MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
CEO tampan itu cemburu


__ADS_3

Adiva bergegas berbalik badan untuk menyembunyikan wajahnya dari penglihatan mama mertua jahatnya dan juga Amel. Mereka berdua yaitu mama Linda dan Amel jadi penasaran mengapa si pemilik salon malah berbalik badan, bukannya menatap dan menyapa mereka berdua sebagai tamu yang datang memakai jasa perawatan kecantikan di salon Aldiv ini?


Untung Adiva pakai topi bundar sehingga gaya rambut pendeknya tidak terlalu kelihatan. Lalu buru-buru deh Adiva memakai kacamata hitam dan untungnya lagi, disaku bajunya ada sebuah masker yang bisa melindungi wajahnya dari ketahuan, kalau ternyata dirinya adalah pemilik dari salon yang lagi hits ini. Adiva belum ingin menunjukkan kesuksesan-kesuksesan yang ia punya saat ini, kepada mertua dan anggota keluarganya yang lain.


Adiva kembali berbalik badan saat sudah menyamarkan dirinya. Ia lihat mama Linda dan Amel sedang melangkah menghampirinya.


"Waduh, mereka mendatangi aku? Apakah mereka tahu ya, kalau ternyata aku adalah Adiva. Duuh, gawat nih." monolog Adiva membatin dengan tatapan cemas dari balik kacamata hitamnya.


Saat mereka berdua sudah sampai didepan Adiva, mama Linda terlihat mengamati wajah Adiva dengan seksama. Mama Linda berusaha memperhatikan dengan detail wajah dari pemilik salon ini.


"Hai? Kamu pemilik salon ini ya? Kok pakai masker sih? Mohon maaf, bisa dibuka nggak maskernya? Saya ingin berfoto selfie sama kamu. Pasti suatu kebanggaan buat kamu, diajak selfie sama mama dari seorang CEO terkenal seperti anak saya. Kamu tahu kan, Alzam Pradipta itu? Itu loh, salah satu CEO muda yang digandrungi sama banyak kalangan. Mustahil deh kalau kamu nggak tahu Alzam, followersnya aja sampai jutaan tuh di Instagram!" tutur mama Linda membanggakan diri dan anak pertamanya.


Ya, sejauh ini memang baru Alzam yang bisa ia banggakan. Daffa masih belum, dia masih sibuk kuliah dan prestasinya cenderung biasa aja di kampusnya.


"Ya jelas tahu lah, orang dia suami aku!" jawab Adiva sewot dalam hatinya.


"Kok diam aja sih mbak? Jawab dong pertanyaan ibu mertua saya. Dia juga orang kaya dan dia orang penting loh, mau ya salon kecantikan ini dimatikan bisnisnya sama kakak ipar saya? Alzam?" tanya Amel mengancam.


Adiva kesal banget sama Amel! Rasanya ia ingin mencubit ginjalnya Amel.


"Maaf, bukannya saya sombong tapi saya lagi sariawan nih. Permisi ya bu, mbak? Terimakasih karena udah mampir di salon saya. Saya mau kedalam. Saya juga orang sibuk yang banyak urusan yang harus saya kerjakan." kata Adiva dengan nada bicara yang sengaja dibuat berat, seperti seorang lelaki.

__ADS_1


Kemudian Adiva berjalan cepat pergi meninggalkan dua wanita jahat itu. Mama Linda dan Amel dibuat heran dengan tingkah dari si pemilik salon yang membuat mereka juga agak kesal.


"Itu orang sombong banget ya mam, kalau kita nggak datang juga bakalan sepi nih salon! Terus Amel dengar suaranya juga kaya dilaki-lakiin, apa jangan-jangan dia ngondek ya ma?"


"Hmm, mama nggak tahu sayang. Tapi yang pasti, mama puas sih sama hasil perawatan di salon kecantikan ini. Jauh lebih baik dari salon langganan mama yang biasanya Mel."


"Yaudah deh, mendingan sekarang kita pulang aja yuk mam?"


Di dalam ruangan bos, Adiva melepas semua benda penyamarannya.


"Aduh, hampir saja aku ketahuan, kalau aku ini sebenarnya pemilik dari salon ini. Huum, kalau mereka tahu aku udah punya ini semua, nanti aku nggak bisa bikin kejutan buat mereka. Menampar mereka dengan kesuksesan aku! Kedepannya aku akan lebih berhati-hati. Semua pegawai baru akan aku langsung kasih tahu apa saja peraturan yang harus mereka patuhi."  ucap Adiva dengan tatapan dingin.


Singkat waktu malam kembali datang. Warna hitam kembali menemani manusia. Adiva baru pulang setelah membahas projek penting dengan pengusaha muda tampan yang menawarkan pengembangan cafenya. Dan Adiva setuju dengan penawaran itu. Hasil keuntungan akan dibagi dua. Tapi saat Adiva baru sampai, didepan rumah, ternyata Alzam sudah pulang duluan, dan menanti Adiva dalam keadaan yang sepertinya sedang marah.


Karena ia tahu, dia pulang terlalu malam. Padahal hari ini tidak ada kuliah, alias hari libur para mahasiswa selama beberapa minggu. Apalagi Alzam juga pulang lebih awal dari jam biasa ia pulang kerja.


"Darimana saja kamu, jam segini baru pulang? Mentang-mentang kamu sedang libur panjang, apakah kamu habis pergi liburan seharian ini bersama teman-teman kamu? Sampai pulang malam?"


Jujur Adiva tidak menyukai sikap Alzam yang terlalu posesif kepadanya. Padahal Adiva sendiri juga tidak pernah main api dengan laki-laki lain. Adiva paling tidak suka diinterogasi dan dicurigai seperti ini.


"Kamu mau menuduh aku telah berselingkuh kah? Hanya gara-gara aku pulang malam?" tanya Adiva kecewa.

__ADS_1


"Tapi aku tadi juga melihat kamu sedang mengobrol dengan seorang laki-laki muda di sebuah cafe. Adiva, aku juga ada di cafe itu loh, dan kamu tidak menyadarinya." ucap Daffa tiba-tiba dari arah samping.


Adiva sangat terkejut karena ternyata, sewaktu tadi ia sedang membahas soal projek pengembangan cafenya, ternyata ada juga Daffa di cafenya tempat ia mengobrol dengan partner bisnisnya tadi siang.


"Terus kamu dengar, apa yang aku bahas sama laki-laki itu?" tanya Adiva dengan mimik takut, apa yang ia rahasiakan selama ini hanya demi membuat kejutan sudahkah diketahui oleh Daffa?


"Nggak sih. Tapi kayaknya kalian sayup-sayup dari jauh, aku mendengar lagi bahas penawaran-penawaran apa gitu? Tapi aku juga bukan orang yang suka kepo urusan orang lain. Aku nggak terlalu memperhatikan kalian kok, tadi. Kalau aku nggak salah dengar ya kalian ngomongin itu." jawab Daffa.


"Syukur deh kalau kamu ga dengar." girang Adiva.


"PENAWARAN APA!" tanya Alzam mengejutkan dengan nada suara yang membentak, membuat mereka berdua kaget bahkan Daffa sampai lompat karena saking terkejutnya.


"Bukan penawaran apa-apa kok mas. Kamu jangan mikir yang macem-macem ya! Mana mungkin aku open BO. Aku kan kekasihmu. Gini, aku ditawarin jadi model majalah fashion. Fashion yang trendy dan gaul gitu, tapi aku tolak kok. Kecuali kalau kamu izinin mas." jawab Adiva gugup dan ia juga berbohong.


"Masa iya sih ada orang nawarin kamu jadi model, penampilan kamu kan masih urakan sampai sekarang? Entah kapan kamu berubah. Tapi kamu kalau mau ketemu laki-laki lain harus bilang dulu sama saya! Kamu juga kalau saya bertemu dengan wanita lain pasti merasa cemburu kan?" tanya Alzam nyalang.


"Ya jelas lah nggak cemburu, kalau cuma buat urusan pekerjaan mana ada aku ngelarang. Mas, udah dong jangan marahin aku terus. Kamu tuh nggak tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Jadi jangan curiga, jangan sok tahu juga!" sahut Adiva membela dirinya.


Alzam kemudian berjalan dengan cepat, lalu mencubit manja hidung pesek Adiva lagi.


"Aaaaw, kenapa sih kamu suka banget siksa hidung pesek aku? Tambah pesek kan ancur maas! Oplas ah."

__ADS_1


"Karena kamu nyebelin juga menggemaskan! Malam ini, tidur dikolong kamar lagi ya dan kamu gak perlu oplas buat mempercantik diri kamu. Bagi saya kamu sudah lebih dari kata cantik!" titah Alzam kembali memberikan Adiva suatu hukuman.


__ADS_2