MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Perjuangan Adiva Melahirkan Anaknya


__ADS_3

Selain perutnya sakit, tangannya juga sakit akibat perlakuan jahat dari pak Nick. Pak Nick menginjak jari jemarinya dengan buas.


"Aww, ampun pak, sakit banget,"


Pak Nick tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi penderitaan yang sedang dialami oleh Adiva. Basah, sakit, kedinginan, hujan air berpadu dengan hujan air mata.


"Tolooooong?" teriak Adiva lemas mulai tidak berdaya.


Pertolongan itu datang. Tiba-tiba sebatang kayu menghujam punggung pak Nick sampai ia pingsan. Ternyata Jenna sudah sadar dan berhasil melumpuhkan aksi suami jahatnya. Jenna bergegas membantu perempuan hamil tak berdaya itu.


"Adiva kamu tidak apa-apa?" tanya Jenna cemas seraya membantu Adiva bangun.


"Perut aku rasanya sakit banget Jen, sepertinya aku akan melahirkan sebentar lagi. Tolong aku Jenna? Aku takut."


"Yang kuat ya? Aku bantuin kamu."


Jenna memapah Adiva dengan peduli. Hati nurani mana yang tidak sedih dan tersentuh kala melihat seorang wanita sedang memperjuangkan keselamatan anaknya. Jenna teringat, dulu ia pernah bandel sama ibu kandungnya, bahkan karena kebandelannya itu tak sengaja ia membuat nyawa ibu sendiri melayang. Waktu Jenna masih kecil. Jenna ingin sekali membantu Adiva yang sedang berjuang menyelamatkan kelahirannya.


"Jenna, sakit banget! Aku udah nggak tahan lagi! Jen, aaaaw!" teriak Adiva pilu.


Jenna melihat air ketuban yang sudah pecah, Adiva benar-benar akan segera melahirkan. Mana pak Nick membawa Adiva ke kebun dibelakang rumahnya yang jaraknya cukup jauh dengan rumah Adiva.


"Oke, kita masuk kedalam rumah aku aja ya, jaraknya dekat, kita lahiran disana. Aku akan membantu kamu melahirkan Adiva."


Adiva menatap Jenna dengan tatapan bingung bercampur takut.


"Emangnya kamu bisa bantuin orang melahirkan?"


"Insya Allah, aku akan berusaha." jawab Jenna seraya tersenyum.


Mereka kembali berjalan dengan perlahan. Mereka sudah sampai didepan pintu. Saat Jenna mau membuka pintunya, tiba-tiba pak Nick kembali menyerang mereka.


Pak Nick menjambak rambut Jenna lalu menendang perut Jenna sampai Jenna tersungkur di kursi. Adiva berteriak histeris ketakutan, melihat penjahat itu bangkit lagi sekarang.

__ADS_1


"Adiva masuk kedalam! Kunci pintunya!" teriak Jenna seraya memegangi perutnya.


Adiva mulai membuka pintu dengan cemas, lalu dengan cepat Adiva menutup pintunya kembali dan menahannya dari dalam. Lantas Adiva memutar kuncinya. Adiva bersandar dari balik pintu. Begitu pedih ia mendengarkan pak Nick yang sedang memukuli istrinya dengan bengis diluar rumah.


"Mba Jenna! Ayo lawan mbak, hiks, mba Jennaaaaa!" jerit dan isak Adiva sangat tidak kuat mendengar suara Jenna yang sedang dihajar habis-habisan.


Jenna hanya bisa menangis dan merintih kala menerima pukulan itu. Wajah Jenna sudah bonyok tak karuan. Usai puas menghajar Jenna, pak Nick menggedor-gedor pintu depan rumah.


"Buka!"


Adiva merangkak menuju kedalam sebuah ruangan, dimana ruangan itu adalah kamar tamu.


"Aaaaa, sakit sekali." rintih Adiva lagi.


Adiva merangkak sampai masuk kedalam kamar tamu, lalu Adiva mengunci pintunya. Diluar mungkin tidak aman karena pak Nick bisa saja masuk dari pintu lain. Adiva meraih kasur lalu rebahan di atasnya.


Adiva bertekad kuat, ia akan melahirkan sendirian. Ia harus bisa, harus kuat, demi keselamatan bayinya.


"Aku pasti bisaa!" teriak Adiva dengan kemarahannya.


"Ya Allah, seandainya hamba mati karena pendarahan, hamba mohon, berilah kehidupan untuk anak hamba lebih lama didunia. Jangan biarkan iblis itu menghabisi anak hamba ya Allah?" doa Adiva dalam kesakitan itu.


"Hyaaaaaaaaaaaaaaaa...."


"Eaaaaak eaaaaaak."


Suara bayi merah itu terdengar oleh pak Nick dari ruang tamu. Pak Nick telah berhasil masuk lewat sebuah jendela.


"Bayi itu sudah lahir?" ucap pak Nick terhenyak.


Adiva merasa lemas sekali, tenaganya habis, nafasnya cepat. Disisi lain didalam rumah Adiva, dokter Sarah terbangun dari tidurnya. Dokter Sarah menguap lalu teringat akan Adiva. Ia menyempatkan waktu istrirahatnya sejenak buat mengecek kedalam kamar Adiva. Dokter Sarah berjalan ke kamar Adiva sembari merapikan rambutnya. Semoga dia sedang tertidur pulas, harapnya.


Saat dokter Sarah masuk kedalam, alangkah terkejutnya sang dokter tatkala hanya melihat ada bi Sri yang sedang tertidur pulas diatas sofa. Dimana Adiva?

__ADS_1


Lantas dokter Sarah membangunkan bi Sri, lalu mereka berdua sama-sama mencari Adiva di semua ruangan dalam rumah.


Disisi lain Adiva tengah berusaha untuk duduk, mengambil bayinya yang masih penuh dengan darah. Adiva menangis pilu, mengapa kelahiran bayinya harus setragis ini. Adiva memeluk bayinya erat. Ari-ari bayi masih menempel di perut bayi itu. Bayinya laki-laki, tampan sekali mirip Alzam.


"Nak, mama melahirkanmu dengan begitu bersusah payah. Mama harap, kelak kamu bisa menjadi anak yang baik dan berguna bagi banyak orang. Kamu jangan kecewain mama ya nak?" harap Adiva lalu mengecup kening bayinya.


Adiva langsung dikagetkan dengan pintu kamar tamu yang terbuka karena didobrak dengan kencang oleh pak Nick.


"Nggak! Pergi kamu! Mau apa kamu kesini? Pergi! Jangan sakiti kami!" usir Adiva seraya melotot marah.


"Hahahahahaha."


"Apa kamu tidak punya belas kasihan kepada dua mahkluk yang lemah seperti kami? Pergi!"


Adiva melemparkan bantal-bantal berdarah itu kearah pak Nick. Namun pak Nick terus berjalan dengan tatapan dingin. Sambil memegang sebuah pisau yang akan ia gunakan untuk menghabisi Adiva beserta bayinya. Adiva pasrah saja kalau memang begini nasibnya. Melawan pak Nick sekarang, jelas dirinya tidak sanggup.


"Ucapkan selamat tinggal kepada dunia ini, wahai perempuan manis?" bisik pak Nick ditelinga Adiva.


Adiva memejamkan mata gemetar. Air matanya kembali tumpah. Pak Nick memainkan pisau itu lalu ia mulai bersiap menusuk Adiva.


"Hahahahaha."


Dengan tenaganya yang tersisa, Adiva punya ide cemerlang, Adiva langsung menendang super kencang burungnya pak Nick sampai pak Nick tersungkur. Lalu Adiva bangkit dan berusaha berjalan dengan membawa bayinya. Adiva berjalan dengan tergopoh-gopoh meraih pintu kamar. Suara erangan kesakitan pak Nick membahana dibelakangnya.


"Mau kemana kamu j*la*g ! Kembali! Aargh!"


"Aku harus kuat! Aku pasti bisa! Demi anakku!""


Adiva berjalan perlahan, darahnya berceceran di lantai marmer. Pak Nick bangkit dan terus membuntuti Adiva, namun langkahnya tidak bisa cepat seperti sebelumnya. Burungnya terasa lemas dan linu, menjalar hingga ke kaki karena tendangan kencang yang ia terima barusan.


Adiva berhasil meraih pintu depan lalu membukanya, sebuah tangan jahat menghentikan langkahnya, memegang kuat lengan Adiva dari belakang.  Pak Nick berhasil mendapatkan Adiva tapi Adiva langsung menjepit tangan pak Nick menggunakan pintu.


"Aaaaaa b*ngs*t! Sakit banget!"

__ADS_1


Adiva terus melangkah, namun langkahnya terhenti saat ia menoleh, melihat seorang perempuan malang yang terkapar penuh darah dengan wajah yang bonyok diatas lantai.


Bersambung...


__ADS_2