
"Gawat nih, dia mau bunuh diri! Aku harus lakuin sesuatu! Aku ga boleh begitu aja biarin orang lain lakuin perbuatan gila seperti itu!" batin Alzam kemudian diam-diam ia mengikuti Jenna dari belakang.
Jenna terus melangkah hingga ia sampai di sebuah jembatan yang sepi, dimana dibagian bawah dari jembatan itu adalah sebuah sungai yang arus airnya sangat deras. Jenna menengok kesamping, melangkah ke sisi jembatan. Lantas Jenna menatap kebawah. Siapa yang masuk kesitu dan tidak bisa berenang bisa dipastikan dia akan mati tenggelam terbawa arus dan terbentur bebatuan sungai, dan Jenna sendiri tidak jago dalam urusan berenang.
"Ini adalah tempat yang sangat cocok buat aku lompat, selamat tinggal dunia yang fana." ucap Jenna seraya tersenyum mengamati aliran sungai itu.
Jenna bersiap akan melompat, sudah mulai mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu, sudah naik keatas besi-besi kecil disisi jembatan, lalu tiba-tiba Alzam memeluknya dari belakang dan menariknya sampai Jenna terjatuh diatas badan Alzam.
"Ya ampun, mas Alzam, lepasin!" teriak Jenna kaget.
Alzam pun langsung melepaskan Jenna. Alzam marah besar kepada Jenna. Mengapa dia nekat mau melakukan perbuatan yang bodoh seperti itu? Mereka berdua sekarang sama-sama terduduk diatas aspal, lalu Alzam bangkit duluan, diikuti Jenna yang ikutan bangkit dengan agak lemas sembari menangis. Lalu setelah itu mereka berdua berdiri di tepi jembatan.
"Kamu kalau ada masalah, sebagai tetangga yang baik, saya akan siap mendengar semua keluh kesahmu, ceritalah Jen?" tanya Alzam. Kehadirannya disisi Jenna, membuat Jenna merasa sangat nyaman. Jenna terus memandangi Alzam dengan durasi yang cukup lama, sampai Alzam membuyarkan pandangan Jenna itu sendiri.
"Hei?"
"Maaf mas Alzam. Adiva sungguh beruntung punya suami yang tampan dan baik hati sepertimu. Wajar saja jika dia terlalu over protektif sama kamu. Terlalu mencemburui kamu bahkan jika kamu hanya sedang berbicara dengan wanita lain sekalipun. Dan maaf, aku nggak akan menceritakan apa yang sedang aku alami kepadamu. Aku nggak mau Adiva lihat terus salah paham. Lagian kamu sendiri juga tahu kan permasalahan apa yang sedang aku hadapi, permisi mas?" jawab Jenna kemudian berlalu pergi.
Ternyata Jenna adalah orang yang tahu diri. Dia tidak mau memanfaatkan kesempatan ini buat dekat dengan Alzam. Alzam juga tidak ada maksud apapun melainkan hanya ingin membantu Jenna saja.
__ADS_1
"Kamu kalau butuh apa-apa, jangan sungkan untuk datang kerumah kami. Aku dan Adiva siap membantu kamu apapun yang kamu perlukan, Jenna?"
Jenna menolehkan wajahnya kepada Alzam sejenak lalu ia tersenyum dan mengangguk. Setelah itu, Alzam kembali ke rumahnya. Tetangga baru yang ia dapatkan itu nyatanya bukan orang yang baik, melainkan orang yang kejam dan predator seperti Pak Nick itu. Sebagai orang yang kuat dan berpengaruh Alzam bisa saja menghancurkan kehidupan pak Nick, dan akan ia lakukan tak lama lagi, tunggu saja waktunya!
Malam pun tiba. Alzam masih resah memikirkan nasib Jenna diluaran sana. Alzam sedang mikirin itu didekat jendela kaca seraya menatap kediaman pak Nick. Adiva melangkah dari belakang Alzam lalu menegur pelan suaminya.
"Kamu liatin rumah mereka? Ada apa mas? Apa terjadi keributan lagi disana?"
"Iya, aku lagi mikirin Jenna."
Mendengar jawaban itu raut wajah Adiva pun berubah menjadi raut wajah penuh dengan kecemburuan. Adiva diam saja lalu kembali keatas kasur. Adiva rebahan dengan perasaan yang bertambah badmood. Ngapain suaminya mikirin istri orang? Apa dia ingin membuat moodnya hancur disaat sedang mengandung seperti ini?
"Sayang, asal kamu tahu kalau selamanya aku akan setia sama kamu. Makasih ya atas rasa cemburumu," ucap Alzam dalam hatinya, sambil tersenyum manis tanpa sepengetahuan Adiva.
Tak disangka air mata sedang mengalir bening dari kedua mata Adiva. Adiva menangis tanpa sepengetahuan suaminya. Seandainya suaminya tahu, pasti Alzam akan merasa bersalah sekali dan langsung bersimpuh minta maaf kepada istrinya, telah membuat dia menangis, meski apa yang sedang Alzam lakukan itu juga hanya sedang mengetes kecemburuan Adiva saja.
Keesokan harinya, Adiva terlihat tidak hadir dalam sarapan bersama di meja makan. Adiva masih berada didalam kamarnya. Alzam yang hari ini akan kembali bekerja di perusahaannya merasa sedih dan juga merasa bersalah karena udah membuat istrinya menjadi salah paham.
Alzam melangkah ke kamarnya sembari merapikan kemejanya, lalu Alzam setelah sampai didepan pintu kamar mulai mengetuk pintunya.
__ADS_1
"Sayang? Ayo kita sarapan bareng? Kamu ini kenapa sih kok mendadak jadi murung begitu? Jangan ngambek dong, mas salah apa sama kamu sayang?" tanya Alzam pura-pura tidak tahu kecemburuan istrinya.
Adiva masih diam saja didalam kamar. Tidak menyahut ajakan Alzam sama sekali. Adiva sangat tidak bersemangat buat keluar dari dalam kamar, menyambut ajakan dari Alzam. Karena istrinya tidak kunjung keluar, Alzam pun masuk saja kedalam.
Kamar juga belum diberesin oleh Adiva, masih berantakan. Melihat hal itu jelas saja Alzam tidak ingin membuat mood Adiva jadi stress dan hancur terus. Ia harus menjelaskan soal apa yang udah ia lakukan, yaitu soal Alzam yang sengaja mengetes kecemburuan Adiva.
"Sayang, kamu marah sama mas? Kamu cemburu sama Jenna? Padahal saya sama dia tidak ada apa-apa loh. Masa kamu cemburu tak beralasan sih, sayang?"
"Masa sih? Aku melihatmu perhatian banget sama Jenna. Sampai-sampai masalah rumah tangganya aja kamu ikut turun tangan menenangkan dia. Padahal dia cuma sekedar tetangga loh, bahkan dia tetangga yang baru datang, apa kamu pikir aku tidak akan menaruh curiga jika kamu seperhatian itu kepada Jenna mas?"
"Saya hanya sedang berusaha mengetes kecemburuan kamu dan saya berhasil, yes! Yang artinya kamu itu benar-benar mencintaiku sayang?"
Adiva terhenyak mendengar jawaban dari Alzam itu, lantas Adiva mau menatap lagi wajah suaminya.
"Apaan sih mas nggak penting banget. Kamu ga perlu tes-tes kaya gitu segala udah pasti aku akan cemburu kalau kamu deket sama wanita lain. Begitu juga sebaliknya kan mas? Huaaaa." isak Adiva terharu dalam pelukan Alzam.
"Sekarang kok kamu jadi cengeng sih? Kalau gitu dulu kamu juga pernah bikin saya cemburu kan, hahahaha. Waktu kamu ketemuan sama seseorang yang ternyata dia adalah partner bisnis kamu, sekarang saya balas kamu, hehehe," tukas Alzam seraya mencubit hidung Adiva.
"Ih apaan sih mas! Tambah pesek deh akunya! Huft, sebel."
__ADS_1
𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙗𝙪𝙣𝙜