MAMA MERTUA JAHAT

MAMA MERTUA JAHAT
Ketika Mama Mertua Mati Kutu


__ADS_3

"Ya bodoamat lah! Kalau aku terus mempertahankan anak ini sampai dia lahir, sama aja aku menyiksa diri aku sendiri, bajingan! Biarin anak ini mati sebelum semuanya terlambat, bajingan!"


"Ibu macam apa kamu ini! Berani sekali kau akan membunuh anak kau sendiri! Dasar wanita tak punya hati, wanita iblis!"


Alex langsung memukul Amel sampai ia pingsan. Kemudian, Alex membawa Amel kebawah, ke mobilnya. Sampai malam datang, Amel belum juga pulang ke rumah. Keresahan dirasakan oleh Daffa yang sibuk menunggu Amel kembali didepan rumah. Padahal Daffa baru pulang kuliah juga, tugas kuliah selalu ada tambahan setiap hari sehingga akhir-akhir ini ia juga selalu pulang malam.


"Istriku pergi kemana sih? Ditelpon HPnya mati. Telpon kerumah mama papahnya katanya dia ga ada dirumah. Aduh, dimanakah kamu istriku?" bingung Daffa panik.


Daffa tidak akan tinggal diam disini terus, Daffa mengambil kunci mobilnya lalu pergi melaju mencari dimana Amel berada.


"Daffa mau pergi kemana?" ucap Adiva yang melihat dari arah pintu, lalu Adiva menutup kembali pintu depan rumah mama Linda.


Adiva mau kembali kedalam kamar dan ia berpas-pasan dengan mama mertuanya yang akan mengambil sebuah makanan lezat didalam kulkas.


"Mama?" sapa Adiva, selalu berusaha untuk ramah kepada mama mertua jahatnya.


"Gausah sok ramah deh kamu menantu kere! Ingat ya, kamu ga akan lama lagi tinggal dirumah ini! Saya pastikan kamu akan didepak dari rumah ini dan Alzam anak saya akan membenci kamu setengah mati!"


"Maksud mama apa sih? Mama mau fitnah aku? Kaya di sinetron-sinetron, kalau aku difitnah sama mama melakukan suatu kejahatan, sampai semua orang benci dan menghakimi aku? Padahal aku sendiri ga melakukan kejahatan itu?"


"Jangan asal bicara kamu ya! Saya akan mendepakmu dengan cara saya sendiri, yang tentunya cara saya akan jauh lebih cantik daripada cara-cara ala sinetron yang kamu bilang itu!"


"Terserah mama deh! Tapi mama mau melakukan cara apapun kalau takdir aku masih disini ya aku akan terus disini ma, yuhuu masuk kuping kiri keluar kuping kanan! Eoh, bye!" balas Adiva dengan gaya yang santai dan pede sekali.


Karena kesal melihat Adiva yang terus saja berani melawan dan bukannya malah takut, mama Linda melangkah kedepan Adiva lalu menginjak salah satu kaki Adiva dengan keras!


"Mama!" bentak Adiva kaget.

__ADS_1


"Kamu pantas dapatin itu, hah!" lanjut mama Linda jahat seraya meremas kaki Adiva menggunakan pijakan sepatu hak tinggi yang ia kenakan.


"Sakit kaki aku ma! Hentikan!" teriak Adiva memberontak lalu mendorong mama Linda didepan Alzam yang sedang berjalan menuruni anak tangga.


Alzam terdiam mematung melihat istrinya berani mendorong ibunya sampai hampir terjatuh.


"Adiva!" panggil Alzam keras.


Adiva yang sedang menatap kondisi kakinya yang habis diinjak jadi kaget, lalu melirik kearah tangga.


"Mas Alzam?" sahut Adiva.


Mama Linda pura-pura kesakitan didepan anaknya. Lagi-lagi ia mendapatkan momen yang sangat pas untuk melakukan drama ala buaya betina.


"Alzam tolongin mama nak? Istri kamu dorong mama, bahkan barusan dia menginjak kaki mama nak! Usir dia, si bar bar ini dari rumah kita!" urai mama Linda ngdrama.


"Alzam, usir istri kamu nak! Dia tak pantas berada di rumah ini. Jauh lebih pantas Zahra kakaknya. Adiva ini adalah iblis berwujud manusia nak. Kakaknya yang udah mati pasti sedih punya adik yang buas seperti dia! Buas kamu yah!" tekan mama Linda berusaha menghasut anaknya, lagi.


Alzam masih diam, belum akan berbicara apa-apa soal keributan yang sedang terjadi. Tapi sepertinya dilihat dari mimik wajah Alzam, kayaknya sedang marah besar kepada Adiva dan terus saja menatap Adiva dengan tatapan nyalang.


"Mas Alzam mau usir aku?" tanya Adiva pasrah juga kecewa.


Alzam tidak menjawab apa-apa.


"Jawab Alzam! Dia bertanya sama kamu, apakah kamu akan mengusir dia?! Buruan jawab!" desak mama Linda geregetan.


Alzam menggelengkan kepalanya dan lelah rasanya melihat drama yang selalu dilakukan oleh ibu kandungnya. Jadi ternyata, Alzam tak sedang marah kepada Adiva, melainkan marah kepada mamanya.

__ADS_1


"Mama habis ini mendingan berhenti ngedrama deh. Apa mama ga capek fitnah istri aku terus? Mama pikir, Alzam gak dengar waktu mama marah lalu menyiksa kaki istriku? Aku dengar ma dari tengah tangga tadi." ucap Alzam mengejutkan. Ternyata dia mengetahuinya!


Mama Linda mati kutu! Bingung mau ngomong apalagi. Bola matanya bergerak kesana kemari. Sedikit gemetar juga.


"Sayang, kita ke kamar aja yuk? Daripada disini melihat mama kita yang sedang kebingungan, bingung mau buat drama apalagi. Yang pasti almarhum papah sedih disana, melihat istrinya jadi tukang drama seperti sekarang ini. Yang jelas mama, aku akan tetap sayang sama mama dan semoga mama, mau berubah jadi lebih baik lagi." harap Alzam lalu menarik lembut tangan istrinya membawanya kedalam kamar.


Didalam kamar, Adiva dan Alzam sama-sama ketawa melihat sang mama yang barusan dibuat mati kutu olehnya.


"Mas, kamu setegas itu sama mama kamu. Yang aku tahu diluaran sana pasti ada yang takut alias hidup dibalik ketek mamanya. Bahkan tidak peduli kalau si istrinya ditindas sama mamanya. Tapi kamu beda mas, berani tegas tanpa bersikap berlebihan dalam tanda kutip durhaka sama mama kamu,"


"Ya, aku hanya ingin menjadi orang yang dicintai oleh banyak orang. Aku ingin menjadi sebaik-baik manusia. Sebaik-baik manusia adalah ketika dia yang berguna buat banyak orang, dan ditangisi kepergiannya saat dia berpulang. Dan yang pasti aku akan selalu berusaha untuk adil, adil kepada diriku, adil kepada dirimu, adil kepada mama aku, dan juga adil kepada semua orang. Manfaatkan hidup sebaik mungkin selagi kita masih bernyawa. Jangan belain orang jahat mau dia adalah ibu kita sendiri. Tapi sebagai seorang anak kita tetap wajib menyayangi dan menasehati beliau."


Adiva memeluk hangat suaminya, badannya begitu nyaman dijadikan sandaran untuk mendapatkan rasa yang nyaman. Ingin rasanya selalu seperti ini. Sangat bersyukur punya suami yang percaya, baik, bisa diandalkan, dan selalu memberikan kenyamanan yang berarti. Suami yang mendidiknya dan juga menjaganya selalu. Sungguh kebahagiaan seorang istri.


"Matikan lampu dong sayang?" bisik Alzam nakal.


"Uuh, pasti kamu mau minta jatah lagi ya buat malam ini?"


"Ya iya dong sayang. Suasananya sangat pas nih buat kita ehm!"


***


Disisi lain, kemelut cinta Amel dan Alex masih berlanjut. Amel tidak pulang dan ia kini berada dalam rumah Alex. Tubuhnya terbaring diatas kasur namun kedua tangannya diikat dengan kuat. Amel pelan membuka matanya sadar, lalu kaget saat melihat sekelilingnya adalah berupa ruangan yang seperti ia kenal. Sebuah kamar yang dulu pernah menjadi saksi hubungan terlarang yang terjadi diantara dirinya dan si laki-laki mafia bajingan, Alex!


"Ini kan kamar waktu itu! Kamar Alex!" pekik Amel kaget menatap sekeliling.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2