
Akhirnya sampai di rumah sakit. Arga langsung di periksa oleh Dokter dan Risya yang menunggu Arga yang juga ada di dalam dan melihat Arga yang di periksa.
"Pak Arga banyak bintik-bintik merahnya. Ini demam berdarah," ucap Dokter setelah memeriksa Arga.
"Lalu bagaimana keadaannya Dok?" tanya Risya.
"Tidak terlalu parah, demamnya karena mengalami demam berdarah. Nanti saya akan berikan obat agar bintik-bintiknya hilang," jawab Dokter.
"Batuknya bagaimana?" tanya Risya.
"Karena efek dari demamnya juga. Batuknya sebentar lagi pasti hilang. Jika rajin minum obatnya," jawan Dokter.
"Baiklah kalau begitu Dok," sahut Risya.
"Pak Arga sama Bu Risya jangan berhubungan intim dulu ya. Takutnya nanti DBD yang di alami pak Arga menular," ucap Dokter memberi peringatan.
"Issss siapa juga yang mau make in love dengan-nya," batin Risya yang kelihatan sangat sewot.
Namun Arga hanya diam. Ya hal itu memang tidak akan terjadi berhubungan dia dan istrinya sedang tidak baikan. Kalau di pikir-pikir itu sudah sangat lama dan pasti Arga sangat merindukan hal itu. Mungkin saja ini hukuman untuknya.
"Baiklah saya tulis resep obatnya," ucap Dokter yang langsung menuju mejanya untuk menulis resep obat. Risya dan Arga menunggu Dokter memberikan resep obat tersebut.
Setelah selesai berurusan di rumah sakit. Akhirnya mereka kembali pulang dan Risya yang menyetir tetap. Kondisi Arga masih sangat lemah dan sebentar-sebentar memijat kepalanya.
"Aku akan mengantarmu pulang langsung kerumah mama Salmah," ucap Risya sembari menyetir. Arga menoleh ke sampingnya dan tidak mengatakan apa-apa kepada Risya.
Risya sepertinya sudah tidak mau mengurus Arga dan menyerahkan Arga pada orang tua Arga.
Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt.
Ponsel Arga tiba-tiba berdering dan Arga langsing mengangkatnya.
"Ada apa mah?" tanya Arga di dalam panggilan telpon.
"Oh ya sudah mama dan papa hati-hati ya," ucap Arga di dalam telponnya, membuat Risya menoleh ke arah Arga yang mematikan telpon itu dengan wajah Risya penuh dengan penasaran.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Risya.
"Tidak ada. Mama dan papa tadi hanya menelpon kalau mereka mau ke Luar Negri. Ke acara teman papa," jawab Arga.
"Sudah pergi?" tanya Risya. Arga mengangguk.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sakit?" tanya Risya.
"Mama sama papa sudah di Bandara. Jadi percuma mengatakannya," jawab Arga.
Risya tidak bicara lagi. Dan Arga juga diam saja dengan wajah datarnya.
"Kenapa tidak belok? bukannya kamu mau mengantarku pulang?" tanya Arga.
"Tidak ada orang di sana. Kamu di rumahku saja. Nanti kalau mama dan papa pulang baru kamu pulang. Nanti ada apa-apa lagi kalau kamu di sana. Aku lagi yang di salahkan," ucap Risya yang dengan cepat mengubah keputusannya karena Arga tidak ada yang menemani.
"Oh begitu rupanya. Ya sudah," sahut Arga yang dari wajahnya sangat terlihat menahan senyumnya dan Risya sudah jelas khawatir pada Arga yang takut tidak ada merawat Arga. Karena pembantu pasti tidak bisa merawat Arga.
Sementara di bengkel Boy. Boy yang berdiri memegang layar ponselnya dengan wajahnya yang kebingungan.
"Matanya Arga picek ya. Apa dia tidak bisa melihat siapa yang menelpon memanggilku mama lagi. Atau jangan-jangan kontak nama di ponselnya bukan namaku. Tapi mama. Seenaknya bilang mama," oceh Boy dengan garuk-garuk kepala yang penuh dengan kebingungan.
**********
Arga dan Risya yang masih berada di jalan yang sekarang menunggu macet. Memang ini sudah jamnya macet jadi harus bersabar. Risya menoleh ke arah Arga yang mana Arga terlihat mengusap perutnya.
"Kamu lapar?" tanya Risya yang begitu peka. Arga menganggukkan kepalanya.
Risya melihat di sekelilingnya ada tidak jualan di sana. Karena sujujurnya dia juga lapar. Karena mereka belum sarapan sama sekali tadi.
"Aku cari sarapan sebentar," ucap Risya. Arga menganggukkan kepalanya dan Risya langsung keluar dari mobil yang buru-buru langsung mencari sarapan.
Arga tersenyum melihat Risya yang begitu baik kepada-nya, sangat perhatian dan takut dia sampai kenapa-kenapa. Arga mungkin harus lama-lama sembuh. Supaya bisa meluluhkan hati Risya yang sebenarnya sangat mudah luluh. Namun karena ini Maslaah yang tidak mudah. Makanya Risya sampai detik ini masih dingin kepada Arga. Itu artinya Arga harus lebih semangat lagi.
**************
__ADS_1
Akhirnya Arga dan Risya sama-sama sarapan di dalam mobil. Risya yang makan soto Betawi dengan begitu nikmat dan Arga hanya makan roti saja. Walau Arga beberapa kali menoleh ke arah Risya yang terus menelan salivanya yang begitu kepengen dengan apa yang di makan Risya.
"Apa tidak ada makanan lain selain ini?" keluh Arga.
"Kata Dokter tidak boleh makan yang bersantan, berminyak, nanti batuknya makin parah," jawab Risya dengan mulutnya yang tidak hentinya mengunyah.
"Ya kalau begitu, bisa memakan yang lain bubur gitu kan banyak," ucap Arga.
"Tidak ada jual bubur di sekitar sini dan lagian juga masih macet kamu makan apa adanya saja sebagai pengganjal," ucap Risya.
"Dari tadi lapar hanya di kasih ini. Kapan sembuhnya kalau kayak gini," cicit Arga dengan wajah kesalnya.
Risya tidak peduli dengan semua yang di keluhkan Arga. Perutnya juga perlu di isi dan masa bodo dengan Arga yang hanya pasrah di kasih roti.
**********
Setelah melewati macet yang cukup lama. Akhirnya Arga dan Risya sudah kembali sampai rumah Risya. Risya mengantar Arga untuk beristirahat di kamar sementara Risya yang langsung ke dapur untuk membuatkan Arga bubur. Karena tadi Arga hanya sarapan dengan roti dengan semua keluhan Arga dan pasti tidak mempan Roti itu membuat Risya harus membuatkan sarapan kembali untuk Arga.
Ini namanya sudah tidak sarapan lagi. Karena sudah jam 11 siang.
"Kayaknya rasanya sudah pas deh," ucap Risya setelah mencicipi apa yang masaknya. Setelah itu Risya langsung mengambil mangkok dan menuang ke dalam mangkok.
"Buat apa kamu Risya?" tanya Tantri yang memasuki dapur.
"Masak bubur," jawab Risya.
"Buat Arga?" tanya Tantri.
"Iya," jawan Risya.
"Lalu bagaimana kondisi Arga. Apa sudah membaik?" tanya Tantri.
"Secepatnya akan pulih dan Arga hanya demam berdarah," jawab Risya.
"Ohhh begitu," sahut Tantri.
__ADS_1
"Ya sudah Risya antar kekamar dulu buburnya," ucap Risya yang sudah selesai dalam pekerjaannya. Tantri hanya mengangguk dan Risya langsung pergi.
Bersambung