MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!

MANTAN? TAPI NIKAH YUK!!!
Episode 268 Mencurigai.


__ADS_3

Risya dan Syrala sudah berusaha sedemikian rupa untuk melakukan banyak hal. Risya dan Syrala sudah membongkar apa yang di lakukan Bram dan sudah memberitahu kepada Tasya. Namun ternyata Tasya tidak percaya dan dia hanya menganggap hal itu biasa saja.


Usaha yang di lakukan Risya hanya sia-sia saja dan membuat Risya kepikiran sampai tidak bisa tidur. Risya gelisah di dalam kamarnya yang berada di samping Arga.


Ternyata kegelisahan Risya mengganggu Arga membuat Arga terbangun dan menoleh ke samping. Istrinya itu belum tidur sama sekali yang membuat Arga menghela napas.


"Sayang ada apa? kenapa belum tidur?" tanya Arhan dengan heran pada Risya.


"Nggak bisa tidur," jawab Risya dengan manjanya.


Arga memasukkan tangannya ke bawah leher Risya dan membawa Risya kedalam pelukannya dengan Risya merangkul pinggang suaminya itu.


"Apa yang membuat kamu tidak bisa tidur?" tanya Arga.


"Banyak hal," jawab Risya.


"Salah satunya apa sayang?" tanya Arga.


"Sayang kenapa Tasya menganggap apa yang aku beritahu dengan Syarla itu tidak benar. Kenapa dia menganggap suaminya itu tidak bersalah dia malah menyuruh aku dan Syrala untuk tidak campur urusan dia dan menyuruh aku dan Syrala berhenti mencari tahu apapun," Risya mengadu kepada suaminya itu atas apa yang di alaminya yang membuatnya kepikiran dan tidak bisa tidur.


"Jadi itu yang membuat kamu sampai tidak tidur seperti ini?" tanya Arga dengan mengusap-usap pucuk kepala Risya.


"Bagaimana aku bisa tidur sayang. Kalau sudah seperti ini kejadiannya," jawab Risya.


"Sayang kamu dan Syrala sudah berusaha dan mungkin Tasya memang tidak ingin di bantu. Jadi sudahlah biarkan saja dia mau melakukan apa dan menanggapi bagaimana. Karena kamu juga tidak bisa memaksa Tasya untuk mencurigai suaminya," Arga hanya berusaha untuk tidak memikirkan apa yang di katakan istrinya.


Arga bukannya tidak peduli. Namun untuk mengurus rumah tangga orang lain. Arga merasa harus tau batasannya.


"Apa menurut kamu. Tasya itu sebenarnya sudah tau bagaimana kelakukan Bram dan makanya dia sesantai itu saat aku dan Syrala menunjukkan bukti itu. Dia hanya kaget biasa saja," ucap Risya yang menduga-duga.


"Banyak kemungkinan untuk hal itu sayang dan kita tidak tau bagaimana kemungkinan yang benar. Ya kita berdoa yang terbaik saja," sahut Arga.

__ADS_1


Risya diam yang tidak menanggapi apa yang di katakan suaminya itu lagi. Risya hanya menghela napasnya saja dengan berusaha untuk tidak terlalu fokus dan memikirkan hal itu.


"Sudah-sudah. Jika kamu terus memikirkan masalah Syarla dan Bram yang adanya kamu yang akan mengalami masalah. Kasihan juga anak kita yang masih bayi harus ikut-ikutan berpikir yang berada di dalam kandungan kamu. Jadi jangan memikirkan masalah itu," ucap Arga mengingatkan istrinya.


"Kita tidur saja. Kamu harus istrirahat," ucap Arga mencium kening Risya. Risya menganggukkan kepalanya. Arga memeluknya lebih erat lagi. Agar istrinya itu tertidur dan tidak memikirkan masalah tersebut.


********


Hari terus berlalu. Tasya dan Bram sudah lama tinggal di Jakarta. Tidak tau apa mereka akan kembali ke Luar Negri atau tidak sama sekali.


Bram berdiri di teras Apartemen dengan Bram yang menelpon yang terlihat sembunyi-sembunyi.


"Apa yang kamu bicarakan sayang. Aku pasti kangen kamu. Aku hanya belum ada waktu saja untuk bertemu kamu. Kamu tenang ya kita atur waktu untuk bertemu," ucap Bram yang bicara pelan-pelan pada seseorang yang di telponnya yang tidak tau siapa.


"Iya sayang aku juga mencintai kamu. I Love you," ucap Bram mencium layar ponsel itu.


"Mas!" tegur Tasya tiba-tiba yang membuat Bram kaget dengan mata Bram yang melotot dan langsung membalikkan tubuhnya dan panik melihat Tasya yang berdiri di belakangnya yang tidak tau sejak kapan. Tasya yang memegang secangkir kopi menatap suaminya itu penuh dengan curiga.


"Kamu menelpon siapa?" tanya Tasya.


"Ya ini siapa lagi. Kalau bukan telpon orang kantor," jawab Bram dengan terbata-bata seperti ada yang di sembunyikannya.


Namun Tasya terlihat tidak percaya dengan apa yang di katakan suaminya dan terus melihat suaminya itu.


"Kenapa melihatku seperti itu. Kamu tidak percaya," sahut Bram yang malah marah.


"Nih kamu lihat panggilan terakhir. Sekretaris ku Sinta!" tegas Bram menunjukkan layar ponsel itu tepat pada mata Tasya dan memang benar. Panggilan terakhirnya pada Sinta.


"Bisa-bisanya kamu itu mencurigai suami kamu sendiri," ucap Bram dengan kesal yang langsung duduk di sofa. Tasya menghela napasnya dan ikut duduk di samping suaminya. Memberikan kopi yang sejak tadi di buatnya pada suaminya dan Bram mengambilnya.


"Aku tidak marah mencurigai kamu mas. Aku hanya bertanya saja," ucap Tasya yang berusaha untuk tenang. Padahal sangat terlihat dari wajahnya. Jika Tasya sedang mencurigai suaminya.

__ADS_1


"Oh iya mas. Aku ada pekerjaan di Luar Negri. Jadi sebaiknya kita kembali ke Luar Negri untuk beberapa hari kedepan," ucap Tasya yang menyampaikan keinginannya.


"Maksud kamu aku juga ikut?" tanya Bram. Tasya menganggukkan kepalanya.


"Tasya pekerjaan ku juga banyak di Jakarta dan bukan hanya pekerja kamu yang mau di urusin. Jadi kalau aku pergi ke Luar Negri untuk mengurus pekerjaan kamu. Lalu bagaimana dengan pekerjaan ku," ucap Bram yang sepertinya menolak tawaran Tasya untuk kembali ke Luar Negri.


"Bukannya aku lihat-lihat mas itu santai-santai saja ya di sini. Mas juga terlihat tidak terlalu sibuk bekerja," ucap Tasya yang membuat Bram melihat serius ke arah Tasya.


"Jadi maksud kamu selama ini aku hanya main-main saja begitu dan kamu yang bekerja," sahut Bram yang mulai tersinggung.


"Aku tidak mengatakan itu mas. Aku hanya bicara apa adanya saja," jawab Tasya.


"Kamu itu kenapa sih Tasya. Selalu cari ribut saja denganku. Kamu itu memang hobinya ribut ya," ucap Bram kesal.


"Aku tidak mau ribut mas. Aku hanya mengajak kamu untuk kembali ke Luar Negri," jawan Tasya.


"Tapi aku tidak bisa. Jadi kalau kamu ingin pergi untuk mengurus pekerjaanmu. Maka urus saja. Kamu pergi dan bawa anak kamu itu sudah selesai dan nanti jika pekerjaanku senggang aku akan menyusul kamu ke Luar Negri," tegas Bram.


Tasya hanya diam saja dengan pendapat suaminya yang tidak sesuai dengan ekspektasi.


"Sudahlah aku pergi dulu. Aku pusing dengan kamu yang pasti ujung-ujungnya kita akan ribut," ucap Bram yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan bahkan tidak menghabiskan kopinya.


"Dulu sebelum kita menikah kamu selalu mengatakan. Jika kita akan bersama-sama. Mau di manapun itu. Tapi kenapa sekarang kamu malah membiarkan ku pergi sendirian," ucap Tasya yang kembali senduh dengan mendapatkan tanggapan dari suaminya yang sama sekali tidak berusaha untuk dirinya.


"Sudahlah Tasya mungkin saja memang benar jika pekerjaan mas Bram sangat banyak dan kamu tidak bisa melakukan apa-apa," Tasya masih berusaha untuk berpikiran positif pada suaminya itu.


************


Sementara Bram yang sekarang memasuki mobilnya menghela napasnya dan melihat ke arah gedung Apartemen tersebut.


"Ini yang di namakan mendapat durian runtuh. Pergi saja kamu ke Luar Negri. Jadi aku bisa senang-senang bersama Maya," gumam Bram yang ternyata tidak ingin ikut karena sedang berencana untuk bersama kekasih gelapnya atau selingkuhannya. Bram menyunggingkan senyumnya dan langsung melajukan mobilnya yang penuh dengan kesenangan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2