongan.

__ADS_1


"Yah, gara-gara omongan istriku, persahabatanku dengan Joko jadi renggang kek gini. Padahal dia juga sering bantuin aku ngerjain tugas. Jok, semoga lu nggak lama-lama marah ke gua dan istri gua ya." harap Daffa dalam hatinya.


Malamnya, Alzam dan Adiva tengah menonton acara televisi bersama, sambil membicarakan ingin mengundang Daffa dan Amel buat datang ke hunian baru mereka. Alzam menelpon Daffa yang sedang makan malam dirumah mama Linda.


"Halo bang, ada apa? Kalian lagi dimana? Kok gak makan malam bareng kita?"


"Ya bagus dong mas kalau mereka nggak makan malam bareng kita, nggak ada istrinya yang toxic itu jadi aku sangat nyaman dan bisa menikmati makanan-makanan ini dengan santai." sahut Amel happy.


Daffa tersenyum kepada Amel sembari menunggu jawaban apa dari kakaknya, seraya menyendok nasi di piringnya.


"Kita lagi ada dirumah baru. Besok kalian datang kesini ya, nanti aku share lokasinya. Masa kakaknya beli rumah baru adiknya nggak lihat-lihat juga sih."


"Waduh gimana ya..."


"Nanti kalau aku dateng kesana, pasti sifat iri hati istriku akan muncul lagi. Terus dia merengek-rengek dan nyuruh aku buat cepat-cepat beli rumah baru untuk dia, aduuh!" bingung Daffa dalam hatinya.


"Loh kok kamu diam aja dek, bisa datang nggak ke rumah baru kakak besok?"


Daffa sudah terlanjur mengiyakan undangan dari kakaknya, sekalipun ia menolak toh kakaknya akan tetap mengundang dan memaksanya datang kapanpun kakaknya mau. Cuma satu hal, Daffa hanya berharap semoga istrinya tidak seperti yang ia khawatirkan nanti, kala melihat hunian baru kakak dan kakak iparnya yang ia yakin pasti bentuknya sangat mewah.


Besoknya, tepat pukul dua siang mereka sudah sampai didepan rumah megah itu. Alzam dan Adiva sedang menunggu mereka dengan tampang ceria didepan rumah, berdiri seraya saling merangkul disamping sebuah air mancur besar yang ukirannya keren.


"Wah, ini rumah siapa mas? Keren banget!" kagum Amel sembari membuka pintu mobil, lalu mengamati bentuk rumah yang seperti ini ia impikan itu.


"Tuh pemiliknya lagi nungguin kita didepan rumahnya." jawab Daffa seraya menunjuk sepasang suami istri bahagia itu.


Netra Amel langsung berubah menjadi sinis dan iri dalam sekejap mata.


"Jadi rumah mewah ini milik mereka? Sumpah ya, aku lebih pantes jadi ratu dirumah ini daripada cewek gembel yang sok kecakepan itu!" batin Amel penuh dengan rasa iri.

__ADS_1


Daffa menuntun istrinya, mengajaknya melangkah menghampiri kedua kakaknya. Meski terlihat agak malas-malasan saat Amel melangkah. Amel terus saja, bola matanya menatap sangat sinis kearah Adiva.


"Selamat ya kak atas hunian baru yang kalian beli ini. Sangat mewah dan nyaman pastinya, duh jadi pengin nginep disini, iya kan sayang?"


Amel malahan menginjak kaki suaminya, tidak sudi menginap atau satu atap dengan perempuan yang paling ia benci.


"Aku nggak mau lah mas satu rumah sama dia, walau cuma semalam aja!" bisik Amel meradang.


"Iya sayang, kan ini cuma omong-omong aja." balas Daffa berbisik juga.


"Ngapain kalian pakai bisik-bisik segala sih, mari masuk, kalian harus melihat semua ruangan yang ada didalam?" ajak Alzam.


Lantas mereka berdua mengikuti sepasang suami istri bahagia itu masuk kedalam rumah. Saat Adiva membuka pintu, mereka langsung disambut dengan ukiran-ukiran menari yang dikerjakan dengan segenap kreatifitas oleh para pekerjanya dulu.


Tangganya aja unik, bulat berputar-putar. Disisinya aja banyak sekali pahatan dari ide sang arsitek yang dimana pahatan itu menyerupai bintang. Belum lagi bentang alam yang menghiasi halaman samping, depan, belakang. Didalam banyak sekali ruangan yang rata-rata luas dan aesthetic. Daffa yakin, pasti harga rumah ini tidak main-main.


Mereka melangkah mengelilingi segala penjuru ruangan didalam rumah baru beli itu. Sedari tadi, Amel hanya bisa dibuat iri saja melihat kemewahan-kemewahan yang ada. Rasanya ia ingin nginep tapi gengsi. Amel mengajak Daffa cepat-cepat pulang saja ke rumah mama Linda.


Di ujung tangga Amel merengek ingin pulang, dan Daffa sendiri tengah bersyukur karena Amel tidak meminta atau memaksa yang aneh-aneh.


"Mas ayo kita pulang sekarang dong? Kita kan udah keliling rumah ini. Mereka sukses bikin aku iri! Besok kita ke penjara yuk?"


"Waduh, ngapain? Mau jenguk mama aku kan? Kamu kan sayang banget sama beliau."


"Iya dong mas, besok sore aja ya. Aku kangen ketemu mama, kita bawain apapun yang mama kamu suka."


"Oke sayang."


Sebenarnya Amel hanya modus aja, Amel ingin bicara soal keinginannya membeli rumah baru kepada mama Linda.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2