
"Huft boring... Boriiing banget sih disini! Cuma mas Alzam pemandangan yang enak dilihat mata. Gantengnya itu loh, pasti teman-teman aku akan merasa iri saat melihat wajah dia sebagain calon suamiku nanti." ujar Amel di dalam batinnya sembari sedikit tersenyum untuk membuang kebosanan yang mendera dirinya sekarang.
Setelah semua anak-anak jalanan itu kenyang dan sudah menghabiskan makanan yang diberikan oleh Alzam, Alzam mengeluarkan amplop yang berisi banyak sekali uang. Mata Amel seperti hijau dibuatnya.
"Alzam mengeluarkan banyak sekali uang hanya untuk anak-anak gembel itu? Ih buang-buang uang aja tahu nggak sih! Lebih baik uangnya dikasih ke aku, daripada dikasih ke mereka, keluarga bukan, sanak saudara bukan, teman juga bukan, heran sama kamu mas!" Amel kembali membatin, kalimat-kalimat yang ia ucapkan dihatinya jahat sekali.
"Adik-adik, saya bagi kalian ini ada uang jajan dan uang makan untuk kalian, oh iya, mulai minggu depan kakak berencana akan membawa seorang guru yang akan mengajari kalian banyak ilmu pengetahuan. Kalian akan belajar berhitung, menulis, bekal buat kalian di masa yang akan datang nanti. Kalian harus selalu semangat ya? Hargailah kehidupan kalian seburuk apapun kondisi kalian, Insya Allah selama saya masih hidup, saya akan selalu memantau perkembangan kalian, oke?" tutur Alzam membuat semangat anak-anak jalanan itu kembali membara, senyuman ceria terukir di wajah mereka, sungguh mulia sekali hati Alzam.
"Makasih kakak baik?" balas mereka semua kompak.
Semua anak-anak malang itu kembali memeluk erat Alzam. Kekayaan tidak membutakan hatinya sehingga membuatnya menjadi orang yang angkuh, menjadi orang yang tidak sudi berhubungan dengan kaum-kaum miskin, justru Alzam menggunakan kekayaan yang dititipkan oleh Allah kepadanya dengan sebaik-baiknya.
Sebenarnya dulu waktu masih remaja Alzam juga tipikal orang yang suka menghambur-hamburkan uang untuk hal yang kurang penting. Alzam sering datang ke bar, untuk bersenang-senang dan meminum alkohol bersama teman-temannya. Membelanjakan teman-teman wanitanya yang matre banyak barang-barang mahal hanya demi gengsi semata.
Alzam sering membeli barang-barang mahal, bergonta ganti motor baru setiap bulannya. Namun sejak mengenal Zahra, cinta pertamanya saat masa kuliah, Alzam perlahan mulai berubah karena kebaikan dan kelembutan hati almarhumah Zahra membuatnya penasaran dan juga jatuh cinta. Ternyata ada kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat untuknya. Yaitu ketika dirinya bisa berguna untuk orang lain.
Zahra perempuan yang sangat menghargai semua orang, baik kaya dan miskin, juga seorang perempuan yang pandai mengatur keuangan. Dari Zahra, Alzam belajar banyak sekali hal-hal yang baik.
"Ayo kita pulang? Pasti kamu udah sangat nggak betah ya berada disini?" ajak Alzam seraya mengulurkan tangannya kepada Amel yang masih duduk.
Amel meraih tangan Alzam kemudian bangkit berdiri. Amel ingin protes lagi kepada Alzam sebenarnya tapi dirinya berpikir, harus punya imej yang baik di depan Alzam, meski di belakang imej aslinya tidak seperti yang Alzam mau.
__ADS_1
"Cih, lain kali jangan ajak aku lagi ya ke tempat seperti ini? Aku tuh nggak terbiasa mas dan juga malas bertemu anak-anak yang nakal." pinta Amel masih saja memfitnah anak-anak jalanan itu.
"Ngapain juga aku mengajakmu datang lagi ke tempat ini, lagipula bertemu kamu lagi saja aku udah sangat malas. Lihat saja nanti Amel apa yang akan terjadi saat kita sudah sampai ke rumahmu." batin Alzam kemudian berjalan duluan masuk ke dalam mobil disusul oleh Amel.
Singkat waktu mereka sampai di rumah orang tua Amel. Bu Ratih, pak Wijaya, mama Linda, dan Daffa yang tampak bosan dengan obrolan orang tua masih setia menunggu kepulangan Alzam dan Amel di teras rumah.
"Nah itu dia mereka sudah pulang, wah wah wah sepertinya anak saya habis dibelanjaiin banyak nih sama anaknya jeng Linda?" ujar bu Ratih tampak senang saat melihat Amel turun dari mobil dengan membawa banyak sekali tas belanja.
"Iya dong jeng, anak saya mah royal. Siapa wanita yang menjadi istrinya adalah wanita yang paling beruntung. Makannya jeng, kita harus berusaha mempersatukan mereka berdua." sahut mama Linda dengan sangat bangga.
Amel dan Alzam bersama-sama menghampiri empat orang yang sedang duduk di teras rumah. Terasnya yang mereka jadikan tempat duduk tentu saja bukan teras biasa, melainkan teras yang terbuat dari batu alam yang amat indah dan menakjubkan.
Amel tersenyum senang karena ibu dan ayahnya tidak salah menjodohkan dirinya dengan laki-laki yang seperti Alzam. Namun Alzam tiba-tiba malah melempar tas-tas belanjaan Amel ke lantai.
Sontak saja semua orang yang berada disitu menjadi terkejut apalagi mama Linda.
"Alzam! Tidak sopan kamu ya! Mengapa kamu membanting tas belanjaan Amel? Kamu ini lagi kenapa sih nak?" tanya mama Linda nyalang.
"Mama! Aku nggak mau menikah sama perempuan matre dan sombong! Aku mau pulang, terimakasih atas jamuannya dan selamat sore semuanya." jawab Alzam padat dan jelas, kemudian Alzam pergi menuju mobilnya.
"Loh jeng Linda, apa-apaan ini? Kenapa anak cantik saya diperlakukan seperti ini sama anaknya jeng?" protes bu Ratih kesal.
__ADS_1
"Aduh, maafin anak saya yang jeng Ratih, nak Amel? Mungkin anak saya sedang ada masalah jadi pelampiasannya malah ke nak Amel. Daffa ayo kita pulang, kita harus interogasi dan tegur kakak kamu!" ajak mama Linda.
Daffa mengangguk kemudian berjalan duluan menyusul Alzam ke mobil.
"Sekali lagi saya mohon maaf ya jeng atas keabsurdan anak saya? Amel, semuanya, saya pamit dulu ya? Permisi?" lirih mama Linda dengan wajah kesal bercampur gugup.
Terlihat wajah jutek dari Amel, bu Ratih, dan pak Wijaya. Mereka bertiga memandang keluarga terhormat yang tengah melaju pergi dari rumah mereka. Mereka tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Alzam. Kalau bukan Alzam seorang CEO yang sangat ternama, sudah pasti pak Wijaya akan menghabisi Alzam saat ini juga.
"Kenapa sih anaknya jeng Linda ngatain kamu perempuan sombong nak? Emangnya kamu berbuat apa sayang?" tanya bu Ratih.
"Aku nggak berbuat apa-apa kok ma, aku cuma kesal aja dibawa ke tempat yang kumuh dan dipenuhi anak-anak gembel sama mas Alzam, makannya aku marah-marah disana, dan karena itu mas Alzam sekarang malah giniin aku ma?" rengek Amel.
"Kamu bodoh! Amel percuma kita berdua susah payah membesarkan kamu kalau ujung-ujungnya kamu jadi anak yang bodoh dan tidak berguna!" bentak pak Wijaya kemudian masuk ke dalam rumah, rasanya dia sangat emosi kepada Amel.
"Loh, papa kok malah ngatain aku bodoh sih!" teriak Amel sembari menatap nyalang papanya yang sedang berjalan kedalam rumah.
Bu Ratih menggenggam kuat tangan anaknya hingga Amel kaget dan langsung menoleh ke wajah ibunya.
"Apa yang dibilang sama papa kamu itu benar! Kamu itu bodoh, nggak pandai membangun imej yang baik di depan anaknya jeng Linda. Heh kamu tahu, anaknya jeng Linda itu CEO terkenal! Semua wanita ingin jadi pendamping hidupnya. Mama nggak akan biarin perjodohan kamu sama dia gagal! Itu nggak boleh terjadi!"
Amel terlihat gugup. Baru kali ini mamanya semarah itu, kepadanya.
__ADS_1