MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Rahasia Manis Menantu Pemberani


__ADS_3

"Oh enggak kok. Barusan yang telepon itu adalah dosen aku mas. Besok aku diundang ke acara ulang tahun dia, di sebuah cafe. Aku boleh kan datang?"


"Ya boleh lah, malah kalau besok malam mas tidak ada urusan yang penting di kantor, mas akan ikut datang ke acara ulang tahun dosen kamu. Pasti dia akan merasa tersanjung karena kehadiran saya."


"Aduh, kenapa jadi gini sih? Apa aku harus mengarang cerita lagi besok supaya mas Alzam nggak tahu apa yang sebenarnya aku rahasiakan. Oke, malam ini akan aku habiskan waktuku buat mengerjakan tugas kuliah dan juga mikirin gimana caranya buat pertemuan besok malam, ah ribet deh jadinya." Adiva kembali bermonolog dalam hatinya dengan sangat bingung.


Didalam kamar Daffa. Daffa dan Amel sama-sama sedang rebahan dan mereka berdua sama-sama belum memejamkan netra mereka masing-masing. Amel masih memikirkan soal kata-kata Alex soal dirinya yang kemungkinan akan hamil duluan karena dulu, pernah melakukan hubungan intim dengan Alex beberapa kali. Amel takut hamil, takut ada janin dalam kandungannya yang terjadi akibat kejadian fatal diluar nikah.


"Ssssttt... Sayang?" bisik Daffa dari samping.


Amel tidak sadar dan masih hanyut dalam lamunan kekhawatiran.


"Sayang?" panggil Daffa sedikit keras sehingga Amel baru sadar lalu menoleh ke samping.


"Ada apa?"


"Ayo kita lakuin malam pertama? Udah beberapa hari loh, apa kamu masih datang bulan?"


"Masih mas. Mungkin lusa baru bersih. Kamu yang sabar ya? Aku juga udah ga sabar kok, malam pertama sama kamu. "


"Setidaknya kalau bisa, kita melakukan pemanasan sekarang sayang? Tapi cuma sebatas pemanasan aja ya? Mau kan? Masa kamu tega sih biarin suami kamu buat tahan-tahan mulu." pinta Daffa penuh nafsu, mendekatkan wajahnya ke wajah Amel.


Amel tidak bisa berbuat banyak, dirinya pun akhirnya mau melakukan hubungan suami istri dengan Daffa, meski belum sampai ke tahap puncak.


***


Keesokan harinya, saat Amel sedang melangkah masuk kedalam mobil sebelum berangkat kuliah dan seperti biasa sang suami yang akan mengantarkannya, tiba-tiba ada mobil berwarna pink mahal yang ia sudah tidak asing lagi mobil itu adalah punya siapa. Mobil itu adalah punya teman kampusnya. Mobil itu adalah punya Lisa, musuh yang sekarang menjadi sahabatnya. Itulah kehidupan, terkadang dari sahabat bisa berakhir menjadi musuh. Dari musuh bisa kembali menjadi sahabat. Tidak tertebak.

__ADS_1


Amel sangat kaget saat melihat Lisa datang ke rumah mertuanya dengan membawa mobil. Sempat-sempatnya dia datang pagi-pagi kesini. Lisa menunggu didepan pagar, ingin masuk kedalam dan satpam penjaga segera membukakan pintu gerbang untuk Lisa masuk, setelah barusan pak satpam melihat Alzam memberikan kode yang membolehkan Lisa masuk kedalam.


"Hai... Adiva kamu cantik sekali hari ini?" puji Lisa seraya berlari manja kedepan Adiva.


"Ah bisa aja kamu beb. Kamu jauh lebih cantik dengan poni badaimu itu." balas Adiva memuji kecantikan Lisa.


Alzam tetap tampil coll dan diam di samping dua cewek-cewek cantik itu. Sembari membetulkan kerah kemeja CEOnya.


"Mas, aku pagi ini ke kampus sama Lisa aja ya, gausah kamu antar?" izin Adiva.


"Loh kenapa kamu pergi sama teman kamu? Kenapa ga sama saya aja, sebagai seorang suami, saya harus siap sedia mengantarkan istrinya pergi kemana aja kan?" tanya Alzam membuat Lisa ikutan klepek-klepek.


"Ya ampun beb, mau dong cariin satu gih yang kaya suami kamu ini?" kata Lisa terpana dan minta dicarikan jodoh.


"Hahahaha, ah kamu bisa aja beb. Sekali-kali lah mas, aku berangkat sama teman aku. Lagian kita berdua juga baru baikan kan setelah sekian lama kita dah kaya tom and Jerry aja selama ini, hehehehe." mohon Adiva berusaha terus merayu suaminya. Seraya memegang lembut lengan Alzam.


"Yaudah, tapi Lisa kamu jaga baik-baik istri saya ya? Nyetir yang benar dan jangan ugal-ugalan, mengerti?!" tukas Alzam mewanti-wanti.


Saat perjalanan menuju kampus, Lisa selalu menceritakan kalau selama ini ia berusaha mencari sahabat yang benar-benar sahabat. Apa arti persahabatan itu, yang sebenarnya adalah ketika sahabat yang satu sedang disapa suatu duka atau kemiskinan, maka sahabat sejatinya tidak akan pergi meninggalkannya begitu saja.


"Kamu percaya gak ada sahabat sejati, Adiva?"


"Tentu saja aku percaya, meski jumlahnya ga sebanyak yang kita kira mungkin?"


Lisa sekarang sudah menganggap Adiva sebagai sahabat sejatinya. Sekalipun nanti diantara mereka ada yang jatuh miskin, maka mereka akan tetap terikat dalam ikatan persahabatan. Tidak mungkin akan meninggalkan satu sama lain. Mereka tidak akan menjauh, apalagi meninggalkan sahabatnya yang kesusahan.


"Mulai sekarang kita janji ya Adiva? Kita akan selalu bersama, sebagai seorang sahabat. Selamanya?"

__ADS_1


"Iya Lisa. Aku ga menyangka kita akan jadi best friend seperti ini. Akan jadi teman yang akrab, sungguh aku sekarang merasakan kehidupan yang jauh lebih bahagia. Ya meski masih ada kesedihan-kesedihan besar yang aku alami saat ini, Lis."


"Kesedihan apa beb? Kamu kalau mau cerita ya silahkan aja. Kalau nggak yaudah, aku cuma bisa support kamu. Buat kamu, teruslah bangkit Div! Jangan sia-siakan kesempatan dan anugerah hidup yang udah diberikan oleh Allah. Selama ini aku udah menghabiskan waktuku buat membully orang lemah dan juga foya-foya. Dan ketika aku udah sadar, maka aku akan mulai belajar menjadi lebih baik lagi."


"Salut sama kamu Lisa."


Waktu terus berlalu. Hari-hari teruslah berlanjut. Umur semakin bertambah dan terus bertambah. Mual di pagi hari kembali dirasakan oleh Amel saat Amel sedang duduk mengoles selai dalam roti tawar, ketika sedang sarapan pagi bersama, tiba-tiba ia merasakan mual lagi. Amel berlari ke toilet untuk muntah dan lagil, Daffa mengejar Amel dengan penuh kepedulian.


"Sayang?" teriak Daffa mengejar.


"Amel kenapa sih, sepertinya hampir tiap pagi dia selalu muntah deh ma?" bingung Alzam.


"Mama tidak tahu lah, tapi yang mama tahu Amel kan punya penyakit asam lambung tuh, suka kumat saat habis bangun tidur sayang. Pasti Amel lagi mengalami itu, kasihan menantu kesayangan mama."


"Mama yakin? Atau jangan-jangan Amel sudah hamil kali?"


"Wah bagus dong, cepet amat langsung hamil! Yang pasti mama juga yakin, menantu kesayangan mama itu sakit dan dia harus segera mendapatkan perawatan. Aduh, my baby Amel."


Amel dan Daffa kembali lagi ke meja makan, Daffa menyuruh Amel untuk duduk lagi dan mengambilkan segelas air putih lalu meminumkannya kepada Amel.


"Amel, kamu kalau sakit ya ke rumah sakit aja. Nanti kalau sakit kamu bertambah parah gimana?" peduli Adiva.


"Aduh, udah deh! Kamu nggak usah sok peduli sama aku! Kamu senang kan lihat aku sakit kaya gini? Kamu iri kan karena hanya aku menantu yang selalu dimanja sama mama Linda?"


Tukas Amel emosi. Emosi Amel sebenarnya bukan cuma karena benci sama Adiva saja, tapi juga karena masalahnya dengan Alex.


"GUBRAAK!"

__ADS_1


Alzam menggebrak meja saat kepedulian istrinya dibalas dengan kemarahan oleh iparnya.


Bersambung


__ADS_2