
"Ah Alzam! Kamu ini jadi lembek setelah menikah dengan Zahra dan sekarang kembali menikah dengan gadis nggak bener ini tambah lembek. Mama rindu kamu sewaktu masih remaja. Kamu yang selalu sepaham dengan jalan pikiran mama. Mama jadi nggak mood buat makan. Mama mau ke kamar aja." ucap mama Linda malas yang kemudian bangkit dan pergi menuju kedalam kamarnya.
Didalam kamarnya mama Linda membanting pintu lalu duduk manja diatas kasur. Tidak mungkin ia biarkan Alzam terus menerus bersatu dan beromantis ria setiap hari dengan Adiva. Ia harus melakukan sesuatu agar Adiva segera enyah dari kehidupannya. Mama Linda ingin melakukan hal yang sama dengan apa yang dulu ia lakukan kepada Zahra, sampai Zahra kehilangan nyawanya, dan sekarang mama Linda ingin hal mengerikan itu juga terjadi kepada Adiva.
Mama Linda mencari buku telepon yang ia simpan didalam lemari. Mama Linda mencari nomor pembunuh bayaran yang dulu, yang ia juga simpan dalam buku itu. Saat mencari buku telepon itu, bersebelahan dengan buku diary milik Zahra.
"Ini dia buku telponnya. Aku akan langsung menghubungi nomor ini, dan Adiva, tunggu tanggal mainnya, hahahaha."
Mama Linda langsung memasukkan nomor telepon orang dengan profesi mengerikan itu ke dalam ponselnya. Lalu mama Linda mencoba chat nomor HP itu, sudah dua tahun berlalu mama Linda takut orang itu sudah berganti nomor HP, takut no ini sudah tidak aktif lagi.
Ternyata orang itu membalas chatnya.
"Hai, pembunuh bayaran? Apakah kamu masih hidup? Hahaha." ketik mama Linda dengan tatapan psiko.
"Gua masih hidup. Dan sekarang gua lagi pusing gimana caranya dapatin uang buat menyambung hidup. Selama ini gua bersembunyi didalam kabin kayu pribadi dalam sebuah hutan. Uang yang dulu lu kasih udah habis, sekarang gua minta, transfer uang lagi atau kejahatan lu akan gua bongkar kepada polisi."
"Santai pembunuh bayaran. Ada job baru buat kamu. Kamu pasti mau kan? Saya akan bayar kamu dua kali lipat dan kamu ga akan kekurangan uang lagi kalau kamu berhasil menghabisi nyawa orang ini."
"Siapa dia? Apakah dia seorang laki-laki, atau wanita?"
"Dia adalah seorang wanita. Dan dia lagi-lagi berstatus sebagai menantu saya. Lagi-lagi anak saya menikah dengan wanita yang bukan pilihan saya. Setidaknya kalau ia menikah, harus dengan wanita yang saya inginkan. Yang kaya, yang terlahir dari keluarga berdarah biru. Bukan keluarga gembel yang penuh dengan kuman menjijikkan."
"Apakah gua harus datang lagi kesitu? Atau pakai rencana baru saja?"
__ADS_1
"Rencana baru saja. Kamu pikirkan itu! Nanti saya akan suruh orang buat menjebak dia datang ke sebuah bangunan kosong yang masih dalam proses pembangunan saat malam hari. Nanti kamu keluar dan eksekusi dia disana, mengerti? Nanti saya kasih tahu dimana lokasi bangunan itu. Yang pasti jauh dari keramaian orang. "
"Mengerti bos. Oke kalau begitu terimakasih atas job barunya, semoga kali ini gua berhasil lagi dalam menjalankan perintah bos Linda, hahahahahaha."
"Oke, ditunggu kabar menyenangkannya ya."
Mama Linda menutup chat dengan pembunuh bayaran itu lalu ia tersenyum dengan liciknya, dengan aura psikopat nya, kalau Adiva mati hidupnya akan sangat lega sekali.
Keesokan harinya, mentari pagi kembali menyapa manusia, dengan kehangatannya, dengan sinarnya yang menyehatkan tulang belulang.
Adiva tengah berdiri bete dibawah sinar mentari pagi didepan rumah
Ia belum boleh berangkat ke kampus sebelum bodyguard yang Alzam panggil sudah datang ke rumah. Sedangkan Alzam masih menjaga Adiva disisinya.
"Tidak bisa! Kalau harus bareng bodyguard ya harus bareng bodyguard lah! Itu dia bodyguard kamu udah datang." tunjuk Alzam ke area depan gerbang dimana ada motor gede yang mulai melaju ke area depan rumah mama Linda. Lalu Alzam mengajak Adiva untuk menyapa bodyguard itu.
"Halo sob, selamat datang ya? Mulai hari ini juga kamu wajib jaga istriku. Tenang, soal bayaran mah bisa diatur." sapa Alzam kepada laki-laki kekar yang belum membuka helmnya itu.
Adiva merasa aneh dan bingung, kok sepertinya bodyguard yang dipanggil oleh Alzam ini seperti orang kaya ya. Parfumnya aja seperti beraroma mahal banget. Lalu pria itu membuka helmnya dan Adiva sangat-sangatlah terkejut saat melihatnya, ketampanan seorang lelaki yang amat sangat memukau pandangan.
"Gila, ini mah ganteng banget. Udah kaya artis luar negeri. Suamiku aja kalah ganteng." batin Adiva bermonolog, memuji ketampanan bodyguard itu.
"Siap tuan muda Alzam. Saya sebagai seorang bodyguard yang profesional siap menjalankan tugas dengan baik. Menjaga nyonya muda ini, mengawasi kemana saja dan dimana saja ia berada. Dan pastinya menjaga keselamatan nyawa nyonya muda." jawab bodyguard itu dengan sopan dan juga menatap penuh kharisma kearah Adiva.
__ADS_1
"Bagus. Saya tidak akan meragukan kamu Bandi. Kinerja kamu selama bekerja menjadi bodyguard dan menjaga salah satu kantor keluarga saya sangatlah keren dan patut untuk diapresiasi. Setiap ada orang berniat jahat yang datang ke kantor selalu bisa kamu atasi dengan sempurna. Dan kali ini kamu akan menjaga istri saya."
Alzam bergerak kesamping Bandi.
"Tolong awasi dengan detail kalau dia ketemuan sama laki-laki lain ya? Istri saya ini rada jelalatan orangnya,"" bisik Alzam dikuping bodyguard yang bernama Bandi itu, lalu Alzam melangkah sembari menarik singkat kerah kemejanya menuju mobil.
"Iih, dasar suami posesif! Pakai bilang aku genit segala!" geram Adiva dalam batinnya.
"Oke hari ini saya antar kamu naik motor saya, nyonya? Sebelumnya saya mau memperkenalkan diri dulu nama saya..."
"Udah tahu! Nama kamu Bandi kan! Yaudah ih buruan antar aku ke kampus. Udah mau telat nih gara-gara kelamaan nunggu kamu datang! Dasar bodyguard lemot!"
"Mari nyonya naik ke atas motor saya." ucap Bandi mempersilahkan.
Kemudian Adiva pun membonceng bodyguard tampan itu ke kampus. Setelah sampai di kampus, Adiva menyuruh Bandi untuk menunggu di depan kampus saja dan dilarang keras oleh Adiva untuk memasuki dan mengikutinya sampai area kampus, karena Adiva nggak mau ditertawai oleh yang lain.
"Tapi saya harus mengikuti kemana saja nyonya pergi. Tak terkecuali ke area kampus juga. Karena kejahatan itu bisa datang darimana saja nyonya, saya tidak mau mengecewakan tuan muda Alzam yang sudah membayar mahal saya nyonya."
"Iih, Bandi! Aku nggak mau kaya gitu! Emangnya aku ini anak kecil apa pakai diikutin sampai kedalam segala! Aku bilang kamu disini, ya disini!" marah Adiva lalu berbalik badan dan masuk kedalam kampus. Namun Adiva berhenti sejenak karena Bandi ternyata tetap nekat mengikutinya dari belakang.
"Ya Allah, ujian apalagi ini? Kenapa sih gini banget menikah sama mas Alzam. Aku tuh nggak punya selingkuhan jadi jangan ikuti aku sampai sini dong babang ganteng?!" seru Adiva sembari mengibaskan rambut pendeknya.
Bersambung...
__ADS_1