MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Bersembunyi Di Sebuah Tempat


__ADS_3

"Terus kita harus kemana? Gak mungkin kan aku pulang ke rumahku. Bisa-bisa anak dan menantuku jeblosin aku lagi ke dalam penjara. Aku kan udah janji sama mereka bahwa aku ingin jadi narapidana teladan, biar aku bisa dapat remisi." ucap mama Linda sembari duduk diatas rumput karena merasa lelah berdiri terus.


Bang Jaja dan pak Nick ikut duduk di samping mama Linda. Tampaknya mereka berdua sama-sama menyimpan rasa suka kepada wanita paruh baya itu. Di usianya yang sudah menginjak kepala lima, mama Linda masih tampak cantik dan awet muda. Hanya sedikit saja guratan penuaan di wajahnya.


Wajar saja, dari dulu mama Linda adalah wanita kaya raya yang rutin sekali melakukan perawatan dan juga olahraga.


"Emangnya kamu ditahan karena kasus apa sih? Kamu sepertinya orang kaya ya Linda?" tanya bang Jaja penasaran.


"Aku membunuh menantuku. Aku membunuhnya demi ambisiku menjodohkan anakku dengan pasangan yang sepadan. Yang sama-sama kaya raya, sama-sama berkelas, sama-sama terhormat. Bukan wanita gembel yang bisanya cuma malu-maluin aja," jawab mama Linda.


"Bodoh kamu, goblog! Hanya demi ambisi kamu, kamu rela ngorbanin diri kamu dengan resiko masuk penjara. Belum lagi keadilan yang menanti korban di akhirat nanti. Udah kaya raya, masih aja bego." nyinyir bang Jaja kepada mama Linda.


Mama Linda sontak saja berubah menjadi jutek kepada bang Jaja, tapi mama Linda tidak berani melawannya. Takut bang Jaja berbuat anarki kepadanya.


"Terus kita gimana?" tanya mama Linda meminta solusi dan malas berpikir lagi.


"Semuanya tenang, aku ingat aku punya rumah terbengkalai di tepi rel kereta. Mana di tempat itu sepi dan tidak ada perumahan lain. Polisi juga belum tahu tempat itu. Yang tahu rumah itu cuma aku dan anak buahku. Ayo kita kesana sekarang?" ajak bang Jaja bersemangat kemudian lekas berdiri dan berkacak pinggang.


Mama Linda dan pak Nick ikutan berdiri, secercah harapan kembali membuat mereka bersemangat.


"Tapi masalahnya jauh nggak kesana?" tanya mama Linda sembari menaikan salah satu alisnya.


Bang Jaja mengangguk.


"Mungkin besok baru sampai, cukup jauh dari sini. Yaudahlah buru! Mumpung masih malam suasana sepi. Jangan buang-buang waktu!" ajak bang Jaja lagi dengan nada bicara yang lebih keras.


Kemudian, mama Linda dan pak Nick mengikuti kemana langkah bang Jaja membawa mereka pergi. Hingga tiga jam kemudian, kaki mama Linda rasanya sudah sangat kram. Mama Linda minta istirahat sebentar di tepi sungai yang arusnya cukup deras.

__ADS_1


"Istirahat disini dulu," pinta mama Linda tidak tahan lagi.


Pak Nick mengambil air di sungai lalu membasuh wajahnya biar segeran dikit. Sedangkan bang Jaja, bang Jaja terus mengamati keadaan sekitar, takut ada orang yang lewat dan memergoki mereka sebagai tahanan yang kabur dari penjara.


Beberapa saat berselang benar saja, ada seorang bapak-bapak yang lewat dan datang ke sungai ini. Bang Jaja lekas mengajak mama Linda dan pak Nick buat bersembunyi. Mereka mencari tempat persembunyian yang menurut mereka aman. Bang Jaja melihat sebuah batu besar yang bisa mereka jadikan sebagai tempat persembunyian.


"Kita sembunyi disitu!" bisik bang Jaja sembari berjalan mengendap-endap menuju batu besar itu dan diikuti oleh dua orang lainnya. Mereka bertiga bersembunyi di balik batu besar itu, sama-sama panik karena takut orang itu memergoki mereka.


"Intip! Orang itu udah pergi apa belum!" titah mama Linda berbisik.


Bang Jaja yang penasaran segera mengintip, ternyata oh ternyata bapak-bapak itu sedang buang air besar diatas sungai. Bang Jaja melihat dengan jelas gimana prosesnya.


"Brengsek, itu orang malah lagi boker! Gua lihat apaan dah, bakal hilang nafsu makan gua nih!" ujar bang Jaja sembari mengusap wajahnya.


Mama Linda memutar bola mata malas, untung dirinya ga ikut ngintip barusan.


Pak Nick mengintip beberapa saat kemudian pak Nick mengangkat ibu jari, memberi tahu kepada bang Jaja dan mama Linda bahwa situasi sudah aman. Orang itu sudah pergi dari sungai. Akhirnya mereka bertiga bisa keluar dari tempat persembunyian mereka.


"Yaudah ayo buruan! Jangan lama-lama disini! Ntar ada orang dateng lagi buat boker, buruan!" paksa bang Jaja kepada mereka.


Mereka berdua kembali mengikuti kemana langkah bang Jaja membawa mereka pergi. Satu setengah jam kemudian, akhirnya mereka sampai di tepi rel kereta. Perut mama Linda rasanya sudah sangat keroncongan. Kerongkongan mama Linda rasanya juga sudah sangat kering.


"Bang Jaja berapa lama lagi sih kita sampai? Saya sudah haus sekali nih! Saya bisa mati karena dehidrasi ini!" keluh mama Linda sambil berjalan lesu.


"Berisik kamu! Itu rumahnya udah kelihatan." jawab bang Jaja seraya menunjuk sebuah rumah besar tapi tidak mewah.


Rumah sederhana yang bercat warna putih kusam karena sudah lama jarang diurus. Mereka bertiga tampak gembira, kemudian sama-sama melanjutkan langkah mereka menuju rumah ditepi rel kereta itu.

__ADS_1


Mereka bertiga masuk kedalam rumah itu, tidak ada penerangan listrik di rumah ini.


"Bau juga ya rumah ini, lampu mana?" tanya mama Linda ditengah kegelapan.


"Kamu tanya lampu mana ada disini! Rumah ini kan udah lama gak dihuni, otomatis listrik gak terbayar dalam waktu yang lama. Jadinya sekarang ga ada listrik disini!" marah bang Jaja kesal.


Mama Linda juga kesal kena marah mulu sampai-sampai kakinya kesandung kursi karena begitu gelapnya rumah ini. Sembari menunggu pagi datang, mama Linda menyempatkan waktu sebentar buat tidur, karena rasanya sudah lelah sekali. Mama Linda tidur diatas tikar yang lusuh. Esok pagi baru ia akan lihat-lihat isi dari rumah ini.


Keesokan harinya, mentari pagi kembali datang menyapa anak cucu Adam. Mama Linda terbangun dari tidurnya setelah merasa ada sesuatu yang menggigit jarinya.


"Aaaaa tikus! Tikus sialan!" pekik mama Linda sembari mengusir tikus itu pergi.


Wajahnya terkena terpaan sinar mentari pagi. Sebuah kaos dan celana lusuh bang Jaja lemparkan ke wajah mama Linda. Mama Linda sontak terkejut dengan apa yang dilakukan bang Jaja.


Mama Linda menguap lalu mengambil kaos dan celana yang bang Jaja lempar ke wajahnya itu, banyak debu yang kotor di kaos dan celana ini.


"Ih, jorok! Aku nggak sudi pakai ini!" pekik mama Linda seraya membuang muka kemudian menghempas pakaian itu ke lantai.


"Buruan pakai! Emangnya kamu mau selamanya pakai baju tahanan itu hah! Mau kamu ditangkap sama polisi!" desak bang Jaja marah.


"Ya gak mau sih,"


"Yaudah pakai!"


Mama Linda kembali mengambil pakaian itu kemudian lekas berganti pakaian di ruangan lain. Rasanya setelah memakai kaos dan celana yang dikasih bang Jaja ini, kulit mama Linda menjadi gatal-gatal. Rasanya tidak nyaman dan menderita. Mama Linda yakin pasti kaos dan celana ini sudah lama tidak dicuci.


"Duh gaenak banget hidup aku sekarang! Ya ampun gatel banget pakai baju gembel ini," keluh mama Linda seraya garukin badan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2