MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Sekretaris Genit


__ADS_3

"Saya udah dibayar nyonya muda, jadi saya akan mengikuti nyonya muda kemana saja nyonya pergi. Kecuali didalam kelas dan juga didalam toilet. Yakali saya mengawasi nyonya pipis." tutur Bandi kekeuh.


"Ah yaudahlah, terserah lo!" marah Adiva masa bodo.


Adiva terus melangkah, rasanya sudah tidak tahan lagi ingin segera masuk kedalam kelas, supaya bodyguard ganteng yang rese itu tidak mengikutinya terus. Banyak anak-anak kuliahan yang melihati Adiva melangkah tapi diikuti oleh seorang bodyguard ganteng. Bukan masalah lebaynya, tapi orang-orang malah terpukau melihat ketampanan Bandi. Bandi jelas merasa cool dan percaya diri saat melintas didepan mereka semua. Tapi ada beberapa juga anak yang nyinyir.


"Ih, itu udah kaya anak kecil aja ya, dijagain bodyguard?"


"Iya, pasti dia lemah deh sehingga ia dijagain terus sama bodyguard. Disenggol dikit langsung mental deh keknya. Lihat aja, badannya aja cungkring seperti sapu lidi, rapuh seperti triplek pastinya."


"Betul tuh, makannya sampai diikutin sampai kampus. Teman-teman sepertinya anak lemah itu juga butuh dijagain kita, karena dia yang sangat lemah itu, pasti butuh penjagaan ekstra. Mungkin juga dia kena gizi buruk kan, lihat aja badannya yang kurus."


Suara-suara pembahasan keluar dari mulut anak-anak kampus, membicarakan Adiva yang terus diikuti oleh seorang bodyguard. Adiva sangat kesal sekali karena dirinya malah jadi tontonan banyak orang gara-gara sikap posesif pujaan hatinya. Adiva melirik tajam kearah anak-anak yang sedang bahas dirinya. Malah kena body shaming segala, tapi dirinya emang perlu menambah berat badan sih.


Lisa turun dari lantai dua datang menghampirinya di saat Adiva sedang menaiki tangga. Lisa terperangah melihat bodyguard kekar tampan yang sedang melangkah mengikuti Lisa.


"Adiva, siapa laki-laki itu? Kenapa dia terus mengikuti kamu?" kepo Lisa.


"Duh, males dibahas. Dia itu bodyguard yang disuruh suamiku buat terus ngawasin aku. Suamiku lebay banget deh, takut aku selingkuh lah, takut aku diperkosa lah, padahal aku masih bisa jaga diri aku sendiri Lis!"


"Ouh, sabar ya Div. Suami kamu sayang banget sama kamu. Harusnya kamu senang dong. Masalah ini biar aku yang urus, kamu sana masuk kedalam kelas. Bentar lagi kan jam pelajaran kamu."


"Wah seriusan nih? Yaudah kalau gitu big thanks for you my bestie Lisa, muach." ucap Adiva senang sembari tersenyum kepada Lisa.


Adiva berlari menaiki tangga dan Bandi akan segera Mengejarnya namun ia dicegat oleh Lisa. Dada kekarnya ditahan oleh Lisa lalu Lisa membuat Bandi menjadi terpojok di tembok samping tangga.


"Mau apa ya mbak?" tanya Bandi gemeteran.


"Wajahmu sangat menggairahkan aku mas. Rasanya aku ingin mencumbu dirimu di sini sekarang juga, aaah." genit Lisa.

__ADS_1


"Waduh, sepertinya cewek cantik ini elegan tapi agresif juga ya?" ucap Bandi membatin.


"Maaf mbak, tapi saya udah punya istri dirumah. Saya nggak mau mbak, jangan begini nanti dilihatin banyak orang mbak."


"Ah masa sih mas? Bener nih udah punya istri? Jangan-jangan istri kamu itu bantal guling ya, yang kamu peluk-pelukin tiap malam, ahhh angetin aku mas!" kata Lisa semakin genit, semakin nekat memeluk-meluk Bandi.


Aksi mesra yang berlebihan itu dilihat dan ketahuan oleh beberapa anak kuliahan yang melewati tangga. Tapi itulah yang Lisa harapkan demi kenyamanan sahabatnya agar tidak terus diikuti oleh bodyguard ganteng ini. Mereka berdua langsung ditegur oleh mereka kemudian digrebeg oleh mereka semua yang melihatnya.


"Woy, ngapain kalian disitu! Kalau mau pacaran saru bukan disini tempatnya! Ini tempat umum, jangan begitu! Itu tidak sopan!"


"Negara kita kan menjunjung tinggi budaya timur. Semua, bawa mereka ke ruang dekan!"


Kata anak-anak yang melihat mereka.


Dan akhirnya Lisa dan Bandi pun dibawa oleh mereka ke ruangan dekan. Berhasilah rencana Lisa, sangat girang ia dalam hatinya. Mereka akan diinterogasi karena sudah berbuat pelanggaran di kampus ini.


***


Alzam terus saja bengong hingga ia tidak sadar kalau ada orang yang sedang mengetuk pintu ruangannya.


"Permisi, pak Alzam? Apakah bapak didalam? Bolehkah saya masuk? Permisi?" ucap wanita itu namun gaya bicaranya seolah dibuat-buat seksi dan terus mengetuk pintu ruangan.


Alzam tersadar dari lamunannya karena suara dari wanita itu. Lalu Alzam menepuk tangan yang artinya adalah kode bagi orang-orang yang ingin masuk kedalam dan diizinkan untuk masuk. Wanita itu merapikan rambut blondenya terlebih dulu.


Alisnya terlihat seperti bulan sabit dan bagus tapi itu adalah alis buatan menggunakan pensil alis. Bibirnya seksi tapi juga hasil operasi plastik beberapa bulan yang lalu. Softlens biru juga ia kenakan. Wanita yang aslinya genit itu ingin selalu tampil prima dan sempurna didepan bosnya, yaitu tuan muda Alzam Pradipta. Lantas perempuan itu masuk kedalam ruangan.


"Sekretaris Dina? Ada apa?"


"Saya datang kesini cuma mau membawa minuman hangat saja nih untuk bapak CEO. Silahkan diminum ya pak?"

__ADS_1


"Oh bukan hal penting. Tapi makasih! Hmm, apa ada kerjaan yang harus saya selesaikan?"


"Sejauh ini belum pak, tapi nanti siang, bapak ada jadwal meeting dengan klien kita yang dari Dubai,"


"Baiklah, persiapkan semua keperluan meeting dengan baik. Kita harus selalu profesional kepada siapapun itu. Mengerti kamu?"


"Tidak bosan saya mendengar bapak untuk mengingatkan itu. Makasih ya pak? Oh iya, ngomong-ngomong, bapak kaya lagi galau ya? Apa bapak lagi ada masalah? Cerita sama saya, siapa tahu saya bisa kasih solusi buat bapak?"


Alzam menggeleng, dia tak mau menceritakan masalah pribadi kepada orang asing. Bahkan kepada keluarganya sendiri saja ia jarang menceritakan jika sedang ada masalah.


"Nggak ada apa-apa. Saya cuma lagi bosan aja dengan rutinitas harian saya yang selalu seperti ini. Sepertinya saya membutuhkan healing deh."


"Bapak mau healing kemana?"


"Saya mau healing kemana itu bukan urusan kamu, sekretaris Dina. Kok kamu kepo ya?"


"Emang gaboleh ya pak kalau saya kepo? Kan saya cuma nanya gini aja, hmm."


"Nggak tahu belum diatur. Tapi yang pasti saya mau healing bareng istri saya ke luar negeri. Keliling dunia. Urusan perusahaan biar orang kepercayaan saya saja yang mengurusnya."


"Saya diajak dong pak sekali-kali? Hehehe. Sekali-kali bapak kasih kesenangan yang wow dong buat para pegawainya."


"Saya hanya ingin liburan berdua sama istri saya, masa iya saya mengajak kamu. Memangnya kamu siapa sekretaris Dina! Lebih baik keluar dari ruangan saya! Kamu semakin lama semakin genit saja, mau saya pulangin kamu lagi ke desa kamu?"


"Hmm, ampun pak. Tolong jangan pecat saya ya? Kalau gitu saya permisi dulu pak," ucap sekertaris Dinda buru-buru keluar dari dalam ruangan.  Sekretaris Dina menutup pintunya kembali dan didepan pintu ia melotot kesal dan semakin berencana untuk merebut bos Alzam dari istrinya bos Alzam.


"Huft, ada-ada saja pegawai saya. Saya bukan tipe orang yang gampang digoda, apalagi sama sekertaris yang sok cantik seperti dia. Hanya istriku, orang yang jelas saya akan tergoda melihatnya dan menyanyanginya dengan sepenuh hati." batin Alzam sedikit kesal dengan sikap sekretarisnya itu.


Sebenarnya Alzam nggak ingin liburan sama sekali. Ia hanya mengarang cerita saja kepada sekretaris Dina. Alzam sama sekali tidak suka melihat orang yang kepo akan masalahnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2