
"Amel, maafin kesalahan yang dulu aku lakuin sama kamu. Gara-gara itu hidup kamu menjadi hancur. Sekarang aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu disana. Aku juga akan menyerahkan diriku kepada polisi." ucap Alex mengejutkan semua orang dalam prosesi pemakaman itu.
"Apa maksudnya kamu mau menyerahkan diri kamu ke polisi? Memangnya, kamu punya kasus apa Lex?" tanya Alzam.
Alex menabur beberapa bunga diatas kuburan Amel yang masih basah itu, kemudian dengan gagahnya Alex kembali memasang kacamata hitamnya. Alex melangkah kedepan Alzam dan kemudian, Alex menceritakan perihal bisnis gelap yang selama ini ia sembunyikan.
"Saya adalah pimpinan dari sindikat perdagangan manusia. Sekarang," tutur Alex kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.
"Saya akan menghubungi polisi, meminta mereka untuk segera menangkap saya karena saya ingin mempertanggungjawabkan perbuatan kriminal saya dengan saya dihukum di penjara," lanjut Alex berkata.
Alzam mengangguk kemudian menepuk-nepuk bahu Alex. Alzam salut dengan keberanian Alex mempertanggungjawabkan perbuatan jahatnya dan akan menghentikan bisnis gelap yang selama ini ia pimpin.
Alex semata-mata melakukan ini selain karena sudah lelah hidup bergelimpangan dosa, Alex juga mengingat keinginan Amel yang dulu ingin sekali bisnis gelap Alex terbongkar. Sekarang Alex yang cinta mati sama Amel ingin mengabulkan keinginan Amel dengan menyerahkan dirinya kepada polisi.
***
Dua hari kemudian, Alzam dan Adiva tengah sibuk melakukan packing menuju kabin pribadi Alzam di hutan terpencil daerah Surabaya. Mereka sedang sibuk menata baju-baju di dalam koper.
"Berapa hari mas kita disana?"
"Sampai situasi aman sayang. Sampai mama berhasil ditangkap lagi sama polisi."
"Kerjaan kamu siapa yang handle? Aku gak enak sih kalau kamu kelamaan ga dateng ke kantor mas. Aku mengetahuinya kok,"
Alzam menghentikan packingnya sejenak lalu melihat serius kearah Adiva.
"Apa yang kamu ketahui?"
"Kinerja perusahaan kamu menurun sejak kamu hanya bekerja dari rumah. Kamu jarang presentasi dihadapan para partner bisnis perusahaan kamu. Perusahaan membutuhkan sosok hebatmu untuk mengangkat kembali kinerja perusahaan kamu mas."
Alzam berjalan beberapa langkah kedepan Adiva kemudian mengecup manis bibir istrinya.
__ADS_1
"Kamu dan anak kita jauh lebih penting dari perusahaan itu sayang. Aku ingin selalu menemani kamu, menjaga kamu, anak kita, tidak masalah kinerja perusahaan menurun, asal kamu dan anak aku baik-baik saja itu sudah cukup bagi aku."
Adiva mengangguk sembari tersenyum manis untuk Alzam. Lalu giliran Adiva yang mengecup mesra bibir Alzam.
"Tapi mas, menurut aku sebaiknya kamu jangan ikut dulu menemani aku dan Wildan pergi ke kabin kamu yang di Surabaya itu. Kamu nyusul saja nanti mas, perusahaan membutuhkan CEO yang hebat seperti kamu untuk segera terjun ke lapangan secara langsung. Selamatkan perusahaan kita dulu mas, banyak manusia yang akan kehilangan pekerjaannya jika perusahaan kamu sampai gulung tikar."
Alzam memikirkan matang-matang permintaan Adiva. Banyak orang yang bernaung di perusahaan kehilangan pekerjaan mereka jika kinerja perusahaan terus menurun gara-gara Alzam tidak langsung turun tangan di lapangan.
Tapi disisi lain, menjaga dan menemani Adiva selalu adalah hal yang ia prioritaskan sekarang. Alzam benar-benar dilema untuk menentukan pilihan mana yang akan ia pilih.
"Gimana mas? Kalau aku jadi kamu, jelas aku akan memilih menyelamatkan perusahaan keluarga dulu. Lagian, mama Linda juga nggak tahu kan dimana letak kabin kamu itu?"
"Baik, aku akan kembali bekerja di kantor. Sore ini, kamu akan pergi menuju kabin itu bersama sopir pribadi keluarga kita, dua pembantu kita, baby sitter yang membantu mengurus Wildan dan juga sepuluh bodyguard. InsyaAllah kamu akan aman disana," ucap Alzam menenangkan istrinya.
"Hm, semoga aja mas. Yaudah, aku mau lanjut packing dulu."
Selesai packing-packing manja Adiva dibantu dengan Alzam membawa kopernya menuju mobil. Alzam berpesan kepada semua orang yang ikut menemani Adiva nanti dalam tinggal di kabin untuk selalu berhati-hati dan sigap dalam menjaga Adiva. Jangan sampai Adiva dan bayinya kenapa-kenapa.
"Halo, Lis?"
"Adiva aku rindu! Aku boleh gak datang ke rumah kamu? Aku pengen lihat anak kamu. Udah sebulan terakhir aku fokus sama skripsi aku, sekarang adalah waktunya buat healing dan bersenang-senang."
"Ya boleh dong, tapi aku mau pergi nih sekarang."
"Pergi kemana?"
"Ke Surabaya Lis, aku bakalan tinggal di pelosok sampai waktu yang gak ditentukan,"
"Ngapain tinggal di pelosok? Suami kamu bakalan tugas disana kah?"
"Nggak. Kalau ketemu sekarang aku nggak bisa Lis,"
__ADS_1
"Adiva, hm, boleh nggak aku ikut kamu ke Surabaya? Aku bete nih, oh iya, si Bandi ikut kalian kesana nggak? Dia kan bodyguard kalian,"
Adiva senyum-senyum manja mendengar Lisa bertanya soal Bandi si bodyguard kelas atas dengan ketampanan diatas rata-rata itu.
"Apa sih nanya si Bandi? Dia ikut kok. Emangnya kenapa say?"
"Hm, kamu tahulah. Boleh ya aku ikut kamu ke Surabaya?"
"Bentar ya aku minta izin dulu ke mas Alzam?"
"Ah iya, makasih!"
Adiva keluar dari mobil kemudian menghampiri suaminya yang masih sibuk mewanti-wanti para pekerjanya. Bandi terlihat mengantuk saat mendengar Alzam terus berpidato mewanti-wanti mereka didepan. Alzam memang over protective, terlalu ribet, dan terlalu khawatiran jadi orang.
"Mas? Kamu lagi ngingetin mereka apa lagi rapat pleno sih? Aku mau ngomong sesuatu?"
"Apa?!"
"Lisa mau ikut aku ke Surabaya. Dia butuh healing setelah sebulan capek ngerjain skripsi. Apa kamu ngizinin kalau dia ikut?"
"Dia bisa dipercaya gak? Bukannya dulu kamu pernah cerita kalau dia itu hampir menusuk kamu waktu di kampus? Bahkan suka membully kamu dari dulu?"
"Tapi Lisa udah berubah mas. Kamu lihat, sekarang kita jadi bestie. Boleh ya mas? Biar aku gak kesepian di kabin?" rayu Adiva sembari memegang lembut tangan suaminya.
Melihat Adiva merengek seperti ini Alzam bisa apa? Sudah pasti Alzam akan luluh melihat istri manjanya yang merengek seperti ini. Alzam pun menyetujui kalau Lisa mau ikut pergi ke kabin pribadi Alzam.
"Oke sayang, selamat menempuh perjalanan. Kalian akan naik mobil kesana itu cukup memakan waktu. Jangan lupa kalau ketemu begal mending kalian tabrak aja! Jangan lupa juga jaga pola makan kalian ya dan,"
"Ah iya-iya mas, yaudah yuk kita masuk ke mobil kita masing-masing semuanya, mas aku dan baby W pergi dulu ya? Jaga diri kamu baik-baik disini?" titah Adiva kemudian memeluk hangat Alzam, dan setelah itu Adiva dan yang lain pun pergi naik mobil. Tanpa mereka sadari kalau sang mama mertua psikopat sedang mengintai mereka dari balik pagar rumah.
Bersambung...
__ADS_1