MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Mama Mertua Jahat Ingin Berubah?


__ADS_3

Apapun alasannya, kita tidak boleh benci kepada anak kita sendiri. Karena biar bagaimanapun dia, dia adalah darah daging kita sendiri.


"Baik dok, nanti saya akan berikan dia ASI."


"Baik bu Amel, kalau begitu saya pamit dulu ya? Semoga anak ibu lekas sembuh dan kembali sehat, aktif seperti biasanya."


"Iya bu dokter, semoga saja."


Amel mengantar bu dokter yang ia undang itu sampai kedepan rumah. Baby D sendiri sudah tertidur pulas setelah barusan dikasih obat oleh si dokter. Babysitter yang merawat baby D bernama Inem itu menghampiri majikannya yang sedang berdiri didepan rumah.


"Tuh kan benar kata saya, kalau baby Dilla itu kekurangan ASI. Kalau tuan Daffa tahu ini semua, pasti dia akan marah besar nyonya."


"Makannya kamu harus bisa jaga mulut kamu! Awas ya kalau kamu sampai berani menceritakan perihal kejadian ini! Saya akan pecat kamu!" ancam Amel seraya berbalik badan dan menatap Inem dengan penuh amarah.


"Baik nyonya, saya tidak berani dan tidak akan mengadu kepada tuan Daffa." jawab Inem seraya menunduk dalam kondisi yang gemetar juga.


"Bagus! Jangan sekali-sekali kamu berani menusuk saya dari belakang! Atau nyawa kamu sebagai taruhannya!"


Singkat waktu malam pun tiba. Daffa belum pulang dari kampusnya karena masih sibuk akan suatu hal yang harus ia kerjakan di kampus. Di kampus Daffa sedang duduk sibuk menggarap suatu tugas bersama teman kelompoknya dan Amel sedang makan malam sendirian didalam rumahnya, tanpa menunggu suaminya pulang terlebih dahulu.


Kehidupan seperti ini yang sangat ia idam-idamkan dari dulu. Punya hunian yang mewah sendiri dan kebutuhan sehari-harinya yang terjamin, penuh dengan gemerlap kemewahan duniawi.


Kehidupan yang kaya dan mewah seperti ini juga adalah impian banyak orang diluaran sana. Namun Amel tidak bisa mensyukuri itu semua, tidak bisa memanfaatkan apa yang sudah ia dapatkan itu dengan baik. Kekayaan justru membuatnya menjadi semakin jauh kepada jalan yang diredhai oleh Tuhan.


Saat sedang asyik menikmati daging, bayinya kembali menangis, karena itu, dirinya pun kesal kemudian membanting piring makannya sampai pecah.


"Aaaaah! Aku benci punya anak!" teriak Amel lalu bergegas berjalan menuju kamar, tempat dimana bayinya berada dan sedang mengeluarkan air mata. Bayinya pasti butuh sesuatu.

__ADS_1


Pembantu yang kebetulan melihat kemarahan Amel itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap majikan perempuannya yang keterlaluan seperti itu. Amel sudah sampai didepan pintu kamar lalu ia tendang pintunya. Seorang ibu yang membuka pintu dengan cara yang amat tidak sopan karena bayinya yang terus menangis!


"Ada apa sih kamu rewel terus, bayi! Kamu nggak tahu ya kalau mama ini sedang makan! Jangan buat mama jadi bete dong!" marah Amel didepan bayinya.


Baby D terus menangis membuat Amel semakin geram saja. Rasanya Amel ingin membuang bayinya tapi takut kena pidana. Lalu Amel mengemban bayinya dan memberinya ASI. Sungguh Amel teramat menyesal karena dulu tergoda saat diajak melakukan hubungan zina dengan Alex.


Kenikmatan itu hanya sesaat saja namun penyesalan selalu datang belakangan. Bahkan akibat dari perbuatan itu membuat Amel jadi ngerasa sekhawatir ini. Seandainya waktu bisa diulang pasti Amel tak akan mau lakuin hubungan terlarang itu dengan si laki-laki manapun kecuali yang sudah sah.


Di rumah sakit, mama Linda sedang disuapin makanan oleh suster. Alzam juga sudah mengabari Daffa kalau mamanya masuk rumah sakit, dan tadi sore Daffa sudah menyempatkan waktu buat menjenguk mama tercintanya.


Alzam juga masih di rumah sakit, dia sedang duduk di kursi luar bersama para orang lain disitu, yang masing-masing dari mereka juga sedang menunggu kerabatnya yang sedang sakit. Alzam benar-benar pusing, selalu saja merasa serba salah. Tidak tahu harus berbuat apa demi kebaikan kedua wanita yang ia sayangi.


"Pusing sekali rasanya." keluh Alzam dalam hatinya.


Dan keluhannya itu sangat beralasan. Alzam benar-benar membutuhkan ketenangan dan juga refreshing hati. Tak berselang lama setelah selesai menyuapi mama Linda, sang suster keluar lalu menyuruh Alzam untuk masuk kedalam. Katanya mama Linda ingin berbicara dengannya.


"Alzam sini nak, mama ingin berbicara sesuatu sama kamu,"


"Apa yang ingin mama bicarakan?"


Alzam duduk di kursi kecil disamping mamanya, Alzam segera mendengarkan dengan seksama.


"Mama ingin berubah jadi lebih baik. Baiklah kalau itu kemauan Adiva, mama akan berusaha merubah diri mama."


"Itu benar apa tidak? Mama benar-benar ingin berubah atau hanya sekedar rencana baru mama aja supaya Adiva mau bebasin mama? Apakah mama ingin menipu istriku lagi?"


"Sungguh nak, mama ingin merubah diri mama menjadi lebih baik lagi. Mama tidak mau mendekam lama di penjara. Mama juga sekarang sadar kalau kejahatan yang udah mama lakukan kepada keluarga Adiva itu sudah sangat besar."

__ADS_1


"Tapi aku sendiri, anak mama belum akan percaya sama kata-kata mama itu, kecuali kalau mama udah menunjukkan dengan benar perubahan yang akan mama lakukan itu. Semoga mama lekas sembuh ya, aku akan selalu sayang sama mama."


"Semoga saja nak, do'ain mama terus ya?"


"Iya ma, pasti Alzam akan selalu do'ain mama."


Apakah yang dibilang mama Linda itu benar? Benarkah dia akan benar-benar berubah jadi lebih baik lagi? Ataukah itu cuma omong kosongnya lagi?


***


Adiva duduk sendirian di teras depan rumah, menanti suaminya yang sedang menemani mama kandungnya pulang ke rumah. Adiva terduduk dengan tampang yang lesu. Adiva merasa tidak bersemangat.


Bi Sri keluar dari dalam rumah, datang menyapa dan menghampiri perempuan yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri itu.


"Eh nyonya Adiva, ngapain duduk sendirian disini, nih bibi bawain nyonya keripik singkong pedas manis, barusan bibi yang goreng non."


"Wah makasih banyak ya bi? Aku suka banget sama keripik-keripik renyah kaya gini."


Bi Sri duduk di kursi dekat Adiva. Bi Sri ingin mengetahui mengapa majikannya itu merenung sedih sendirian didepan rumah. Sebagai seorang yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri, sudah pasti bi Sri ingin membantu meringankan beban pikiran yang sedang di hadapi oleh Adiva.


"Nyonya ada masalah apa? Cerita sama bibi lah. Kan dulu nyonya sendiri yang bilang, kalau ada apa-apa, boleh cerita sama bibi kan?"


"Biasa bi, masalah mama mertua aku."


Belum sempat Adiva melanjutkan curhatnya, tiba-tiba ada seorang lelaki yang sedang membunyikan bel didepan gerbang. Adiva dan bi Sri langsung melihat kearah gerbang dan itu seperti PAK NICK! Apa yang akan dia lakukan dengan mendatangi rumah Alzam dan Adiva?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2