
"Iya kak, mama yang membunuh wanita yang saya cintai. Sama seperti dulu mama membunuh almarhumah istri kakak yang pertama," jawab Daffa semakin sesak.
Tak berselang lama Adiva datang menghampiri mereka dengan membawa tiga gelas teh manis hangat. Adiva menatap dua orang laki-laki yang tengah bersungkawa itu.
"Daffa kamu minum ini dulu ya? Kamu harus menenangkan diri kamu dulu,"
"Makasih Div,"
Daffa meminum teh manis yang dibikin oleh Adiva kemudian setelah meminumnya sampai habis, Daffa menaruh lagi diatas nampan.
"Kalau gitu kita ke rumah kamu sekarang ya. Kita semua harus mengikuti proses pemakaman istri kamu sampai tuntas. Dan semoga ibu kita yang jahat itu bisa segera tertangkap. Orang jahat seperti dia tidak pantes buat berkeliaran bebas diluaran sana. Tapi saya juga yakin, nyawa istri saya juga sedang berada dalam ancaman. Kita semua harus berhati-hati, mengerti?"
Daffa dan Adiva mengangguk setuju kemudian mereka bertiga melangkah bersama menuju mobil. Setelah sampai di rumah Daffa, sudah banyak orang yang datang untuk melayat. Banyak teman-teman Daffa dan teman-teman Amel yang datang melayat. Mereka semua bersedih terutama Daffa dan kedua orang tua Amel.
Bahkan ibunda Amel sedang pingsan karena shock parah melihat kematian tragis anaknya. Tak henti-hentinya ayah Amel mengutuk perbuatan mama Linda yang sangat kejam itu.
"Besan sinting! Besan gak waras! Besan setan! Besan pembunuh!" pekik ayah Amel di tengah-tengah kerumunan para pelayat, meratapi kematian anaknya.
Daffa, Alzam, dan Adiva duduk di samping ayah Amel, Adiva melihat jenazah Amel yang tertutup kain. Alzam menenangkan ayah Amel supaya bisa untuk lebih tabah. Tapi sepertinya, ayah Amel malah tidak menyukai kehadiran Alzam.
"Jahat kamu!" marah ayah Amel seraya menunjuk wajah Alzam.
"Maaf pak? Kok saya yang jahat ya? Salah saya apa?" tanya Alzam tidak mengerti.
"Jelas jahat, dulu kamu menolak perjodohan dengan anak saya! Bahkan kamu berbuat yang tidak sopan kepada dia, didepan rumah saya! Kamu pikir, saya lupa hah?!" ungkit ayah Amel.
Alzam menarik nafas sabar kemudian menggandeng tangan istrinya untuk keluar dulu sebentar. Tidak mungkin Alzam melawan orang yang sedang berduka seperti ayah Amel ini. Kemudian mereka berdua melangkah keluar dari ruangan tempat jenazah Amel sedang dikelilingi oleh orang-orang yang mengaji.
"Mau kemana kamu Alzam!" seru ayah Amel seperti mau mengamuk ke Alzam. Namun Daffa bergegas mencegah ayah Amel dengan memegangi beliau dengan kuat.
__ADS_1
"Sudahlah pah jangan menyalahkan orang yang tidak bersalah dalam situasi seperti ini," lirih Daffa menenangkan mertuanya.
Ayah Amel kembali menangis sedih lalu mengusap air matanya.
***
Alzam dan Adiva duduk diatas kursi yang berjejer di depan rumah. Mereka berdua juga ikut terpukul dengan kematian tragis Amel.
"Mas, kita gak bisa diam terus? Ibu kamu harus segera tertangkap. Dia berkeliaran diluar sana, kalau cuma sekedar kabur tanpa mencelakai orang lain sih itu bukan hal yang sangat besar, tapi ini, dia malah mencelakai bahkan tega menghabisi nyawa orang yang dia benci."
"Kamu benar sayang, sebaiknya kita pergi dari Jakarta dulu. Kita pergi dulu ke tempat yang jauh dan aman sampai ibu tertangkap."
"Tapi kemana ya mas?"
"Mas punya villa kayu besar yang terpencil di daerah hutan Surabaya. Kita bisa tinggal disana untuk sementara. Bersama beberapa bodyguard, pembantu, dan juga bersama baby W. Ibu belum tahu kalau aku punya villa disana,"
Setelah Amel selesai dimakamkan, Daffa duduk bersimpuh di samping makam Amel. Ini mengingatkan Alzam waktu dulu ketika Zahra meninggal karena dibunuh juga. Alzam menatap cemas kearah Adiva yang sedang berdiri sedih di sampingnya. Alzam cemas, takut Adiva mengalami nasib yang sama seperti Zahra dan Amel.
"Selamat jalan istriku, kamu pergi secepat ini bukan karena takdir kematian yang sudah saatnya untuk menjemputmu, tapi karena kejahatan orang yang sudah merenggut nyawamu. Semoga segala kesalahan kamu akan diampuni oleh Allah. Doaku akan selalu mengalir untuk kamu, istriku," harap Daffa sembari menabur bunga diatas kuburan Amel.
Sepasang kaki melangkah ditengah-tengah kerumunan orang yang sedang melayat pemakaman Amel. Dia memakai setelan pakaian berwarna hitam dan juga kacamata hitam.
"Harusnya saya yang ada disitu, di samping makam Amel," ucap laki-laki itu kemudian membuka kacamatanya, yang tidak lain tidak bukan adalah Alex. Melihat kedatangan Alex lantas Daffa jadi tersulut emosinya, kemudian memukuli wajah Alex berkali-kali didepan banyak orang. Tapi anehnya, Alex tidak mau membalas Daffa, seperti membiarkan Daffa memukuli sepuas hatinya.
"Gara-gara lu istri gua mati, bajingan!"
"Buuuug!"
Daffa semakin tersulut emosi, hatinya benar-benar sedang kacau. Beberapa orang bergegas memegangi Daffa dengan kuat supaya berhenti bertindak kekerasan kepada Alex.
__ADS_1
"Sabar Daffa!" pekik Alzam lalu menampar wajah Daffa.
Daffa menarik nafas dalam, wajahnya berubah warna menjadi merah. Itu menandakan kemarahan yang sangat kuat!
"Jangan salahin orang yang tidak bersalah disaat situasi seperti ini," ucap Alzam menirukan perkataan Daffa tadi saat masih berada di dalam rumah. Saat ayah Amel menyalahkan Alzam atas kematian Amel.
"Alex, buat apa kamu kesini! Kamu itu tidak ada sangkut pautnya sama Amel!" tanya Adiva melangkah kedepan Alex.
Alex menatap dalam wajah Adiva sembari mengusap darah yang mengalir di bibirnya.
"Aku hanya ingin melayat wanita yang aku cintai. Aku sudah lebih dulu ada dihatinya jauh sebelum laki-laki cengeng itu ada dihati Amel." jawab Alex membuat Daffa semakin berang.
"Bajingan lo! Berani ngatain gua hah!" teriak Daffa berusaha melepas pegangan kuat Alzam dan orang lain yang memeganginya. Daffa ingin sekali memukuli Alex kembali.
"Memang faktanya lu laki-laki cengeng, yang kekanak-kanakan. Bisanya cuma adu otot aja!" sahut Alex.
"Alex mendingan kamu pergi dari sini! Jangan membuat suasana disini jadi kacau! Lekas pergi atau aku akan menelpon polisi!" ancam Adiva.
"Beuh! Pengecut! Apa-apa polisi. Saya kesini niat baik-baik, hanya mau melayat wanita yang saya cintai saja. Tapi kehadiran saya malah disambut dengan kebencian seperti ini oleh kalian," kata Alex kemudian berbalik badan akan segera pergi dari pemakaman ini.
"Alex?" panggil Daffa.
Alex terkejut karena Daffa memanggilnya tapi tidak dengan panggilan marah. Alex berbalik badan lagi lalu mengangkat kedua bahunya.
"Kalau kamu datang kesini hanya untuk mendoakan istri saya silahkan saja. Tapi kalau kehadiran kamu kesini hanya untuk menunjukkan rasa cinta kamu kepada almarhumah istri saya jelas saja saya akan marah. Laki-laki mana yang terima melihat laki-laki lain menunjukkan rasa cinta kepada istrinya, didepan suaminya langsung," ucap Daffa belajar untuk lebih dewasa.
"Baik Daffa, terimakasih. Disini aku hanya akan mendoakan istri kamu, meski hatiku masih begitu mencintainya," ucap Alex kemudian melangkah ke sisi makam Amel.
Bersambung...
__ADS_1